Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Menelisik Sentra Kapal Nelayan di Indramayu

KAPAL-kapal nelayan Indramayu sudah canggih. Bukan hanya desain kapal dan model jaring yang selalu inovatif, melainkan juga sudah dilengkapi radio komunikasi, radar pencari ikan, dan kamar pendingin ikan.*
KAPAL-kapal nelayan Indramayu sudah canggih. Bukan hanya desain kapal dan model jaring yang selalu inovatif, melainkan juga sudah dilengkapi radio komunikasi, radar pencari ikan, dan kamar pendingin ikan.*

PARADIGMA bahwa nusantara adalah wilayah maritim se­sung­guhnya sudah berde­ngung sejak masa lalu. Kapal nelayan Sriwijaya pada abad ke-7 dan kapal Majapahit pada abad ke-14 menjadi artefak yang menyatakan hal itu. Atau juga kapal-kapal Bugis pada abad kekinian ­mendukung hal yang sama.

Sangat tepat jika anak-anak TK pun ­sudah terbiasa diajak menyanyikan lagu “Nenek moyangku orang pelaut ....”. Suatu ungkapan yang memberi realitas tentang siapa dan bagaimana leluhur kita, serta di mana kita berpijak.

Agaknya hal itu pula fenomena yang terjadi di Indramayu. Dari Pantai Karangsong, dengan lintasan Sungai Prajagumiwang, kapal-kapal nelayan dengan ukuran panjang bawah sekitar 28 m, panjang atas 36 m, dan lebar 12 m, dengan bobot hingga 56 GT (gross tonnage) lebih terus dibuat, diluncurkan, dan melaju. Ikan-ikan yang diburu pun bukan hanya sekitar Laut Jawa, tetapi sudah meluas hingga Laut Kalimantan, Maluku, dan Papua. 

Kapal-kapal nelayan tersebut sudah canggih. Bukan hanya desain kapal dan model jaring yang selalu inovatif, tetapi ­juga sudah dilengkapi radio komunikasi, radar pencari ikan, dan kamar pendingin ikan. Bahkan bagian bawah kapal pun ­sudah dicor dengan bibit busa yang ­antibocor. 

Kapal-kapal tersebut ternyata bukanlah produksi industri galangan kapal ataupun impor dari luar negeri. Para pembuatnya adalah tukang-tukang lokal, yang tanpa pendidikan formal. Bahkan desain gambar dan ukurannya pun sebelum membuat ­kapal hanya berdasarkan hasil lisan dengan pemesan. 

Para pemesannya kebanyakan para ­juragan di sekitar muara Karangsong, yang meliputi Desa Karangsong, Pabean Udik, Paoman, Tambak, hingga wilayah sekitar­nya, yang masuk wilayah Kecamatan ­Indramayu. Sementara itu, para pembuat kapal mayoritas dari desa tetangga, Desa Pasekan dan Pagirikan Kecamatan Pasekan.

Eks Pelabuhan Cimanuk



Dulu, pengelana Portugis, Tome Pires (1511-1513) pernah mencatat adanya Pelabuhan Chemano (Cimanuk). Pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan terbesar kedua setelah Calapa (Sunda Kalapa). Pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten), Pontang (Pomdam), Cheguide (Cigede), Tamgaram (Tangerang).

Pelabuhan Cimanuk itu kini tak berbekas. Tetapi desa-desa di eks kawasannya memiliki nama yang merujuk pada istilah di pelabuhan. Desa Pabean (Pabean Udik dan Pabean Ilir) yang berkonotasi dengan kepabeanan. Desa ­Pagirikan memiliki kata asal sebagai girik (surat). Desa Pasekan berhubungan ­dengan barang-barang yang dipasek (dimuat secara bertumpuk). Desa ­Paoman merupakan kawasan pa-omah-an (perumahan) ­pegawai pelabuhan. Desa baru bernama Karangsong, yang kini menjadi sentra ­kapal-kapal nelayan merupakan pemekaran dari Desa Pabean Udik sejak tahun 1984.

Meski kini pelabuhan Cimanuk tak ada, aktivitas yang berkaitan dengan kema­ritim­an tetap berlangsung. Tentang kete­ram­pilan membuat kapal yang dimiliki warga Desa Pasekan dan Pagirikan, menurut pengamat budaya Indramayu, Sulistijo, merupakan sesuatu yang wajar jika dikaitkan antara masa lalu dengan masa ­kini. 

“Sejarah telah menuliskan tentang itu, seperti ditulis Tome Pires. Artinya ada ­aktivitas pelabuhan yang dilakukan warga di kawasan tersebut. Jika kini kemudian aktivitas warga berkaitan dengan pem­buatan kapal, itu sangat wajar,” tuturnya.

Keterampilan membuat kapal bukanlah sesuatu yang tiba-tiba bisa dilakukan orang. Dikatakannya lagi, “Pasti ada ke­terkaitan dengan kemampuan dan kebiasa­an. Apalagi ini dilakukan tanpa desain terlebih dahulu. Artinya, itu sudah budaya. Sesuatu yang sudah biasa dilakukan warga secara turun-temurun.” 

Di sepanjang Sungai Prajagumiwang hingga muara Karangsong memang terlihat aktivitas pembuatan kapal setiap hari. ­Tanpa mengenal hari libur, termasuk hari Minggu maupun bulan Ramadan. Bahkan musim hujan pun bukanlah halangan. Hari-hari libur itu hanya terjadi jika Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, atau pada saat acara tradisi nelayan berupa Nadran. 

Biasanya pembuatan kapal berdasar pemesanan dari juragan atau orang baru yang ingin terjun ke dunia perikanan laut. Secara lazim, para tukang itu mengerjakan pembuatan kapal secara upah borongan. Berkisar harga sekitar Rp 150 juta untuk kerja borongan tersebut, yang dilakukan 7-8 orang tukang. Material kapal, termasuk kayu-kayu ­gelondongan disediakan oleh pemesan. Pekerjaan fisik kapal bisa diselesaikan sekitar tiga bulan. 

Pekerjaan di luar borongan lainnya adalah pengecatan kapal. Kemudian pengecoran bagian bawah dengan bibit busa dan pemasangan ruang pendingin. Tak lupa pula penempatan mesin-mesin, berupa mesin induk untuk laju kapal, mesin gardan sebagai penarik jaring, dinamo untuk penerangan, satelit, dsb, serta mesin untuk ruang pendingin. 

Jika sudah selesai, harga kapal itu ditaksir sekitar Rp 5 miliar beserta kelengkapan mesin, jaring, dsb. Meski mahal, realitasnya pembuatan kapal itu terus-menerus berlangsung, seperti tak pernah putus.

Ketika kapal sudah jadi, biasanya ada ­ritual jog kapal, berupa acara syukuran. ­Kapal tersebut dari darat akan diluncurkan ke sungai. Hingga hari-hari berikutnya akan berlayar menjelajah nusantara mencari ikan. Hari peluncuran diisi doa-doa syukuran, disertai nasi tumpeng, bekakak ayam, dan lauk pauk lainnya.

Kapal dihias dengan berbagai aksesori alam. Hiasan itu antara lain berupa daun galing, sambetan, kelapa gading, andong, pring gading, dan tebu wulung. Warga ­sekitar dan sanak-saudara juga diundang dalam acara ini.

Dulu jika jog kapal, dari darat kapal akan ditarik warga secara beramai-ramai. Bagian dasar kapal diberi dasaran berupa pohon pisang agar laju kapal lebih mudah. Tetapi kini sudah tidak lagi. Bagian bawah kapal sudah diberi semacam roda-roda, sehingga penarikannya lebih mudah. Itu hasil inovasi para teknisi dan juragan kapal setempat. 

Pasekan dan Pagirikan



Menurut pengamat kemaritiman Indramayu, Dartono, hampir seluruh para pembuat kapal nelayan itu berasal dari Desa Pasekan dan Pagirikan. Di Pasekan sekarang ini ada sekitar 200 orang yang sehari-harinya membuat kapal atau perahu, sedangkan di Pagirikan sekitar 100 orang. Mereka tanpa pendidikan formal teknik, bahkan rata-rata berpendidikan formal rendah.

“Keterampilan mereka berlangsung secara tradisional, secara turun-temurun. Mungkin saja awalnya dari hasil pengamatan. Karena di daerah ini merupakan kawasan pelabuhan besar, Ci­manuk. ­Interaksi antara pelabuhan de­ngan warga tetap membekas,” ungkapnya. 

Terlihat pula di sepanjang jalan di dua desa itu terdapat pembuatan perahu-­perahu di halaman rumah. Aktivitas itu makin mempertebal fenomena akan ­budaya yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari sebagai para “insinyur kapal atau perahu”.

Pemesanan seolah-olah tak pernah ­putus. Pembuatan kapal terus-menerus dilakukan. Perputaran ekonomi yang berasal dari tangkapan ikan-ikan makin tampak. Tak pelak pula dari Indramayu kapal-kapal itu terus melaju. 

Di beberapa pelabuhan ikan yang besar terkadang ikan-ikan pun dijual, seperti di Muara Angke dan Muara Baru (Jakarta), Sedayu dan Blimbing (Jateng), Kota Baru, Sampit, dan Pangkalan Bun (Pulau Kalimantan), ataupun Sorong (Papua). Tetapi yang utama adalah mendaratkan ikan di kampung halaman sendiri, yakni di Karangsong. Menurut catatan, perputaran uang di tempat pelelangan ikan (TPI) Mina Sumitra, Karangsong Indramayu tersebut rata-rata Rp 1 miliar/hari. (Supali Kasim, aktivis ­Lembaga Kebudayaan Indramayu)***

Bagikan: