Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Tiga Tahun Penggenangan Waduk Jatigede, Garut Banjir Bandang tapi Indramayu Selamat

Adang Jukardi

SALAH satu tujuan dibangunnya Waduk Jatigede adalah sebagai pengendali banjir. Hal tersebut ternyata dapat dibuktikan saat musibah banjir bandang Sungai Cimanuk di Garut, 21 September 2016 lalu.

Jika saat itu belum ada Waduk Jatigede, daerah ­pantura seperti Indramayu, ­Cirebon, dan Majalengka dipastikan turut ­te­rendam ­banjir.

”Besarnya debit ­banjir dari Sungai Cimanuk dapat diredam di Waduk Jatigede sehingga ­daerah hilir terhindar dari banjir bandang tersebut,” kata Pelaksana Teknik Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Perencanaan Bendungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung Yuyu Wahyudin di kantor Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Bendungan di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

Meski Waduk Jatigede sudah di­bangun, ternyata masih ada lapor­an bahwa Indramayu masih kebanjiran. Ternyata, banjirnya datang dari Sungai Cilutung yang juga sudah ­mulai kritis. Ketika Indramayu banjir dari Sungai Cilutung, ­pasokan dari Waduk Jatigede ditahan 3 sampai 4 jam.

”Setelah banjirnya surut, barulah dialirkan lagi. Perjalanan air dari Waduk Jatigede ke bendung rentang sekitar 5 jam,” kata Yuyu.

Produksi listrik



Yuyu menjelaskan, manfaat lain dari Waduk Jatigede dapat menghasilkan energi listrik dari pengoperasian ­PLTA Jatigede dengan kapasitas 110 MW.

Kapasitas sebesar itu dengan mengope­rasikan dua unit turbin PLTA, masing-masing berkapasitas 2 x 55 MW. Energi listrik yang dihasilkan PLTA Jatigede untuk meningkatkan keandalan kelistrikan Jawa Barat di Gardu Induk Sunyaragi (Cirebon) dan Rancaekek (Bandung).

”Kebutuhan air untuk menggerakkan ­kedua turbin PLTA sebanyak 76 meter ­kubik per detik. Cukup dilewatkan air dari bendungan sudah mampu menggerakkan turbin dan selanjutnya dialirkan lagi ke sungai. Hingga kini, PLTA Jatigede masih dalam tahap pembangunan sehingga manfaatnya belum bisa dinikmati,” tuturnya.

Budaya yang hilang



Masyarakat adat Jatigede kini sedang berjibaku ­menjaga dan memperbaki kelestarian lingkungan Jati­gede yang rusak. Salah ­satunya adalah banyak lahan di daerah Jatigede yang diabaikan atau tak diguna­kan. Padahal, ­ke­lestarian lingkungan di Waduk Jatigede menjadi wadah ­kebu­daya­an masyarakat.

”Orientasi masyarakat adat sekarang ini fokus membangun kearifan lokal melalui pelestarian konservasi lingkungan Jati­gede yang rusak sebagai dampak pemba­ngunan proyek Waduk Jatigede. Apalagi, masalah konservasi lingkungan ini sama sekali tidak tersentuh pemerintah,” ujar Ki Wangsa, Ketua Formatur Pemangku Adat Bumi Lemah Sagandu Tembong Agung Sumedang Larang saat berada di Wado, Sumedang.

Selain berjuang menjaga dan memperbaiki konservasi lingkung­an, kata dia, masyarakat adat pun akan membuat ­beberapa zonasi untuk mengembangkan potensi wisata budaya, kesenian, dan ­hiburan rakyat serta ritual (ziarah) di ­beberapa titik pantai Waduk Jatigede. Zonasi itu mulai dari Cisema, Pakualam, Tarunajaya, ­Darmaraja, hingga ke daerah Wado.

Khusus untuk zona wisata budaya dan ritual, masyarakat adat sedang memperjuangkan pembuatan replika makam leluhur Sumedang, yakni makam Prabu Guru Aji Putih, dan enam makam leluhur lainnya.

Selain itu juga membangun prasasti karena di dasar Bendungan Jatigede terdapat artefak bekas kerajaan pertama dan tertua di Sumedang yakni Kerajaan Tembong Agung ­dengan rajanya Prabu Guru Aji Putih (696-721 Masehi).

”Prasasti itu sebagai ciri atau tanda ­bahwa di Jatigede ini ada artefak bekas Kerajaan Tembong Agung yang diteng­gelamkan,” ujar Ki Wangsa.

Menurut dia, sehubungan di wilayah genangan Waduk Jatigede ada bekas Ke­rajaan Tembong Agung sehingga di zona itu pun harus dibangun Pendopo Keraton Jatigede (Tembong Agung).

Begitu pula dengan pembangunan museum mini ­untuk menyimpan berbagai benda dan barang-barang bersejarah sebelum daerah Jatigede digenangi.

Zona wisata budaya dan ritual itu akan disatukan dalam satu kawasan. Kebetulan ada lahan seluas 8 hektare lebih di pantai Waduk Jatigede yang sudah dibebaskan pemerintah tetapi tidak digunakan.

Jadi, pembangunan replika 7 makam leluhur, prasasti, Pendopo Keraton Jatigede, mercusuar, dan museum mini, semuanya ditempatkan dalam satu kawasan itu.

Solusi untuk warga



Bupati Sumedang terpilih Dony Ahmad Munir ketika ditemui di Sumedang mengatakan, harapan dan aspirasi masyarakat adat itu akan menjadi perhatian khusus.

Perhatian tersebut agar konservasi lingkungan dan budaya masya­rakat Jatigede tetap lestari. Bahkan masalah ekonomi dan pengangguran yang dialami masyarakat Jatigede dampak dari pembangunan Waduk Jatigede akan segera diatasi.

”Saya punya program Garuda (Gerakan Wirausaha Muda). Masya­rakat sekitar Waduk Jatigede terutama para pemuda yang menganggur akan kami prioritaskan untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan di Waduk Jatigede akan dibuat kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk menopang kesejahteraan masyarakat,” ujar Dony.

Saat disinggung manfaat pariwisata Jatigede bagi masyarakat Sumedang, ­Sekda Kabupaten Sumedang Amim yang ditemui ­secara terpisah menjelaskan, di kawasan Waduk Jatigede tersimpan berbagai potensi pariwisata yang bisa dikembangkan. Potensi pariwisata itu diharapkan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.

”Ke depan, Waduk Jatigede ini akan dikelola oleh lembaga ­otoritas khusus dari pusat. Kami berharap lembaga tersebut bisa secepatnya berfungsi sehingga kami bisa mudah berkoordinasi,” ujarnya.***

Bagikan: