Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 21.1 ° C

Terhubung dengan Satelit, Kebakaran Lahan Bisa Diprediksi Lebih Akurat

Hilmi Abdul Halim
DUA pemadam kebakaran Kapuas Bhakti Pontianak menyemprotkan air ke hutan yang terbakardi Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Sabtu, 18 Agustus 2018 lalu.*

CIBINONG, (PR).- Institut Pertanian Bogor mengembangkan sistem peringatan dini kebakaran lahan dan hutan berbasis musiman. Hasil prakiraannya diklaim mampu mencakup wilayah yang lebih detail dalam rentang waktu lebih panjang, dibandingkan sistem yang digunakan selama ini.

Ketua Pusat Risiko Iklim dan Manajemen Peluang di Asia Tenggara Pasifik IPB Rizaldi Boer menyatakan kemampuannya memperkirakan risiko kebakaran mencapai enam bulan ke depannya. "Dengan mengetahui resiko terjadinya kebakaran diharapkan dapat mengantisipasi sejak lama," katanya, Jumat, 24 Agustus 2018.

Rizaldi menganggap kebakaran lahan dan hutan adalah isu penting bagi masyarakat dalam maupun luar negeri. Tak jarang, masyarakat internasional khususnya negara-negara tetangga yang ikut terdampak asap sering menyalahkan Indonesia karena tak bisa mengantisipasi kebakaran.

Menurut dia, sistem yang digunakan selama ini masih berbasis cuaca yang menghasilkan prakiraan kebakaran lebih pendek yakni hingga satu pekan ke depannya. Karena itu, Rizaldi menganggap upaya antisipasi kebakaran menjadi kurang optimal.

Sistem indeks risiko kebakaran hutan dan lahan yang lama bisa dikombinasikan dengan sistem terbaru. Sistem yang dikembangkannya sejak 2006 itu terhubung secara langsung dengan satelit. Sehingga, cakupan wilayah yang dipantau lebih detail yakni 1x1 kilometer untuk tingkat daerah dan 5x5 kilometer untuk tingkat provinsi.

"Kita sudah kembangkan di delapan kabupaten dan sepuluh provinsi," kata Rizaldi menyebutkan wilayah pengembangannya lebih banyak di Pulau Kalimantan dan Sumatera karena dianggap lebih berisiko. Sedangkan Pulau Jawa belum termasuk karena risiko dan luas wilayahnya masih minim.

Keterbatasan wilayah pengembangannya diakui sebagai salah satu kelemahan sistem tersebut saat ini. Selain itu, pengembangannya juga masih terkendala data kondisi dan luas lahan yang belum diperbaharui. Rizaldi meyakini sistem tersebut bisa lebih akurat bila menggunakan data terbaru.

Risiko tinggi



Berdasarkan hasil prakiraan menggunakan sistem tersebut, Rizaldi menyebutkan risiko kebakaran masih termasuk tinggi pada Agustus-November 2018. "Tapi resiko sangat tinggi tidak ada. Secara umum, risikonya menurun memasuki November 2018," katanya.

Rizaldi menyebutkan risiko kebakaran tingkat tinggi mencapai 100 ribu hektar pada September 2018. Sebanyak sekitar 60 persen di antaranya terdapat di wilayah Provinsi Lampung yakni Desa Bandar Jaya dan Riau antara lain Desa Tasik Serai, Tanjung Kapal, Bukit Kerikil dan Titi Akar.***

Bagikan: