Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 26.2 ° C

Masuk Daftar Satwa Dilindungi, Pelihara Cucak Rawa dan Murai Harus Kantongi Izin

Nurhandoko
PETERNAK memberikan pakan di tempat penangkaran burung muray batu di Desa Teluk Pinang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 21 Juli 2018.*
PETERNAK memberikan pakan di tempat penangkaran burung muray batu di Desa Teluk Pinang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 21 Juli 2018.*

CIAMIS,(PR).- Tidak hanya penangkar, para hobiis kicaumania yang memelihara burung berkicau di antaranya murai batu, cucakrawa, dan beberapa jenis lainnya sempat resah dengan munculnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2018 tentang satwa dilindungi. Mereka khawatir burung peliharaannya disita.

Kekhawatiran itu disebabkan karena hingga saat ini sebagian besar pemilik belum mengantongi surat izin. Disamping itu juga tidak mengetahui proses mengurus dokumen kepemilikan satwa yang di alam liar populasinya semakin berkurang.

“Munculnya peraturan menteri LHK tidak masalah, Hanya saja kami khawatir masih banyak pemilik yang belum mengetahui, dan keadaan itu dimanfaatkan oleh oknum untuk menyita atau lainnya,” tutur Endu Suherman, salah seorang penangkar burung cucakrawa di Ciamis, Minggu, 12 Agustus 2018.

Dia menambahkan, di kalangan hobiis, burung cucak rawa, murai batu dan beberapa lainnya menjadi favorit. Tidak hanya tampilannya yang eksotik, tetapi juga memiliki nilai ekonomis tinggi.

Namun adanya aturan baru tersebut masih harus disosiialisasikan lebih intensif, termasuk berbagai hal yang terkait dengan pemeliharaan atau penangkaran.

“Sebelumnya sempat takut kalau burung peliharaan kami bakal disita. Akan tetapi setelah mendapat pencerahan melalui sosialisasi, sedikit tenang karena menjamin tidak ada penyitaan atau aturannya berlaku surut,” ujarnya.

Endu mengatakan, banyak warga yang menggantungkan kehidupannya dari memelihara burung, baik itu sektor penangkaran maupun pemelihara. Bahkan banyak pihak yang menjadikan usaha tersebut sebagai sumber perekonomian keluarga.

“Tidak hanya penangkar dan pemilik, akan tetapi juga banyak pihak terkait seperti perajin sangkar, pembudidaya pakan dan lainnya. Kami harap proses pengurusan perizinan tidak berbelit, dibuat yang sederhana,” tuturnya.

562 jenis burung



Terpisah Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Ciamis Himawan Sasongko menyatakan agar pemilik, penangkar burung berkicau yang baru masuk daftar satwa dilindungi, tidak resah. Permen LHK Nomor 20 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi, tidak berlaku surut.

Dia mengatakan, dalam aturan baru, ditetapkan 919 jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Sebanyak 562 atau 61 persen diantaranya merupakan jenis burung. Beberapa burung yang sebelumnya tidak masuk daftar, saat ini masuk dalam daftar. Di antaranya murai, cucakrawa dan lainnya.

“Masyarakat, penangkar dan pemilik tidak perlu resah. Aturan tersebut tidak berlaku susrut. Dan tidak benar yang memelihara  atau meangkar burung seperti murai batu, pleci, cucakrawa akan dipidana. Itu tidak benar, hoaks,” kata Himawan Sasongko.

Himawan menjelaskan salah satu alasanya munculnya aturan tersebut yakni di alam liar populasi burung jenis tersebut mengalami penurnan drastis. Hasil survei Tahun 2010- 2014 terjadi penurunan populasi mencapai 50 persen.  

“Burung atau satwa tersebut menjadi memiliki peran penting, selain dapat menjadi pengendali hama sekaligus juga penyebar biji dan lainnya. Keberadaan satwa tersebut sangat penting dalam upaya menjaga keseimbangan ala,” ujarnya.***

Bagikan: