Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Nasib 13 ABK yang Hilang di Perairan Indramayu Masih Belum Jelas

Gelar Gandarasa
KN 206 Sar bersandar di perairan Karangsong, Indramayu, Sabtu 4 Agustus 2018. Kapal pencari itu mengalami masalah teknis pada genset saat mencari 13 ABK yang masih hilang.
KN 206 Sar bersandar di perairan Karangsong, Indramayu, Sabtu 4 Agustus 2018. Kapal pencari itu mengalami masalah teknis pada genset saat mencari 13 ABK yang masih hilang.

INDRAMAYU, (PR).- Pencarian 13 korban hilang KM Bunga Hati II terus berlanjut dihari kedua, Sabtu 4 Agustus 2018. Tiga kapal dikerahkan ke koordinat terakhir hilangnya kapal nelayan tersebut. Namun sayangnya proses pencarian terkendala oleh kencangnya angin dan ombak.

Pencarian dimulai pada pukul 06.00 WIB dari wilayah Sumur Adem dan Karangsong Indramayu. Kepala Basarnas Jawa Barat Deden Ridwansyah mengatakan, ada tiga kapal yang dikerahkan dalam pencarian tersebut. Kapal itu antara lain KN 206 milik SAR, kapal nelayan Mandala 525, dan PATKAMLA Gebang TNI AL. "Kita kerahkan ke area perhitungan radius 443 nautical mile," ungkap dia di Posko Basarnas Karangsong.

Deden menambahkan, sejauh ini tim Basarnas belum menemukan indikasi positif terkait keberadaan para awak kapal KM Bunga Hati II. Meski sudah dilaporkan terbalik, tim belum berhasil mencapai lokasi kapal tersebut. "Kemarin nelayan Karangsong menemukan kapal (KM Bunga Hati II) dalam kondisi terbalik. Namun tim belum melihat kondisi kapal," katanya.

Sulitnya menjangkau lokasi dikarenakan oleh faktor cuaca ekstrem. Kecepatan angin di perairan Indramayu bisa mencapai 18 knot. Bahkan sehari sebelumnya angin bisa mencapai 20 knot. Tak heran ombak ganas pantura menghantam cukup kuat kapal penyelamat. Kendati demikian, pencarian akan terus dilakukan. Tim akan mencari sesuai koordinat yang telah ditentukan. Adapun tim yang diterjunkan berasal dari Basarnas, LANAL Cirebon, Polair Indramayu, BPBD Indramayu, KPLP (kesatuan penjagaan laut dan pantai), UPP (unit penyelenggara pelabuhan) Indramayu dan Ditlolairud Polda Jabar.

Dia pun mengimbau kepada para nelayan untuk tetap memikirkan keselamatan. Jika tak memungkinkan diminta nelayan mengurungkan niat melaut. Kejadian hilangnya 13 awak kapal KM Bunga Hati II bisa dijadikan pelajaran. Nelayan kata dia, tetap memaksa melaut meski adanya himbauan angin kencang dari BMKG. "Terkadang himbauan diabaikan oleh nelayan," ungkapnya.

Ombak kencang



Berdasarkan pantauan "PR" di sekitar perairan Karangsong, Sabtu 4 Agustus 2018 siang, kecepatan angin laut cukup kencang. Kapal patroli milik Polairud Karangsong tak mampu menerjang kencangnya ombak saat berpatroli. Tak ayal kapal pun balik arah mengingat kencangnya ombak.

Kapolres Indramayu AKBP Arif Fajarudin ikut terjun untuk berpatroli ke laut. Arif tak henti-hentinya memberikan peringatan kepada nelayan di sekitar perairan Karangsong untuk tetap berhati-hati saat mencari ikan. Mengingat kencangnya ombak para nelayan diminta untuk tidak melaut. Dalam proses pencarian para petugas penyelamat juga tetap diminta untuk memperhatikan keselamatan. Jangan sampai petugas mengabaikan keselamatannya sendiri.

Dia menambahkan, tim pencari pun masih melakukan penyisiran di area ditemukannya KM Bunga Hati II. "Tadi kita mencari 6 mil dari daratan Karangsong. Kita berupaya menemukan korban kecelakaan. Pemerintah hadir untuk mencari para korban," katanya.

KM Bunga Hati II hilang pada Jumat 3 Agustus 2018 dini hari. Kapal nelayan berbobot 27 gross ton itu ditemukan oleh KM Jaya Mulya pada Jumat pagi. Namun 13 anak buah kapal belum diketemukan keberadaannya. Di sekitar kapal hanya ditemukan jaring dan drum bahan bakar yamg berserakan.***

Bagikan: