Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Petani Dituntut Menggunakan Teknologi dalam Mengolah Pertanian

Dodo Rihanto
Sejumlah alat mesin pertanian (Alsintan) bantuan Kementerian Pertanian berjajar di areal persawahan sebelum diserahkan kepada para petani Karawang.
Sejumlah alat mesin pertanian (Alsintan) bantuan Kementerian Pertanian berjajar di areal persawahan sebelum diserahkan kepada para petani Karawang.

KARAWANG, (PR).- Para pelaku pertanian menargetkan Indonesia menjadi negara lumbung pangan dunia pada 2045. Guna meraih target tersebut, pola pengolahan pertanian di Indonesia harus berubah dari manual menjadi pengolahan berbasis teknologi.

Kepala Balai Besar Peramalan Hama Jatisari, Tri Susetyo, dalam acara penyerahan bantuan puluhan alat mesin pertanian (alsintan) kepada sejumlah petani Karawang, di Karawang Timur, Selasa 16 Oktober 2018. Dalam kesempatan itu, Tri datang mewakili Menteri Pertanian yang berhalangan hadir.

Menurut Tri Susetyo, saat ini pemerintah tidak hanya menyuruh para petani untuk menanam. Namun mulai mengajarkan para petani agar menegrti teknologi. Petani diminta menggunakan peralatan moderen dalam bercocok tanam.

"Selain mendorong penggunaan mesin pertanian, kami juga terus menerus menyalurkan bantuan alsintan kepada para petani," kata Tri.

Menurutnya, penggunaan teknologi pertanian harus dilakukan mulai dari sekarang. Dengan demikian, pada 2045 nanti, semua petani di Indonesia dapat mengolah lahan pertaniannya secara moderen.

Tri meyakini, melalui penggunaan teknologi hasil pertanian akan meningkat. Selain itu, waktu penanaman hingga panen bisa dipersingkat.

Menurut Tri, hingga saat ini, Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan alsintan sebanyak 4.021 di Jawa Barat. Para petani pun sudah terbiasa menggunakan alat-alat modern tersebut.

"Pada kesempatan ini ada 93 unit alsintan disalurkan Kementerian Pertanian kepada puluhan kelompok tani di Karawang. Untuk sementara masing-masing kelompok baru mendapat satu unit alsintan," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Karawang, Hanafi Chaniago, mengatakan bantuan 93 unit alsintan itu berupa 2 unit traktor roda empat, 40 traktor roda dua, 10 handsprayer (alat semprot hama elektrik), 3 unit power thresher (alat perontok padi) 3 unit, 2 unit kultivator (alat pembalik tanah), dan sisanya mesin pompa air berbagai ukuran.

Sementara itu, Bupati Cellica Nurrachadiana mengatakan, bantuan dari Kementan tersebut merupakan usulan dari para petani untuk membantu meningkatkan produksi pertaniannya.

"Bantuan ini menandakan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian memberikan perhatian khusus kepada petani Karawang," kata Cellica.

Lumbung pangan nasional



Menurutnya, produksi padi di Karawang mencapai 1,3 juta ton per tahun. Gabah sebanyak itu dihasilkan dari 97 ribu hektare sawah yang masih tersisa di Kabupaten Karawang.

"Dari 1,3 juta ton gabah, dihasilkan lebih kurang 800 ribu ton beras. Padahal kebutuhan konsumsi beras masyarakat Karawang hanya 300 ribu ton," kata Cellica.

Sisanya, lanjut dia, dikirim ke luar daerah untuk membantu kebutuhan beras Jawa Barat dan Nasional.

"Itulah sebabnya julukan Karawang sebagai lumbung pangan nasional masih melekat hingga saat ini," kata Cellica.

Dijelaskan juga, hingga sekarang Pemkab Karawang masih berkomitmen untuk menjaga lahan pertanian yang ada. Komitmen itu dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

"Hingga tahun 2030, hanya 10 ribu hektare sawah yang boleh dialihfungsikan," ucapnya.***

 

Bagikan: