Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 29.5 ° C

10.108 Botol Minuman Keras Dimusnahkan

Bambang Arifianto
PEMUSNAHAN ribuan botol minuman keras berlangsung di pelataran Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Senin (20/8/2018). Botol-botol minuman keras itu diperoleh dari operasi gabungan dalam kurun Mei-Agustus 2018.
PEMUSNAHAN ribuan botol minuman keras berlangsung di pelataran Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Senin (20/8/2018). Botol-botol minuman keras itu diperoleh dari operasi gabungan dalam kurun Mei-Agustus 2018.

DEPOK, (PR).- Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok memusnahkan 10.108 botol minuman keras di halaman Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Senin 20 Agustus 2018. Botol-botol minuman keras tersebut merupakan hasil penyitaan dalam sejumlah operasi gabungan.

"Kita memusnahkan hasil sitaan hasil operasi tim gabungan antara Satpol PP dengan Polres dengan Kodim dengan Garnisun dengan unsur masyarakat," kata  ‎ Asisten Hukum dan Sosial Kota Depok Sri Utomo di halaman Balai Kota Depok, Senin pagi. Pemusnahan juga dilakukan bertepatan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun. Ribuan botol dilindas menggunakan alat berat.‎ Sri menuturkan, operasi-operasi penyitaan botol minuman keras itu berlangsung dalam kurun Mei-Agustus 2018. Kendati penindakan telah dilakukan, Sri mengaku tak terlalu gembira dengan banyaknya barang sitaan yang didapat.

"Banyaknya hasil penertiban atau sitaan itu buka suatu prestasi menurut saya, ini menjadi perhatian kita bersama," ucapnya. Menurut dia, semua pihak harus turun tangan menyusun konsep bersama dalam pemberantasan peredaran minuman keras di Depok. Pasalnya, penegakkan hukum atas peredaran minuman keras tak didukung tingginy a sanksi atau hukuman kepada pelakunya. "Ini (sanksinya) Tipiring (tindak pidana ringan) biasanya, sanksinya pidananya enggak ada," ujar Sri. Padahal, dampak peredaran minuman keras bisa memicu perbuatan-perbuatan pidana yang berat.

"Oleh karena itu, tugas kita bersama dari pemerintah dan masyarakat, yaitu saling bekerja sama, bersatu padu, berkolaborasi untuk Kota Depok dari pada peredaran miras," ucapnya. Hingga kini, lanjut Sri, belum ada kajian revisi terhadap peraturan daerah terkait peredaran minuman keras di Depok. ‎"Kita tetap masih mengacu pada Perdsa No 16 tahun 2012,  nah itu masih kita gunakan, yaitu penjangkauan atau penertiban dari pada penertiban miras," ujarnya. Dia menilai penguatan karakter masyarakat menjadi cara mengatasi persoalan tersebut. "‎Oleh karena itu kami undang semua,  Majelis Ulama Indonesia, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh organisasi masyarakat untuk bersama-sama menguatkan, apapun  ketahanan kita kalau bukan dari ketahanan masyarakatnya memang agak sulit," tutur Sri.

Penindakan melalui operasi-operasi penertiban, lanjutnya, mesti pula dibarengi pembangunan karakter masyarakat yang menolak peredaran minuman keras. "Kekuatan karakter masyarakat harus kita bangkitkan juga," ucapnya.



Menuntut kinerja maksimal



Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Depok Yayan Arianto menambahkan, pihaknya membentuk satuan khusus guna mengungkap dan menertibkan peredaran minuman keras. Operasi satuan khusus itu dilakukan secara senyap. "‎Ada 50 personil yang menangani masalah miras ini, kata Yayan. Dia tak menampik peredaran minuman keras semakin meluas di Depok. "‎Yang sangat memprihatinkan itu sekarang menyebar sekarang sampai istilahnya yang jual HP (telefon genggam) istilah ya juga jual miras juga, begitu juga yang jual jamu, salon," ucapnya. 

Meluas peredaran minuman keras pun menuntut kinerja maksimal korps Pamong Praja Depok memberantasnya. Hingga sekarang, tutur Yayan,  dua kecamatan‎ yakni  Pancoran Mas dan Cimanggis menjadi wilayah rawan peredaran tersebut. Peredaran minuman keras di sana dilakukan melalui agen-agen tertentu. ‎ Upaya menekan peredaran minuman keras mulai mengemuka selepas banyaknya korban berjatuhan pada awal April 2018. Sekitar sembilan warga Depok tewas karena dugaan mengonsumsi minuman keras oplosan jenis ginseng pada pekan lalu. Pasokan miras maut itu berasal dari kios jamu di kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan dan Jalan Cipayung, Depok. Banyaknya korban tewas membuat Polresta dan Pemkot Depok gencar melakukan razia miras di wilayahnya.

Dalam catatan "PR", peredaran miras yang memakan korban jiwa turut menyulut konflik masyarakat. Selain aksi kriminal yang dipicu karena pelaku menenggak minuman keras, penyerangan kelompok masyarakat juga sempat terjadi ke kios jamu di Jalan Cipayung, RT 2 RW 2, Kelurahan/Kecamatan Cipayung  pada Rabu (4/3/2018). Massa mengamuk setelah menguburkan kerabatnya yang diduga tewas karena mengonsumsi minuman keras oplosan di kios tersebut.***

Bagikan: