Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 23.6 ° C

Indramayu: Orasi Sunyi dari Sastrawan yang Dilupakan

Gelar Gandarasa
YOHANTO (kanan) menunjukkan koleksi buku karangannya di kediamannya di Jalan Tembaga Indramayu, Kamis 12 Juli 2018. Yohanto adalah segelintir pegiat literasi yang masih tersisa di Indramayu.*
YOHANTO (kanan) menunjukkan koleksi buku karangannya di kediamannya di Jalan Tembaga Indramayu, Kamis 12 Juli 2018. Yohanto adalah segelintir pegiat literasi yang masih tersisa di Indramayu.*

ABUK begitu asyik membaca sebuah buku yang barangkali bagi kebanyakan orang tidak akrab di telinga. Namun, lembar demi lembar terus ia buka dan baca. Sesekali Abuk nampak melamun memikirkan sesuatu tatkala membaca tulisan tersebut.

Saat ditanya terkait bacaannya tersebut, pria kelahiran tahun 1955 itu dengan lancar menjelaskannya. Kala itu Abuk tengah membaca buku berjudul Orasi Sunyi karangannya sendiri.

Belum banyak yang tahu, Abuk yang bernama asli Yohanto A Nugraha adalah pegiat literasi yang masih tersisa di Kabupaten Indramayu. Hingga detik ini ia masih aktif berkarya di bidang sastra khususnya puisi.

Tak heran, sejak kemunculannya pada tahun 70-an, sudah banyak karya puisi yang ia keluarkan. Salah satu yang paling berkesan yakni kumpulan puisi yang dibukukan ke dalam judul Orasi Sunyi. Betapa tidak, di dalam buku tersebut banyak puisi-puisi yang menyiratkan semangat literasi.

“Buku itu lahir pada era reformasi. Saya tidak membuat puisi kritik karena pada saat itu terlarang,” katanya, Kamis 12 Juli 2018.

Karya puisi yang ia buat lebih banyak melibatkan kearifan lokal. Banyak diksi-diksi yang diambil dari lingkungan yang ada di Pantura Indramayu. Contohnya saja ia menggunakan kata teripang dan laut dalam beberapa puisinya. Dua kata tersebut mencirikan kehidupan masyarakat di sekitar laut Pantura Indramayu.

“Saya ingin membawa suasana laut Pantura ke dalam puisi. Sangat jarang seniman yang melakukannya,” kata pria yang memiliki nama lahir Lie Keng Hoek itu.

Dia memandang, literasi sejak dahulu memang kurang begitu diminati oleh kaum muda. Namun setidaknya ia akan terus berjuang membudayakan literasi ke tengah-tengah masyarakat saat ini. Konsistensi memang hal paling sulit untuk dilakukan. Apalagi di tengah kondisinya saat ini yang terserang stroke.

Sebagian tubuh Abuk kini tak bisa digerakkan. Untuk berjalan normal pun ia tidak bisa. Keterbatasan kondisi fisik tak membuat semangatnya luntur. Hal itu malah menjadi pemicu dirinya untuk tetap berkarya walau di tengah kondisi pas-pasan.

Tekanan ekonomi



Salah seorang seniman asli Indramayu, Saptaguna menilai, Abuk memang seniman asli Indramayu. Sejak dulu hingga sekarang Abuk konsisten menggelorakan semangat literasi di Kabupaten Indramayu. Hal itulah yang membedakan Abuk dengan seniman-seniman lainnya.

“Dia hanya fokus di puisi saja. Walau terkadang sering melukis juga,” kata Saptaguna.

Tak jarang, kata dia, banyak seniman beralih profesi karena tekanan ekonomi. Hal itu tidak terjadi pada Abuk. Abuk tetap semangat berliterasi walau ekonominya tidak menjanjikan.

“Banyak seniman tak tahan dengan kemiskinan,” ungkapnya.

Dia berharap, semangat tersebut tertular kepada anak-anak muda yang ada di Indramayu. Apalagi kondisi saat ini, literasi kurang begitu diminati oleh kalangan muda. Menurutnya banyak potensi-potensi bagus yang ada di Indramayu. Pasalnya Indramayu banyak menyimpan seniman-seniman di berbagai keahlian. Jika dikelola dengan baik tentunya hal itu bisa menjadi keuntungan bagi pemerintah daerah.***

Bagikan: