Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Upacara HUT Kemerdekaan ke-73 RI Diperingati di Tengah Sungai Ciliwung

Bambang Arifianto
UPACARA pengibaran bendera peringatan hari kemerdekaan berlangsung di Sungai Ciliwung, Kota Depok, Jumat 17 Agustus 2018. Upacara yang diselenggarakan Komunitas Ciliwung Depok tersebut bertujuan mengajak masyarakat mencintai sungai dan menjaga kelestariannya.
UPACARA pengibaran bendera peringatan hari kemerdekaan berlangsung di Sungai Ciliwung, Kota Depok, Jumat 17 Agustus 2018. Upacara yang diselenggarakan Komunitas Ciliwung Depok tersebut bertujuan mengajak masyarakat mencintai sungai dan menjaga kelestariannya.

DEPOK, (PR).- Memperingati hari kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia, Komunitas Ciliwung Depok menggelar upacara pengibaran bendera di Sungai Ciliwung. Upacara tersebut bertujuan mengajak masyarakat mencintai sungai dengan memelihara kelestariannya. 

Upacara berlangsung di hamparan cadas di badan sungai yang berada di sekitar Jembatan Grand Depok City, Jumat 17 Agustus 2018. Pasukan pengibar bendera terlebih dahulu dibawa menggunakan perahu karet dengan diiringi sejumlah peserta yang berenang. Tiba di cadas, mereka turun dan berbaris mendekati tiang bendera. Upacara pengibaran sang saka merah putih pun dimulai beserta pembacaan teks proklamasi. Selain itu, dilakukan pula penanaman pohon bambu di sempadan sungai. Direktur Pengendalian Kerusakan Perairan Darat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sakti Hadengganan didaulat menjadi pembina upacara. Dalam amanatnya, Sakti menekankan pentingnya masyarakat menjaga kelestarian Ciliwung. 

"Tanpa air, kita dan semua makhluk hidup di bumi ini tidak akan bertahan," kata Sakti. Hingga kini, air menjadi kebutuhan manusia yang tak tergantikan. Begitu pula dengan keberadaan Ciliwung. Namun, kondisi lingkungan sungai tersebut rusak karena ulah manusia. Akibatnya, bencana terjadi. "‎Pada dua dasawarsa terakhir Sungai Ciliwung menjadi terkenal karena menjad penyebab banjir," ujar Sakti. Daya dukung daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung telah menurun. Ruang terbuka hijau, lanjutnya, semakin menyusut setiap tahun karena pesatnya pembangunan. "Luas DAS Ciliwung sekitar 38.610 hektar yang dapat dibagi dalam tiga subdaerah aliran sungai," ucapnya.

Wilayah pertama berada di kawasanhulu sungai yang berada di Kabupaten/Kota Bogor dengan luas 15.251 hektar. Selanjutnya, kawasan Ciliwung tengah di Kabupaten/Kota Bogor, Kota Depok, Bekasi seluas 16.706 hektar serta Ciliwung hilir di Provinsi DKI Jakarta 6.295 hektar. "Saat ini, kawasan hutan yang merupakan regulator alami tata kelola air di DAS Ciliwung hanya tersisa 9,7 persen atau seluas 3.693 hektar," kata Sakti. Padahal, luasan ideal ruang hijau harusnya sekitar 30 persen dari luas DAS Ciliwung. 

Penyempitan daerah resapan/tangkapan air membuat air hujan langsung mengalir ke Ciliwung. "Konsekuensinya adalah permukaan air akan meningkat dan banjir tidak dapat dihindari bila curah hujan benar-benar tinggi," ucapnya. Untuk itu, penanganan Ciliwung harus dilakukan pemerintah bersama masyarakat.  "KLHK telah menetapkan DAS Ciliwung sebagai prioritas, tetapi penanganan Ciliwung harus dilakukan secara bersama," ujar Sakti. Komunitas pegiat Ciliwung harus diperbanyak dari wilayah hilir, tengah dan hulu sungai. Komunitas-komunitas tersebut diharapkan menyosialisasikan pentingnya pembuatan sumur resapan di pemukiman warga dan penanaman pohon di lahan terbuka.

Terjaganya kelestarian Ciliwung juga berdampak bagai masyarakat. Masyarakat bisa memanfaatkan dan mengembangkan sungai untuk wisata. "Mudah-mudahan komunitas Ciliwung dapat mengembangkan wisata yang berbasis masyarakat karena pembangunan yang berkelanjutan itu paling tidak harus cocok dengan tiga aspek, ekonom, lingkungan dan sosial, mudah-mudahan sekaligus menyelamatkan bantaran atau sempadan Sungai Ciliwung," tutur Sakti.

Hal senada diungkapkan pegiat Komunitas Ciliwung Depok Taufiq DS. Dia mengatakan, tema kegiatan tersebut adalah merdekakan Ciliwung dari kerusakan dan perusakan. "Nilai kejuangan tidak hanya pada saat kemerdekaan, tetapi saat berjuang untuk menyelamatkan Ciliwung," ucapnya. Taufiq menyoroti kerusakan Ciliwung karena maraknya pembangunan di wilayah sempadan. Menurutnya, sekitar 25 persen sempadan di Ciliwung wilayah Depok telah beralih fungsi. Aktivitas perusakan sungai dengan pembuangan limbah dan sampah pun masih terjadi. Saat musim kemarau, lanjutnya, sampah-sampah dibuang di tebing sungai. Ketika hujan dan banjir, tumpukan sampah terbawa aliran sungai. Tak pelak, upaya penyelamatan dengan mengajak masyarakat mencintai sungai harus dilakukan.***

Bagikan: