Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.3 ° C

Penghasil Kopi Robusta Terbanyak, Kabupaten Bogor Belum Puas

Hilmi Abdul Halim
KOPI asal Cibulao Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor dipamerkan dalam suatu acara di kawasan perkebunan teh setempat beberapa waktu lalu. Produksi kopi lokal belum maksimal meskipun pemerintah daerah setempat mengklaim menjadi penghasil kopi robusta terbesar di Jawa Barat.*
KOPI asal Cibulao Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor dipamerkan dalam suatu acara di kawasan perkebunan teh setempat beberapa waktu lalu. Produksi kopi lokal belum maksimal meskipun pemerintah daerah setempat mengklaim menjadi penghasil kopi robusta terbesar di Jawa Barat.*

CIBINONG, (PR).- Pemerintah Kabupaten Bogor mengklaim daerahnya sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Barat untuk jenis robusta. Namun hasil produksi sebanyak 2.844.528 kilogram per tahun dianggap belum maksimal.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikulturan dan Perkebunan setempat berupaya lebih intensif dalam dua tahun terakhir. "Rata-rata produksi 750-800 kilogram per hektare. Sementara produksi yang ideal sekitar 1.500-2.000 kilogram per hektare," kata Kepala Bidang Perkebunan di Dinas terkait Irma Villayanti, Minggu, 29 Juli 2018.

Menurut dia, sebagian di antara petani lokal belum mengetahui proses produksi kopi yang baik. Irma memperkirakan hasil produksi dari 40 kelompok tani yang dibina di seluruh daerahnya bisa melebihi 2.955.600 kilogram total produksi kopi robusta dan arabika per tahun.

Salah satu pengetahuan yang belum banyak diketahui petani kopi lokal seperti pemangkasan pohon kopi. "Jadi di Bogor ini banyak pohon kopinya tinggi-tinggi. Kalau itu dipangkas bisa meningkatkan produksi hingga tiga kali lipat," kata Irma menyatakan pihaknya fokus menyosialisasikan itu pada petani.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan memaksimalkan lahan tidur untuk menambah luas areal tanam sekaligus meningkatkan jumlah produksi. Irma tidak menyebutkan potensi lahan yang belum tergarap. Ia hanya menyebutkan luas areal tanam saat ini mencapai 6.059 hektare terdiri dari 408 hektare arabika dan 5.651 hektare robusta.

Permasalah lain yang dirasakan para petani lokal ialah kekurangan modal. Karena itu, Irma mengaku berupaya membangun kemitraan dengan perusahaan perbankan untuk menyedian Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus bagi para petani kopi lokal.

Kerja sama juga telah dibangun secara swadaya oleh para petani dengan Perhutani. Kerja sama tersebut lebih kepada penggunaan lahan Perhutani yang dianggap kurang produktif untuk dikelola menjadi perkebunan kopi.

Terakhir, Pemerintah Kabupaten Bogor juga menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk membantu memasarkan produk kopi lokal. Salah satunya pada peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) ke-46 Jawa Barat di Stadion Pakansari Kabupaten Bogor, 27-29 Juli 2018.

Rasa yang khas



Menurut penilaian para ahli kopi asal Kabupaten Bogor memiliki nuansa rasa buah dan karamel yang khas. Karena itu, Bupati Bogor Nurhayanti menganggap produk kopi lokal berpotensi meningkat perekonomian masyarakat bahkan menjadi penyangga perekonomian ke depannya.

"Kita upayakan distribusinya bisa maksimal. Dengan masyarakat mampu menggali potensi, maka daya ekonomi mereka juga akan meningkat," kata Nurhayanti. Menurutnya, pemerintah daerahnya berupaya lewat pembinaan kepada para petani kopi lokal untuk mengelola proses produksi dari hulu ke hilir.

Kecamatan Sukamakmur menjadi wilayah penghasil kopi jenis arabika terbesar di Kabupaten Bogor dengan hasil produksi 89.676 kilogram per tahun. Sedangkan wilayah penghasil kopi robusta banyak terdapat di Kecamatan Tanjungsari dengan hasil produksi mencapai 1.042.500 kilogram per tahun.

Nurhayanti berharap kualitas produk kopi lokal bisa lebih bersaing di pasar nasional maupun internasional. Menurut informasi yang ia terima, sample kopi asal daerahnya telah dikirim ke sejumlah negara lain seperti Korea dan Singapura, untuk memancing permintaan dari luar negeri.***

Bagikan: