Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Kreasi Koran Bekas Diminati di Luar Negeri

Hilmi Abdul Halim
SEJUMLAH perempuan warga Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor yang tergabung dalam kelompok Salam Rancage membuat produk dari anyaman kertas koran bekas beberapa waktu lalu. Produk mereka yang unik, kuat dan fungsional diminati hingga ke luar negeri.
SEJUMLAH perempuan warga Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor yang tergabung dalam kelompok Salam Rancage membuat produk dari anyaman kertas koran bekas beberapa waktu lalu. Produk mereka yang unik, kuat dan fungsional diminati hingga ke luar negeri.

KERTAS koran bekas tidak perlu dibuang. Di tangan para ibu di Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor, barang tersebut bisa diolah menjadi ratusan jenis kreasi kerajinan tangan yang unik dan fungsional. Produk mereka bahkan diminati hingga ke luar negeri.

Bisnis sosial yang diberi nama Salam Rancage itu bermula dari Sekolah Alam (Salam) Bogor yang berdiri sejak 2002. Sekitar 2012, para pengurusnya membentuk kelompok khusus yang lebih fokus pada pengembangan ekonomi berbasis pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan.

Pendiri sekaligus Direktur Utama (CEO) Salam Rancage Aling Nur Naluri menyebutkan dua permasalahan utama berdasarkan survei yang dilakukannya selama satu tahun. "Pertama, perempuan tidak mendapatkan akses untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah layak. Kedua masalah lingkungan, banyak sampah," katanya, Minggu 9 September 2018.

Selain menyelesaikan kedua masalah tersebut, Aling mengharapkan manfaat lain yang lebih besar yakni berkontribusi pada aspek sosial masyarakat. Dampak sosial belakang disadari setelah perkumpulan tersebut berjalan selama sekitar enam tahun terakhir. "Setelah mereka bisa melakukan sesuatu dengan cara menambah penghasilan keluarga dan mereka intensif berinteraksi, akhirnya hubungan sosial di antara mereka semakin erat," kata Aling. Dari sana, anggota berjumlah hampir 50 orang juga membuat kegiatan sosial untuk memperbaiki lingkungannya.

Cairan khusus



Proses pembentukan Salam Rancage diikuti pembentukan bank sampah oleh masyarakat setempat. Sampah kertas seperti koran bekas kemudian diolah menjadi bahan baku produksi mereka. Kertas tersebut awalnya digulung lalu dianyam seperti halnya kerajinan rotan. Siapa sangka, anyaman dari kertas bekas itu pun memiliki ketahanan yang tak kalah kuat dibandingkan rotan. Aling menjelaskan, anyaman itu sebelumnya disemprot cairan khusus yang diracik secara swadaya. Cairan dari bahan tak beracun itu pun mampu melapisi permukaan kertas menjadi lebih kuat dan tahan air.

Dari proses sederhana itu, anyaman dibentuk menjadi berbagai jenis produk mulai dari keranjang kecil, sampul buku, dompet, tempat tisu hingga kursi. Kualitas produk mereka pun cukup teruji hingga kerap dipamerkan di berbagai kegiatan dan digunakan sebagai souvernir oleh sejumlah perusahaan. Bahkan, Aling mengklaim produknya banyak digemari pembeli dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Jepang dan Kanada. Namun, ia mengeluhkan pembeli dari pasar domestik justru masih rendah. Sehingga ia pun masih membatasi produksi dan sumber daya manusia yang terlibat.

"Pengembangan masyarakat (ke wilayah lain -red) harus diimbangi dengan pasarnya. Kalau yang lain ada dulu produk baru memikirkan pasarnya, kalau kami sebaliknya," kata Aling. Masyarakat pun mengharapkan produknya dijadikan sebagai unggulan Kota Bogor untuk menarik minat pembeli lokal, khususnya secara eceran. Dari hasil penjualan selama satu tahun, Aling memperhitungkan omzetnya mencapai Rp500 juta rupiah. Hasil penjualan produk mereka dikembalikan seluruhnya pada masyarakat untuk masing-masing anggota maupun membiayai kegiatan sosial setempat.***

Bagikan: