Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sedikit awan, 15.9 ° C

Perempuan Target Utama Penyebaran Terorisme

Ani Nunung Aryani

CIREBON, (PR).- Perempuan menjadi target utama penyebaran paham radikalisme. Selain karena lebih mudah dipengaruhi, perempuan juga lebih banyak waktu menggunakan sosial media.

Menurut mantan narapidana terorisme yang sudah tobat Kurnia Widodo, saat ini sosmed menjadi sarana penyebaran paham radikalisme yang sangat masif dan berbahaya.

“Kalau dulu masa saya mulai bergabung, butuh waktu tahunan untuk menjadikan seseorang untuk menjadi seseorang memiliki paham radikal. Namun saat ini hanya dalam waktu dua bulan bisa mengubah seseorang menjadi radikal, “ katanya seusai menjadi narasumber dalam kegiatan literasi digital “Saring Sebelum Sharing” di Hotel Luxton, Kamis, 9 Agustus 2018.

Kegiatan digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai upaya melawan radikalisme dan terorisme.

Kegiatan diikuti puluhan peserta dari sejumlah komunitas yang aktif di media sosial dan seputar literasi, maupun mahasiswa jurusan informatika dari sejumlah perguruan tinggi di Cirebon.

Selain perempuan, pemuda juga menjadi target empuk kelompok radikal. Selain memanfaatkan sosmed, isu ketidakadilan hingga isu agama menjadi kata kunci yang efektif mengajak pemuda bergabung.

Kegiatan literasi digital digelar agar pemuda  memahami ajakan-ajakan terorisme yang terselubung dalam peredaran informasi di jagat maya. "Kami sengaja menyasar anak muda karena mereka ini target kelompok radikal," kata Ketua FKPT Jabar, Yaya Sunarya di sela kegiatan.

Menurut dia, pemuda menjadi target empuk mengingat jati dirinya belumlah utuh. Di tengah upayanya mencari jati diri, para pemuda kerap langsung terbawa kala menemukan ajakan yang dianggapnya rasional.

Isu-isu agama pun seringkali dimainkan untuk menjerat mereka. Selain itu, isu-isu ketidakadilan dan penindasan menjadi kata kunci yang dinilai cukup efektif.

Isu-isu tersebut kerap digunakan terutama untuk merekrut para pemuda bergabung dengan kelompok-kelompok radikal.

"Ini yang coba kami cegah melalui literasi digital, agar lebih banyak memunculkan konten-konten positif yang menyerukan perdamaian dan persatuan," ucapnya.

Literasi digital



Sementara Ketua Pelaksana Kegiatan, Machmud Mubarok mengatakan, literasi digital dipandang penting agar masyarakat setidaknya punya cara menyaring informasi dan tak sembarangan menyebarluaskannya. Dia mengakui, tingkat membaca masyarakat Indonesia sendiri masih rendah.

"Dalam kondisi itu, masyarakat Indonesia dihantam banjir informasi sehingga makin jauh dari kecerdasan membaca informasi," tuturnya.

Bahkan, tak jarang sebagian masyarakat menyebarkan informasi tanpa memedulikan kebenarannya. Hanya membaca judul tanpa mengamati isi, berita pun disebar, meski terkadang informasi itu merupakan kebohongan (hoaks).

Menurut Machmud, di situlah pentingnya literasi digital. Karenanya, kaum muda pun dituntut melek literasi digital demi menghindarkan diri dari informasi dan pandangan yang salah.***

Bagikan: