Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 30.7 ° C

Perjalanan Kesenian Topeng Cisalak, Cikal Bakal Topeng Betawi

Bambang Arifianto
ANDI Supardi (58), memperlihatkan topeng Cisalak di kediamannya di Jalan Gadog Raya, Gang Melati No 1, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Selasa 18 Selasa 2018. Grup Topeng Cisalak masih bertahan kendati perhatian Pemkot Depok terbilang minim.*
ANDI Supardi (58), memperlihatkan topeng Cisalak di kediamannya di Jalan Gadog Raya, Gang Melati No 1, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Selasa 18 Selasa 2018. Grup Topeng Cisalak masih bertahan kendati perhatian Pemkot Depok terbilang minim.*

TOPENG Cisalak, kesenian yang memadukan tari, musik, komedi itu masih bertahan di Kota Depok. Kesenian rakyat yang lahir di Kampung Cisalak, Depok tersebut telah melahirkan seniman terkenal seperti Bokir, Mandra, Mastur, Omas. Namun, penampilan grup seni di tepian Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jakarta itu justru minim perhatian dari Pemerintah Kota Depok. Buktinya, grup Topeng Cisalak  lebih banyak tampil dan diundang pentas di Jakarta ketimbang wilayah Jawa Barat. Pikiran Rakyat mencoba menelusuri eksistensi grup kesenian yang telah lahir pada 1918 dan menjadi cikal bakal kesenian Topeng Betawi.

Papan kecil bertuliskan Sanggar Tari & Musik Topeng Kinang menempel di sisi kanan rumah yang berlokasi di Jalan Gadog Raya, Gang Melati No 51, RT 03 RW 07, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Minggu 16 September 2018. Rumah tersebut terkepung bangunan-bangunan pemukiman padat warga. Di sisi kiri bagian belakang rumah terlihat panggung mini dengan berbagai kain warna warni bergelantungan pada tiang-tiangnya. Beberapa topeng juga tergeletak di sana. Aroma kesenian begitu lekat di rumah yang berfungsi sebagai sanggar Topeng Kinang. Selain beragam atribut pertunjukan, deretan foto saat pegiat sanggar mentas turut terlihat.

Topeng Kinang menjadi grup kesenian tua yang masih bertahan di Kota Depok. Warga lebih mengenalnya dengan nama Topeng Cisalak. Penamaan tersebut muncul karena Topeng Kinang lahir di Kampung Cisalak. Andi Supardi (58), pegiat Topeng Cisalak menuturkan, grup kesenian itu lahir pada 1918. Andi adalah generasi ketiga keturunan pendiri Topeng Cisalak. Kakek neneknya, masing-masing Dji'un bin Dorak dan Kinang merupakan pendiri grup kesenian rakyat tersebut.

Kinang adalah perempuan asal Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur yang menikah dengan Djiun, pria dari Klender, Jakarta Timur. Pasangan seniman itu menikah pada sekitar 1915. Djiun dikenal sebagai seniman petualang di Pasar Banten. Sedangkan Kinang memiliki darah seni dari orang tuanya yang merupakan seniman kesenian Ubrug di Kalisari. Andi menuturkan, pernikahan tersebut melahirkan  putra dan putri yakni Bokir Dji'un, Dalih Dji'un, Naih Dji'un, Limah dan Lipah  binti Dji'un. Keluarga Dji'un kemudian mendirikan Tari Topeng Kinang setelah pindah ke Cisalak.

Pada 1922, anak-anak keluarga Dji'un mulai beranjak dewasa dan turut dalam pementasan Topeng Cisalak. "Sampai 1933-1945 di zaman pendiri,  mereka sudah main kampung ke kampung," ucapnya.

Grup tersebut tersohor di pinggiran Jakarta. Andi mengatakan, Topeng Cisalak kebanjiran undangan manggung saat warga panen, syawalan atau sehabis Lebaran, hajatan sunatan atau nikahan. Terkadang, mereka juga manggung dari pintu ke pintu rumah warga di momen hari besar Tionghoa. Bila tak sepi undangan manggung, keluarga Dji'un kembali turun bertani di Cisalak yang saat itu masih berupa hutan.

Andi mengungkapkan, Topeng Cisalak  memiliki sentuhan unsur seni Jawa Barat kendati kental budaya Betawi. Seperti dalam tarian yang lebih dominan pada gerak bahu khas kesenian Jabar. Meski demikan, unsur Betawi masih melekat berupa gerak badan si penari yang condong ke depan. "Pakaian (penari) lebih tertutup," ucap Andi.

Sementara karakter topeng yang dikenakan penari terpengaruh kesenian Topeng Cirebon. Akan tetapi, lanjutnya, dua kesenian topeng tersebut tetap memiliki perbedaan. "Karakter (Topeng Cisalak) lebih sederhana, enggak banyak ornamen dengan pernah pernik," kata Andi.

Setiap topeng juga memiliki warna-warna dan makna yang berbeda. Dalam tarian topeng tunggal yang dibawakan penari perempuan, terdapat tiga karakter kedok yakni Samba, Panji dan Kelana. "Samba warna topengnya merah jambu, panji warnanya putih dan kelana jingga atau merah," ucap Andi. Samba, tuturnya, mewakili karakter kegenitan perempuan. Sedangkan Panji dan Kelana mewakili kelembutan dan kekekerasan atau arogansi kaum hawa.

Pertunjukan



Lalu bagaimana jalannya pertunjukan Topeng Cisalak? Andi mengatakan, kesenian itu biasa dimulai selepas adzan Isya hingga dini hari. Pertunjukan dibuka dari penampilan instrumen musik tatalu hingga lantunan lagu. Alat musik yang dipakai adalah kendang, kenong, kerenceng, kecrek, rebab, gendang, kempul. Selanjutnya, pertunjukan memasuki segmen tari. "Ada tari topeng tunggal, gegot, kang aji," ucap Andi.

Tak hanya musik dan tari, Tari Topeng memiliki segmen bodoran atau lipet gandes dengan cerita-cerita yang paling dikenal adalah doblang dan bodo pinter. Menjelang subuh, penonton pun semakin berkurang. Momen tersebut dimanfaatkan seniman Tari Topeng dengan menampilkan lakon bodoran terakhir dengan cerita terkenal Betawi, Bapak Jantuk. Guyonan lakon yang di masa lalu kerap dibawakan Bokir itu membuat penonton yang terkantuk kembali segar kembali. 

Andi menambahkan, para seniman Cisalak tampil dalam kesederhanaan di masa lalu. Mereka mentas langsung dengan beralaskan tanah. Pencahayaan pun mengandalkan oncor atau obor dengan atap seadanya dari tiang-tiang bambu. Kondisi tersebut berbeda dengan saat ini. Penampil bisa mentas di atas panggung dengan perlengkapan yang lebih modern. Perbedaan lain terlihat dari jumlah anggota grup. ‎ "Kalau di zaman sekarang sekitar 30-an," ucapnya.

Mereka berbagi tugas sebagai penari, pemain alat musik hingga pemain lakon bodoran. Pada masa silam, jumlah pemain yang terlibat lebih sedikit. "Kurang dari 20-30," ujar Andi. Selain sedikit, para pementas tersebut harus multifungsi atau memiliki kemampuan bodoran, lawakan, sekaligus menari.

Hingga kini, Topeng Cisalak masih bertahan kendati perhatian Pemkot Depok terbilang minim. Andi tak menampik, grup Topeng Kinang sempat beberapa kali diundang tampil oleh Pemkot Depok. Namun, undangan justru lebih banyak datang dari Pemerintah Provinsi Jakarta.

"Lebih banyak kegiata di Jakarta ketimbang di Depok. Grup tersebut lebih populer di wilayah yang bukan lokasi  kelahirannya di Depok dan Jabar. Bahkan pegiat Topeng Cisalak lebih banyak menggelar  latihan di Situ Babakan, Jakarta Selatan. Mereka juga tampil dalam acara kesenian Asian Games 2018 serta mendapat undangan mentas kegiatan jamuan makan Gubernur Jakarta di balai kota.

Padahal, eksistensi Topek Cisalak tak sembarang. Seniman dan komedian beken lahir dari kampung di pinggiran Jawa Barat yang berbatasan dengan Jakarta tersebut. Andi mengungkapkan, Bokir, komedian legendaris adalah salah satu penerus Topeng Cisalak. Saudara Bokir, Naih pun sama. Naih, tutur Andi, dikenal karena keahliannya menjadi dalang wayang golek. Anak-anak Naih, yakni Mandra, Mastur dan Omas mewarisi darah seni sang ayah sebagai komedian.

Sementara Andi sebagai penerus Topeng Kinang Cisalak merupakan anak dari puteri Djiun bernama Lipah. Selanjutnya, grup Topeng Cisalak berkembang ke luar Depok. Bokir yang pindah ke Kelurahan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur mendirikan grup topeng Betawi Setia Warga. Sementara Kisam membuat grup topeng serupa bernama Ratna Sari di Ciracas, Jakarta Timur.

Perhatian



Sementara itu, ‎ Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok Wijayanto membantah Pemkot mengabaikan Topeng Cisalak. "Kita perkenalkan kok di Depok. Sudah koordinasi dengan kita," kata Wijayanto dalam pesan singkatnya, Selasa 18 September 2018 siang.

Upaya memperkenalkan dan melestarikannya dilakukan pada kegiatan festival budaya. Wijayanto menyatakan, Topeng Cisalak tetap harus dilestarikan. ‎ Ada atau tidaknya perhatian pemerintah, grup kesenian rakyat itu masih bertahan dan barangkali kelak bakal berakhir hanya sekadar cerita masa lalu dengan wujud kesenian yang telah lenyap.***

Bagikan: