Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.1 ° C

Lagi, Praktik Prostitusi Online di Apartemen Depok Terbongkar

Bambang Arifianto
Polisi meminta keterangan tiga tersangka di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Kamis, 23 Agustus 2018. Para tersangka diduga terlibat dalam praktik prostitusi online di apartemen Kota Depok.*
Polisi meminta keterangan tiga tersangka di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Kamis, 23 Agustus 2018. Para tersangka diduga terlibat dalam praktik prostitusi online di apartemen Kota Depok.*

DEPOK, (PR).- Kepolisian Resort Kota Depok kembali membongkar praktik prostitusi di salah satu apartemen Kota Depok. Polisi mencokok tiga orang yang diduga menjadi perekrut dan perantara kegiatan prostitusi tersebut.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok Komisaris Polisi Bintoro mengatakan, penangkapan berlangsung pada Selasa, 21 Agustus 2018 sekira pukul 01.30 WIB. "Kami‎ dari Polres Depok dan Polsek Beji berhasil memgamankan lima  orang yang diduga melakukan kegiatan prostitusi online dengan TKP (tempat kejadian perkara)  di salah satu apartemen di wilayah Depok," kata Bintoro dalam konfrensi pers di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Kamis, 23 Agustus 2018.

Dari pemeriksaan, Korps Bhayangkara menetapkan tiga tersangka berinisial TM, R, IS. ‎ Polisi pun mengamankan barang bukti berupa alat kontrasepsi, celana dalam, dan uang Rp 664.000 rupiah.

"Pelaku ini melakukan kegiatan prostitusi online dengan cara merekrut (menjadi)  PSK, wanita yang masih di bawah umur jadi umurnya belum sampai 17 tahun," ujarnya.

Ketiga pria tersebut langsung ditahan di Polres Depok. Dalam aksinya, mereka berbagi peran.‎ "Ada yang menjadi perekrut, penyedia tempat dan bertransaksi untuk mendapat nilai uang dari pelanggan," ucap Bintoro. 

Mereka juga menggunakan aplikasi online atau dalam jaringan (daring) guna memuluskan aksinya. Tersangka telah menggunakan aplikasi media sosial itu selama satu tahun. Peminat bisa menghubungi akun aplikasi tersangka sebagai perantara guna menanyakan tarif perempuan pekerja seks komersial.

"Selanjutnya si PSK-nya setuju, bersiap di posisi yang sudah dijanjikan, lalu pelanggan dan PSK bermain baru diberi uang Rp 900 ribu itu, Rp 250 ribu untuk penyedia tempat, Rp 100 ribu kepada joki, dan PSK dapat bersih Rp 350 ribu," ucapnya.

Bintoro menyatakan, polisi masih menyelidiki keterkaitan kasus tersebut dengan pengungkapan praktik prostititusi online di Apartemen Margonda Residence belum lama ini. Pasalnya, penangkapan tersangka juga berlangsung di apartemen itu‎. "Karena masih di lokasi yang sama, di tempat kejadian yang sama dengan kemarin," tutur Bintoro.

Dia menambahkan, pengelola Margonda Residence telah dipanggil guna dimintai keterangan. "Tetapi yang bersangkutan (pengelola) hari ini tidak bisa," ucapnya. 

Meski demikian, pengelola/pemilik apartemen tersebut akan bersikap kooperatif guna pengungkapan kasus itu. Atas perbuatannya, para tersangka dijerat ‎ pasal 296 juncto 506 KUHP. "Ancaman hukumannya itu 1 tahun 4 bulan," ucap Bintoro.

Perdagangan anak



Tersangka diduga pula terlibat perdagangan anak di bawah umur. TM, seorang tersangka mengaku merekrut PSK di bawah umur melalui perkenalan di Facebook.

"Dari Facebook awalnya, terus dia (PSK) minta cari pelanggan," ujarnya. Sedangkan promosi dilakukan menggunakan aplikasi Bee Talk dengan memajang foto-foto perempuan tersebut.

‎Pada Rabu, 15 Agustus 2018, Polresta Depok membongkar praktik prostitusi online di Apartemen Margonda Residence 2, Pondok Cina, Kota Depok. Polisi mencokok enam tersangka dalam perkara tersebut.

Empat tersangka merupakan perempuan yang diduga menjajakan diri melalui aplikasi WeChat. Sedangkan dua tersangka pria masing-masing berperan mengelola akun prostitusi online dan mencari pelanggan. 

Kasus tersebut bukan pertama kali terjadi. Awal Juli 2018, ‎ Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok telah menangkap T (23) yang diduga melakukan upaya pencabulan terhadap anak di bawah umur pada awal Juli 2018.

Awalnya, korban berinisial T (17) berkenalan dengan tersangka melalui media sosial. Dari perkenalan itu, tersangka mengajak korban bertemu di  Apartemen Margonda Residence 4, lantai10, Kemirimuka. Di sana, tersangka berupaya mencabuli korban tetapi mendapat perlawanan korban.

Kasus  lain adalah penyekapan perempuan berinisial N (19) asal Cipinang Jakarta Timur selama 10 jam oleh mantan pacarnya, FAT (30). Kejadian tersebut berlangsung di Apartemen Margonda Residence II, Pondok Cina, Tower H, lantai 9, Selasa, 30 Mei 2017 silam.

Bangunan apartemen itu berada di dua kelurahan, yakni Pondok Cina dan Kemirimuka. Di Pondok Cina, terdapat bangunan Apartemen Margonda Residence 1 dan 2. Sedangkan di Kemirimuka,  terdapat gedung Margonda Residence 3,4,5.**

Bagikan: