Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian berawan, 22.3 ° C

Kekeringan, 100 Hektare Sawah di Ciamis Terancam Gagal Panen

Nurhandoko

CIAMIS,(PR).- Sedikitnya 100 hektare persawahan siap panen di wilayah lumbung padi Ciamis, Kecamatan Lakbok dan Purwadadi terancam kekeringan. Mengantisipasi gagal panen akibat kekurangan air, Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis langsung mengirim bantuan 30 unit pompa air.

“Kami mengirim bantuan 30 unit mesin pompa air, semoga tanaman dapat selamat hingga panen. Bagaimana pun juga berharap tersedia air sehingga dapat dialirkan untuk mengairi areal persawahan tersebut,”  tutur Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Ciamis Kustini, Selasa 24 Juli 2018.

Dia mengatakan ancaman kekeringan lebih banyak terjadi pada persawahan tadah hujan. Sebagian diantara persawahan tadah hujan tersebut, sudah ada yang panen, akan tetapi lainnya baru menginjak siap panen. Sementara itu tanaman lainnya baru keluar malai hingga belum keluar batang padi. “Yang tanam lebih awal, sekarang sudah memasuki panen. Akan tetapi ada juga yang terlambat tanam, sehingga kekurangan air. Semoga masih dapat diselamatkan,” ujarnya.

Kustini menambahkan Dinas Pertanian juga sudah memersiapan bantuan mesin pompa air yang bersifat mobile atau mudah dipindah sesuai kebutuhan. Selain itu juga berharap agar kelompok tani mengoptimalkan pemakaian mesin pompa air. “Kelompok tani sudah mendapat bantuan mesin pompa air, sekarang pemakaiannya tinggal dioptimalkan. Sampai saat ini kami belum mendapat laporan adanya tanaman puso akibat kemarau,” tutur Kustini.

Panen lebih awal



Sementara itu petani di wilayah kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis juga terpaksa memilih panen lebih awal, karena khawatir tanaman mati akibat kekurangan air. Kondisi itu mengakibatkan produksi turun dan berpengaruh terhadap kualitas gabah. “Kondisi normal 100 bata dapat panen 5 – 6 kwintal gabah  (gabah kering giling, GKG -red). Akan tetapi sekarang hanya dapat paling banyak 3 kwintal. Bahkan ada yang lebih parah, paling banyak Cuma 1 kwintal,” ungkap Kustiwa, petani asal Handapherang.

Disela panen padi, dia mengaku akibat kekurangan air, banyak bulir padi yang kosong, selain itu juga bulir yang masih hijau, karena pertumbuhannya terganggu. Kustiwa mengatakan terpaksa panen sedikit lebih awal, untuk mengantisipasi gagal panen. “Sekarang ini dari 100 bata paling hanya dapat 3,5 kwintal gabah (GKG). Banyak gabah yang kosong, hampa dan banyak juga yang masih hijau.  Kalau tidak segera dipanen, tanaman bisa mati, kurang air,” katanya.

Didampingi petani lainnya, Misno, dia mengaku masih beruntung dapat panen, karena beberapa petak sawah di sekitarnya tidak dapat panen akibat tanaman kering. Sedangkan petak lainnya tanaman sudah keluar malai, akan tetapi daunnya sudah menguning. “Sawah di sini memang tadah hujan, jadi kalau kemarau kondisinya ya seperti ini. Kemaru juga mengakibarkan kualitas gabah kurang bagus, karena banyak yang hampa dan belum tua,” ujarnya.***

Bagikan: