Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.4 ° C

Gelombang Tinggi Masih Membayangi Pemukiman Warga di Pesisir Sukabumi

Ahmad Rayadie

PALABUHANRATU, (PR).- Empasan gelombang tinggi di sepanjang pesisir Pantai Selatan Palabuhanratu, Minggu 29 Juli 2018, masih terus membayangi aktivitas warga. Gelombang tinggi yang terjadi sepekan terakhir pada tengah malam hingga pagi ini sangat mencemaskan. 

Hampir setiap hari warga yang tengah tidur harus mendengar gemuruh gelombang yang cukup menakutkan.

Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan seperti gelombang tinggi yang mengancam keselamatan, warga di sekitar Pantai Cisolok dan Palabuhanratu melakukan ronda malam. Mereka mewaspadai gelombang tinggi yang sewaktu-waktu dapat menyapu pemukimannya. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan warga sekitar pantai untuk waspada terhadap gelombang tinggi yang akan terus terjadi hingga Minggu 29 Juli 2018.

Gelombang laut yang diperkirakan mencapai 6 hingga 9 meter itu sangat terasa saat memasuki sore hingga pagi hari. 

"Dalam sepekan terakhir ini, kami harus berjaga-jaga karena dikhawatirkan gelombang laut datang secara tiba-tiba menyapu pemukiman warga. Apalagi BMKG telah mengeluarkan imbauan agar warga waspada kekhawatiran adanya  gelombang tinggi susulan," kata Muswandi, warga Cimaja, Palabuhanratu.

Nelayan nekat melaut



Kendati ada imbauan dari BMKG agar warga waspada terhadap gelombang tinggi susulan, ada sebagian kecil nelayan memilih untuk tetap pergi melaut.

Mereka nekat pergi melaut karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tuntutan ini sangat dirasakan karena dalam sepekan terakhir mereka tidak menangkap ikan.

Seperti yang dilakukan para nelayan di Pantai Cibangban, Desa Pasirbaru, Kecamatan Cisolok. Mereka sibuk mempersiapkan perahu dan alat-alat menangkap ikan sejak pagi untuk pergi melaut pada sore hari.

"Nelayan yang pergi melaut hanya sebagian kecil saja. Kendati cukup berbahaya, tapi tudak ada pilihan lain untuk mencari kebutuhan sehari-hari," kata salah seorang nelayan Cisolok, Dasep.

Sementara mayoritas nelayan, kata Dasep, lebih memilih tidak melaut dan mencari pekerjaan menjadi kuli bangunan dan pikul di pasar karena gelombang laut sangat berbahaya.

"Karena sangat berbahaya, banyak nelayan tidak mau mengambil risiko melaut, apalagi gelombang laut sangat berbahaya," katanya.***

Bagikan: