Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Berawan, 22 ° C

Lambang Kabupaten Bekasi yang Digunakan Selama Ini Salah? Simak Penjelasan Ahli

Tommi Andryandy
WARGA membandingkan lambang Kabupaten Bekasi yang terdapat di laman resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi (kiri) dan di dalam buku Sejarah Singkat Kabupaten Bekasi (kanan). Pada gambar kiri buah-buahan lebih menyerupai kapas, serta jumlah padi yang lebih dari 17 butir.*
WARGA membandingkan lambang Kabupaten Bekasi yang terdapat di laman resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi (kiri) dan di dalam buku Sejarah Singkat Kabupaten Bekasi (kanan). Pada gambar kiri buah-buahan lebih menyerupai kapas, serta jumlah padi yang lebih dari 17 butir.*

CIKARANG, (PR).- Lambang Kabupaten Bekasi yang digunakan selama ini dinilai keliru. Lambang yang terdapat di setiap fasilitas milik Pemerintah Kabupaten Bekasi, bahkan yang menempel pada seragam aparatur sipil negara ternyata tidak sesuai aturan.

Sejarawan Bekasi, Ali Anwar menyatakan, kekeliruan ini telah terjadi sejak lama. Hanya saja tak pernah dikoreksi hingga kesalahan bersifat masif.

“Saya sendiri sebetulnya sudah menyadari perubahan lambang sejak tahun 1980, bahkan kalau saya riset lagi terjadi perubahan ini dari tahun 1970-an. Itu terlihat dari kartu tanda penduduk tahun 1970 yang saya temukan,” ucap dia, Kamis 16 Agustus 2018.

Untuk diketahui, lambang Kabupaten Bekasi berbentuk menyerupai tameng. Pada bagian atas terdapat gambar buah-buahan dan padi yang mendampingi gambar golok. Senjata ini yang hingga kini menjadi lambang kebanggaan Kabupaten Bekasi sebagai kota jawara. Kemudian pada bagian atas terdapat barisan batu bata serta gambar yang membentuk aliran air.

Namun seiring berjalannya waktu, Ali menilai lambang tersebut telah berubah dari aslinya. Padahal, lambang ini telah diatur secara resmi melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi nomor 12 tahun 1962.



Terdapat tiga kesalahan di lambang Kabupaten Bekasi, apa saja?



Setidaknya, kata Ali, terdapat tiga kesalahan dari lambang yang digunakan sekarang yakni jumlah batu bata, gambar buah-buahan serta bentuk golok.

Sesuai Perda 12/1962, barisan batu bata terdiri dari empat susunan. Susunan ini menandakan jumlah kewedanaan. “Kewedanaan ini seperti wilayah, stratanya di kecamatan tapi di bawah kabupaten. Kabupaten Bekasi sendiri terdiri dari empat kewedanaan yakni Serengseng, Bekasi, Tambun dan Cikarang atau Lemahabang,” kata Ali.

Setiap kewedanaan ini membawahi beberapa kecamatan yang dilambangkan dengan kotak warna kuning di dalam barisan bata. Kotak warna kuning ini, kata Ali, tidak terdapat dalam lambang Kabupaten Bekasi yang digunakan saat ini.

Kemudian kotak kuning itu terbagi dalam beberapa kotak yang menandakan jumlah desa. “Kota jumlah desa pun keliru. Jika dilihat, barisan bata ini hanya dibuat begitu saja, kotak-kotak biasa, padahal ada hitungannya. Karena setiap gambar itu ada artinya,” ucap dia.

Kesalahan kedua yang terbilang fatal gambar buah-buahan yang berubah menjadi gambar kapas. Sesuai aturan, seharusnya pada bagian atas sisi kiri lambang terdapat delapan buah-buahan berwarna kuning emas. Buah-buahan ini melambangkan Kabupaten Bekasis sebagai buah-buahan, palawija dan sayur mayur.

Namun seiring berjalannya waktu, buah-buahan malah berganti menjadi kapas. “Ini jelas yang cukup fatal. Mungkin banyak lambang yag menggunakan gambar padi dan kapas tapi di Bekasi beda, bukan kapas tapi buah-buahan,” ucap dia.

Selain itu, jumlah padi yang terdapat pada lambang saat ini pun berbeda. Seharusnya 17 butir padi namun menjadi 23 butir. “Jumlah 17 butir itu melambang tanggal kemerdekaan 17 Agutus,” ucapnya.

Kemudian kesalahan yang ketiga yakni bentuk golok. Menurut Ali, pada lambang yang digunakan saat ini bentuk senjata khas Bekasi itu lebih runcing apadahal seharusnya dibuat agak bulat. “Harusnya lebih bulat karena saya tanya sama orang-orang dulu, golok itu adalah jenis golok yang biasa digunakan sehari-hari. Memangkas padi atau hasil bumi lainnya, kemudian di masa penjajahan digunakan untuk mengusir penjajah jadi tidak sembarangan,” ucap dia.

“Bahkan saya melihat di ruangan Bupati Bekasi, di dalamnya, itu ada lambang Kabupaten Bekasi, goloknya bahkan lebih salah lagi, bengkok seperti kujang,” ucap dia, melanjutkan.



Sudah dibahas bersama bupati



Ali menyatakan, persoalan perubahan golok ini telah beberapa kali dibahas bersama sejumlah para sejarawan serta budayawan Bekasi. Lebih jauh, Ali pun mengaku telah mengajukan terkait perubahan lambang ini ke Bupati Neneng Hasanah Yasin pada 2016. Dari hasil pertemuan itu, Ali kemudian diarahkan kepada Bagian Organisasi Sekretariat Daerah.

“Draf saya sudah disampaikan ke Bagian Organisasi. Kemudian pada Hari Jadi Kabupaten Bekasi 2017 lalu, saya bertemu Pak Sekda Uju , katanya draf saya sudah diteriam dan perubahan lambang itu seharusnya sudah dilakukan. Tapi sayangnya sampai sekarang masih menggunakan lambang yang keliru,” ucapnya.

Ali berharap kesalahan lambang ini segera diperbaiki karena berkaitan dengan identitas serta filosofi daerah. “Ini sangat penting, lambang Garuda Indonesia pun jumlah bulunya salah, tidak boleh. Saya harap ini ditindaklanjuti. Kalau lambang yang sesuai Perda 12/1962 tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini, boleh saja diubah. Namun, kembalikan lambang yang dulu kemudian buat sayembara untuk penggantian lambang yang baru,” ucap dia.***

Bagikan: