Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Perahu Tradisional Indramayu dalam Karya Miniatur Darmin

Gelar Gandarasa
DARMIN mengerjakan miniatur perahu di Karangsong, Indramayu, Rabu 29 Agustus 2018. Miniatur dari limbah kayu itu sudah ia jual ke berbagai daerah di Indonesia.*
DARMIN mengerjakan miniatur perahu di Karangsong, Indramayu, Rabu 29 Agustus 2018. Miniatur dari limbah kayu itu sudah ia jual ke berbagai daerah di Indonesia.*

KABUPATEN Indramayu terletak di wilayah Pantai Utara Jawa Barat. Karena letak geografis itulah, laut dan masyarakat seolah tak bisa dipisahkan begitu saja. Dalam kegiatan sehari-hari, sebagian masyarakat pasti mengandalkan hidup dari hasil laut.

Bentangan luas laut membuat banyak warga Indramayu berprofesi sebagai nelayan. Merujuk data dari Badan Pusat Statistika Kabupaten Indramayu, dari tahun ke tahun jumlah nelayan Indramayu selalu saja meningkat walau tak signifikan. Pada tahun 2014 nelayan berjumlah 34.488, dan bertambah menjadi 34.588 pada tahun 2015. Tahun 2016 meningkat tipis menjadi 34.598 jiwa.

Banyaknya nelayan juga memunculkan profesi-profesi lain. Salah satunya yakni pembuatan kapal miniatur yang ada di wilayah Karangsong. Sudah 5 tahun terakhir ini Darmin menekuni pembuatan kerajinan kapal kayu miniatur. Lewat usaha kreatif itu dia mampu meraup pundi-pundi rupiah. Bukan itu saja pemuda pengangguran di wilayahnya pun ikut kecipratan rejeki karena diajak untuk berkarya bersamanya.

Darmin menceritakan, dahulu dia memang seorang pengangguran yang bingung mencari pekerjaan. “Ke sana kemari susah cari kerjaan,” katanya, Rabu 29 Agustus 2018.

Dia pun berpikir keras bagaimana menghasilkan uang supaya bisa tetap menghidupi keluarganya. Ide kreatif pun muncul tatkala dirinya melihat bongkahan kayu di sekitar rumahnya yang sudah tak terpakai. Kayu-kayu tersebut merupakan limbah pembuatan kapal kayu Karangsong.

Karangsong memang merupakan sentra pembuatan kapal kayu asal Indramayu. Keahlian itu didapat warga secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Hebatnya tak hanya memproduksi kapal kecil, kapal di atas 30 gross ton pun mampu mereka buat. Darmin mengatakan, bongkahan kayu limbah itu dia olah menjadi miniatur kapal kayu asal Indramayu.

“Awalnya iseng, tapi lama kelamaan ternyata menghasilkan uang,” katanya sembari terus mengasah kayu.

Model tradisional



Banyak model kapal miniatur yang ia buat. Namun kebanyakan miniatur yang dibuat merupakan kapal tradisional. Dia beralasan, ingin menonjolkan kapal asli Indramayu kepada khalayak umum supaya lebih dikenal lagi. “Ada kapal model kolek, dorit, dan konting. Semuanya total ada 45 jenis kapal buatan Indramayu,” ungkap Darmin.

Menurutnya kapal Indramayu merupakan suatu warisan budaya yang mesti dijaga dengan baik. Lewat miniatur tersebut, ia ingin anak cucu di masa depan tetap bisa menikmati warisan nenek moyangnya.

Untuk pembuatan satu kapal miniatur, Darmin membutuhkan waktu bervariasi tergantung ukuran. Sebagai gambaran kapal berukuran panjang dua meter mampu dibuatnya dalam waktu dua pekan. “Masih manual buatnya pakai tangan. Jadi butuh waktu lama untuk buatnya,” tuturnya.

Kendati butuh waktu lama Darmin tetap bersabar. Betapa tidak, perahu ukuran dua meter itu bisa ia jual dengan harga Rp 2 juta. Pembelinya pun bukan hanya berasal dari wilayah Indramayu saja. Daerah tetangga pun kerap memesan perahu buatannya. “Sering turis dari luar negeri juga ke sini. Mereka pada beli perahu,” tutur dia.

Indra Kalinggis, salah seorang warga Karangsong menuturkan, di Karangsong sebagian warga memang menggantungkan hidup dari pembuatan kapal. Dia pun memuji kreatifitas Darmin yang bisa menghasilkan uang dari limbah. “Bagus ya kalau dituruti usahanya,” kata dia.***

Bagikan: