Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 28.8 ° C

Kurangi Pencemaran Sungai Citarum, Kotoran Sapi Harus Dimanfaatkan

Hendro Susilo Husodo
Warga bercocok tanam di atas tanah hasil dari proses sedimentasi aliran sungai Citarum di kampung haur hapit desa Bojongsari kecamatan Bojong soang kabupaten Bandung. Kamis, 5 April 2018 lalu. Selain terdampak limbah, sungai Citarum juga menghadapi penyempitan lebaran aliran sungai akibat sedimentasi pada bantaran sungai yang kini banyak dipergunakan warga untuk bercocok tanam.*
Warga bercocok tanam di atas tanah hasil dari proses sedimentasi aliran sungai Citarum di kampung haur hapit desa Bojongsari kecamatan Bojong soang kabupaten Bandung. Kamis, 5 April 2018 lalu. Selain terdampak limbah, sungai Citarum juga menghadapi penyempitan lebaran aliran sungai akibat sedimentasi pada bantaran sungai yang kini banyak dipergunakan warga untuk bercocok tanam.*

NGAMPRAH, (PR).- Para peternak sapi di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, diarahkan untuk memanfaatkan kotoran sapi sebagai media untuk tanaman. Selain dapat mengurangi pencemaran di aliran Sungai Citarum, pemanfaatan kotoran sapi untuk dijadikan pupuk juga dapat meningkat produktivitas pertanian.

Dosen Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Windi Al Zahra mengatakan, kotoran sapi mengandung unsur nitrogen dan fosfor. Unsur tersebut merupakan komponen yang diperlukan untuk tanaman. Dia menyontohkan penggunaan pupuk NPK pada pertanian, karena mengandung nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). 

"Kotoran sapi itu sebetulnya mengandung nitrogen dan fosfor, yang diperlukan oleh tanaman sebagai pupuk organik. Nah, ketika (kotoran sapi) tidak dimanfaatkan, karena saat ini banyak terbuang, itu sama saja dengan kita membuang pupuk, membuang nitrogen, fosfor, serta nutrien yang dibutuhkan tanaman," kata Windi di Lembang, Kamis 9 Agustus 2018.

Oleh karena itu, dia menyayangkan ratusan ton kotoran sapi yang terbuang dari peternakan di sekitar Lembang setiap harinya. Padahal, kata dia, kalau kotoran sapi itu dapat dimanfaatkan, maka produktivitas pertanian akan lebih baik. Bahkan jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia yang lebih mahal. 

"Sebetulnya pupuk kandang atau pupuk organik itu diperlukan untuk kesuburan tanah, itu yang paling penting. Ketika tanah itu dikasih pupuk kimia terus-menerus, yang terjadi adalah tanah itu miskin unsur hara. Pupuk organik inilah yang berperan untuk memperbaikinya," terangnya.

Apabila peternak menggunakan pupuk organik, lanjut dia, maka secara tidak langsung peternak juga memperbaiki unsur hara pada tanah. Ketika tanahnya sudah baik, dan petani menggunakan pupuk organik, maka peningkatan produktivitas pertanian dapat terjadi. "Sama saja mereka memperbaiki tanah, dan pada saat yang bersamaan mereka mendapatkan hasil yang lebih baik untuk tanaman," ujarnya.

Urine



Ditanya soal urine sapi yang juga terbuang ke aliran Sungai Citarum, Windi menyatakan bahwa kandungan nitrogen di urin sapi lebih tinggi dibandingkan kandungan nitrogen di kotoran sapi. Meski begitu, sementara ini belum ada panduan teknis dalam menangkap nitrogen pada urin sapi. Padahal, urin sapi yang banyak terbuang ke sungai dapat mengakibatkan badan air mengalami eutrofikasi atau kelebihan nutrien. 

"Kalau kita melakukan pengukuran, bisa dilihat kadar DO-nya, atau dissolved oxygen. Di dalam air itu kan ada oksigen, yang diperlukan. Nah, ketika itu terlalu banyak di badan perairan, yang terjadi adalah kelebihan bahan organik, sehingga DO-nya akan turun. Ketika itu turun, dia tidak bisa mencerna bahan organik di perairan. Akhirnya, ikan tidak bisa bernapas dan terjadi kematian ikan secara masal," paparnya.

Sebelumnya diberitakan, dalam sehari diperkirakan terdapat sekitar 180 ton kotoran sapi yang masuk ke aliran Sungai Citarum dari peternakan sapi di kawasan Lembang. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, mengingat Lembang dan sekitarnya terkenal sebagai daerah penting penghasil susu sapi Jawa Barat. 

"Secara nasional, produksi susu kami baru memasok 20 persen (kebutuhan susu dalam negeri), sedangkan 80 persen lagi masih impor. Dengan demikian, kami harus meningkatkan produksi susu dalam negeri. Di antaranya melalui penambahan sapi. Akan tetapi, persoalannya adalah ada kotoran sapi saat ini belum tertangani dengan baik. Baru 20 persen saja yang tertangani," kata Ketua Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPSBU) Dedi Setiadi.***

Bagikan: