Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Prostitusi Online Apartemen Margonda Residence Terbongkar

Bambang Arifianto
Polisi menjaga para tersangka prostitusi online di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Rabu, 15 Agustus 2018. Mereka digerebek polisi di Apartemen Margonda Residence 2, Pondok Cina.*
Polisi menjaga para tersangka prostitusi online di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Rabu, 15 Agustus 2018. Mereka digerebek polisi di Apartemen Margonda Residence 2, Pondok Cina.*

DEPOK, (PR).- Aparat Kepolisian Resort Kota Depok membongkar praktik prostitusi online di Apartemen Margonda Residence 2, Pondok Cina, Kota Depok, Rabu, 15 Agustus 2018. Polisi mencokok enam tersangka dalam perkara tersebut.

Terungkapnya prostusi online itu bermula dari laporan masyarakat yang resah dengan adanya praktik itu. Korps Bhayangkara Depok pun langsung menyelidikinya.

Akhirnya, polisi meringkus para tersangka pada Selasa, 14 Agustus 2018, pukul 18.00 WIB. Enam tersangka yang diciduk masing-masing berinisial ‎SG (20), AD (19), FO (19 ), DP (22), MF (20), MR (18). MF dan MR merupakan tersangka pria. Sisanya merupakan perempuan.

"Mereka adalah penyewa dari apartemen tersebut," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok Komisaris Polisi Bintoro dalam konferensi pers di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Rabu, 15 Agustus 2018. Bintoro mengungkapkan, tersangka beroperasi dengan menggunakan aplikasi WeChat. 

Tersangka memasang foto dan keterangan profile yang mengarah kepada kegiatan prostitusi. "Dan tarifnya pun kadang-kadang sudah ditulis, dengan menggunakan aplikasi itu yang bersangkutan memberikan nomor HP (telefon genggam), selanjutnya para pelanggan akan menghubungi nomot HP tersebut," ujarnya.

Praktik itu terendus kepolisian. "Dari sini kita bisa membongkar karena jaringan ini mudah sekali untuk diketahui dan mudah sekali untuk digunakan," ucap Bintoro.

Para tersangka mematok tarif antara Rp 800 ribu-1 juta. "Bahkan itu bisa lebih," ucapnya. Dalam sehari, lanjut Bintoro, tersangka bisa mengantongi uang senilai Rp 2-3 juta dengan melayani 4-5 tamu perhari. Guna memuluskan praktik asusila tersebut, dua tersangka pria masing-masing berperan sebagai penghubung dengan para peminat serta mengelola akun media sosial tersangka perempuan. 

Mereka terlebih dahulu menyewa kamar apartemen lalu mencari peminat. Kamar-kamar itu ditawarkan oleh broker atau perantara apartemen melalui media sosial instagram.

"Perhari, tarif (sewa kamar) Rp 200 ribu weekday (hari normal), kalau untuk weekend (akhir pekan) mereka (menyewa)  Rp 250 ribu," ujarnya.

Tersangka yang merupakan warga Depok tersebut tak beraksi setiap hari. Mereka bisa menentukan waktu beroperasi ketika ada waktu senggang.‎

"Apartemen ini setelah dikuasai kuncinya yang bersangkutan bebas, mau jam berapa pun juga untuk masuk ke apartemen tersebut," kata Bintoro.

Dia menegaskan bakal memanggil pengelola apartemen dan pihak penyedia sewa kamar. Mereka akan dimintai keterangan apakah mengetahui praktik prostitusi terselubung itu.

"Intinya kita akan tata ke arah yang lebih baik," ucapnya. ‎Bintoro berharap, pengelola apartemen turun tangan untuk mendeteksi mana orang yang menginap atau menyewa kamar.‎

"Harus mengetahui latar belakangnya, jangan sampai karena mengambil keuntungan mereka dengan mudahnya untuk menyewakannya," ujarnya.

Laporkan penggunaan WeChat



Mudahnya masyarakat menggunakan aplikasi itu juga menuai kekhawatiran Bintoro. Pasalnya, masyarakat bisa dengan mudah menggunakan aplikasi untuk hal-hal negatif. Rencananya, Polresta Depok akan melaporkan temuan penggunaan WeChat untuk prostitusi ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Atas perbuatannya, para tersangka djerat pasal

295 dengan ancaman hukuman 1 tahun 4 bulan penjara. DP, seorang tersangka mengaku menggunakan WeChat setelah mendapat informasi dari teman-temannya. "Nanya dari teman-teman yang menggunakan WeChat," ucapnya.

Sedangkan tersangka pria, MR dan MF kompak mengaku tak terlibat. Mereka mengklaim hanya teman tersangka perempuan dan ikut terkena penggerebakan saat berada di apartemen.

Dalam perkara lain, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok telah menangkap T (23) yang diduga melakukan upaya pencabulan terhadap anak di bawah umur pada awal Juli 2018. Awalnya, korban berinisial T (17) berkenalan dengan tersangka melalui media sosial.

Dari perkenalan itu, tersangka mengajak korban bertemu di  Apartemen Margonda Residence 4, lantai 10, Jalan Margonda Raya, Kemirimuka. Di sana, tersangka berupaya mencabuli korban. Namun, tindakan tak senonoh tersebut menuai perlawanan korban.***

Bagikan: