Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Badai petir, 21.1 ° C

Perairan Cirebon Menyimpan Harta Karun dari Kapal Tenggelam Jauh Sebelum Penjajahan Eropa

Ani Nunung Aryani

CIREBON, (PR).- Harta karun berupa kapal-kapal dagang masa lampau yang membawa muatan berharga tenggelam di perairan Cirebon. Bukan hanya masa VOC, jauh sebelum penjajahan Eropa, banyak kapal karam di sana.

Jauh sebelum bangsa Eropa masuk ke Nusantara, termasuk Belanda yang akhirnya menjajah Indonesia, jalur perdagangan dunia melalui laut sudah tersambung sampai ke sejumlah pelabuhan di Nusantara. Termasuk Muara Jati di Cirebon masa lalu.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengungkapkan, Cirebon melalui Pelabuhan Muara Jati yang saat ini masuk Desa Mertasinga Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon, sudah menjalin perdagangan dunia. Jalur perdagangan sutra yang dilalui dari Tiongkok, Persia, India, dan lainnya.

“Sejak abad 14 Cirebon sudah menjadi masuk jalur perdagangan sutra dari Tiongkok, Persia, India dan lainnya. Kapal-kapal dagang berisi muatan berharga ikut diperdagangkan di Pelabuhan Muara Jati. Laksamana Cheng Ho dengan 300 armadanya pernah merapat juga di Pelabuhan Muara Jati," katanya Selasa 28 Agustus 2018.

Kawasan Indonesia dari dulu memang sudah masuk kawasan perdagangan dunia, terutama melalui jalur laut. Kata Arief, ribuan armada perdagangan dari seluruh dunia, dari dulu sudah melintas di perairan barat Indonesia.

Arief mengakui masuknya Cirebon dalam peta perdagangan dunia memang lebih terlambat ketimbang wilayah lain di Nusantara.

“Seperti Kerajaan Sriwijaya yang sudah mendunia sejak abad 7 dengan bukti kekuasaannya yang meliputi Asia Tenggara saat ini,” katanya.

Selama bererapa abad aktivitas perdagangan internasional terjadi di Cirebon. Dipastikan tidak sedikit kapal-kapal dagang yang tenggelam, baik karena over muatan, cuaca maupun kerusakan kapal dan sebab lainnya.

“Perairan Cirebon kaya dengan harta karun berupa kapal-kapal dagang yang karam yang membawa komoditas perdagangan berharga,” katanya.

Melihat potensi itu, Arief menegaskan, Kesultanan Cirebon sangat mendukung upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Pemkab Karawang yang menjadikan lokasi harta karun kapal tenggelam sebagai destinasi wisata menyelam.

Arief menegaskan, sudah waktunya, sejarah budaya maritim dieksplorasi kembali. “Meski terlambat, namun tidak apa-apa. Dari pada tidak sama sekali, “ ujar dia. 

Apalagi, katanya, sekarang ini  budaya maritim sudah terdegradasi dan generasi muda sudah melupakan kejayaan sejarah budaya maritim.

Tiga rambu eksplorasi kekayaan maritim berupa harta karun



Hanya saja, ada tiga poin yang menjadi rambu-rambu yang seharusnya dilakukan dalam upaya eksplorasi kekayaan maritim berupa lokasi harta karun itu.

Pertama, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Pemkab Karawang, bisa mengamankan barang cagar budaya yang ada di perairan Karawang. “Kedua yakni barang cagar budaya temuan dari perairan Karawang harus dilestarikan dan tidak melelang dan menjual semua barang cagar budaya yang ditemukan itu,” kata dia yang juga Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.

Pernyataan Arief dibenarkan filolog asal Cirebon Raffan Safari Hasyim yang akrab disapa Opan yang dihubungi secara terpisah.

Hanya saja menurut Opan, bekas-bekas kejayaan Pelabuhan Muara Jati, yang berjarak sekitar 14 km ke arah utara Kota Cirebon, nyaris tidak ada sama sekali.

“Jejak sejarahnya yang paling akurat dan valid ya dari kapal-kapal yang tenggelam di perairan Cirebon itu. Kalau jejak di darat saat ini, nyaris tidak ada, “ kata Opan yang juga pengurus Paguyuban Keratuan Singhapura.

Kalaupun masih ada, katanya, hanya sebatas sisa-sisa bangunan bekas kantor kesyahbandaran zaman Kerajaan Pajajaran sampai Kesultanan Cirebon.

Sisa-sisa bangunan saat ini masih bisa ditemui di Kantor Desa Sirnabaya, yang berlokasi di seberang jalan Desa Mertasinga. Sisa-sisa bangunan yang ada berupa situs Nyi Mas Subang Kranjang atau nama lainnya Nyi Mas Subang Larang, situs bale dalem, bale agung, bale lebu berupa balai-balai dari kayu yang digunakan untuk musyawarah, situs umoromo (umah rama/rumah bapak) tempat menyendiri pejabat pelabuhan, sumur katulayu, balong tirta kahuripan dan kursi kencana agung serta lawang gede kahuripan.

Warga sekitar meyakini situs-situs itu bukan peninggalan pejabat pelabuhan atau kesyahbandaran. Namun peninggalan keraton singopuro, dengan huruf o.***

Bagikan: