Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Kisah Tole Iskandar, Pahlawan Asal Depok yang Menembak Jatuh Pesawat Belanda

Bambang Arifianto
Roni Yudianto menunjuk foto yang mirip pejuang kemerdekaan, Tole Iskandar di kediamannya, Gang Kembang, RT/RW 3, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Jumat  7 Juli 2018. Tole Iskandar merupakan pejuang kemerdekaan asli Depok yang gugur di Cikasintu, Kabupaten Sukabumi.*
Roni Yudianto menunjuk foto yang mirip pejuang kemerdekaan, Tole Iskandar di kediamannya, Gang Kembang, RT/RW 3, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Jumat 7 Juli 2018. Tole Iskandar merupakan pejuang kemerdekaan asli Depok yang gugur di Cikasintu, Kabupaten Sukabumi.*

PESAWAT kecil milik Belanda itu terbang melintasi langit Depok untuk berpatroli. Saat melewati Jalan Raya Citayam, bunyi senjata menyalak terdengar dari sebuah rumah diringi hamburan peluru melesat ke arah badan pesawat. Konon, kapal capung nahas itu pun terjatuh di sekitar lokasi penembakan.

Cerita heroik di masa perjuangan kemerdekaan tersebut masih diingat Roni Yudianto (52). Informasi tersebut didapatnya secara turun temurun dari pihak keluarga. Soalnya, penembaknya adalah kakak dari ayahnya atau Pakde dari Roni yang bernama Tole Iskandar.

Tole Iskandar bukanlah nama asing bagi warga Depok. Namanya diabadikan menjadi nama ruas jalan yang terbentang dari Jembatan Panus hingga Simpangan Depok. Riwayat Tole lekat dengan sejumlah aksi heroik. Aksi penembakan burung besi Belanda menjadi salah satu momen heroik yang masih diingat keluarga dan teman-teman seperjuangangannya.

Kendati demikian, detail peristiwa itu tak terlalu diingat betul oleh Roni. Roni merupakan anak Slamet Mulyono, adik bungsu Tole. Menurutnya, penembakan dilakukan oleh Tole dari markas Laskar 21 di kawasan Jalan Raya Citaram, Pancoran Mas. Kini, jejak rumah markas laskar para pemuda atau pejuang Depok juga telah lenyap.

"Sudah jadi Ruko, diruntuhin," kata Roni. Roni mengungkapkan hal itu saat berbincang dengan Pikiran Rakyat di kediamannya, Gang Kembang, RT/RW 3, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Jumat 6 Juli 2018.

Tole merupakan anak pertama dari pasangan Raden Samidi Darmo Raharjo dan Ibu Sukati Setjodiwirjo. Dia memiliki beberapa adik yakni  Nyimas Tuti, Soekesih, Suyoto, Sugito, Mulyati, Slamet Mulyono. "Lahirnya di Gang Kembang," ucap Roni. Identitas Tole memang cukup misterius. Pihak keluarga pun tak memiliki foto Tole. Satu-satunya rupa yang diperkirakan mirip Tole adalah wajah sang adik, Slamet. 

"Fotonya ini minim sekali, karena dia seorang pejuang kalau dia difoto tergambar kemungkinan dia bisa ditangkap NICA (Belanda), itu saja masalahnya," ucap Roni.

Demikian pula dengan riwayat hidup Tole yang cukup tersembunyi. Roni mengungkapkan, pejuang lokal Depok tersebut dikenal sebagai pemuda pendiam dan rajin berolahraga. Pemuda itu kerap berolahraga menggunakan barbel dan bela diri silat. Kebiasaan lain Tole adalah memelihara hewan peliharaan dan berburu. Tole menghilang dari keluarga saat Jepang mulai berkuasa pada 1942-1945. "Pulang ke rumah orang tuannya (Tole) sudah jadi Peta (Pembela Tanah Air)," ucap Roni. Di korps tentara sukarela bentukan Jepang itu Tole digembleng sebagai serdadu.

Menurut Roni, Tole bergabung dengan Peta tanpa izin dari orang tua. Namun, darah muda dan panggilan untuk berjuang membuatnya bergabung di kesatuan militer tersebut. Tak butuh lama, kumandang proklamasi kemerdekaan pun mengugah Tole ikut berjuang. Dia mengumpulkan para pemuda yang rata-rata bermukim di kawasan Depok arah Citayam untuk ikut memanggul senjata. Pasukan ini dikenal sebaga Laskar 21 yang bermarkas di Jalan Raya Citayam. Tole didaulat menjadi komanda para pejuang yang jumlahnya mencapa 21 orang itu. Roni masih ingat beberapa nama anak buah Tole seperti Asbih dan Saadi. Kini, nyaris semua anak buah Tole  telah meninggal. Di sana, Tole memiliki pangkat sebagai Letnan hingga akhir hayatnya.

Bersama pemuda Bogor



Jurnalis Sejarah Hendri Jo mengungkapkan, ‎ Tole sudah dikenal sejak zama Jepang. "Sebetulnya dia sudah aktif dalam berbagai kegiatan-kegiatan kepemudaan Jepang yang waktu itu bersatu dengan pemuda-pemuda Bogor,"ujar Hendri beberapa waktu lalu. Namun, Hendri menduga Tole justru bergabung dengan Keibodan atau barisan pemuda bentukan Jepang bukan Peta.

"Tole ini pada akhirnya bergabung dengan Ibrahim Adje, dengan pasukan Ibrahim Adjie. Dia masuk ketentaraan dengan pangkat letnan," ucap Hendri.

Dalam buku Bogor Masa Revolusi 1945-1950 yang ditulis Edi Sudarjat, Mayor  Ibrahim Adjie memimpin Batalyon I yang berkedudukan di Depok. Batalyon itu menginduk ke Resimen 2 Jawa Barat Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin Letkol Husein Sastranegara. Hendi mengatakan, Tole merupakan sahabat dekat Adjie, mantan Panglima Kodam III/Siliwangi di masa revolusi di wilayah Depok. "Tole sebenarnya terlibat dalam berbagai penyerangan-penyerangan terhadap NICA di Depok, dia juga terlibat dalam peristiwa Gedoran, pokonnya semua kegiatan-kegiatan yang ada di Depok pasti melibatkan Tole dan Margonda  tahun 1947 ke belakang," ucapnya.

Kedekatan tersebut juga dikonfirmasi Roni. Bahkan, adik Tole bernama Tuti menikah dengan adik Adjie, Saidi Adi. Namun, agresi milter Belanda memaksa Tole dan Ibrahim Adjien keluar dari Depok. Pasukan mereka terdesak mundur. ‎ "Setelah pasuka NICa menyerng Depok itu, dia pada akhirnya menyingkir ke luar kota bersama Pasukan Ibrahim Adjie keluar Kota Depok ke Bogor, tetapi di Bogor dipukul lagi, akhirnya dia bergerak ke Cicurug Sukabumi tidak lama kemudian dihajar lagi oleh tentara Belanda," ucap Hendi.

Gugur di Sukabumi

Perbukitan Cikasintu, Kabupaten Sukabumi menjadi lokasi palagan terakhir pejuang asal Gang Kembang Depok tersebut.‎ "Karena dikejar terus akhirnya dia terjepit di daerah Cikasintu, Cikasintu itu adanya di Sagaranten di daerah Nyalindung Kabupaten Sukabumi, ucapnya. Keberanian Tole juga dikenal oleh orang-orang Cikasintu. ‎

"Dia gugur pun dia dalam situasi yang sangat heroik, waktu itu pasukan-pasukan Belanda yang ditugaskan untuk menghancurkan pasuka Tole sudah sampa di Perbukitan Cikasintu dan ketika sampai di Cikasintu, Tole pada akhirnya terdesak karena di belakangnya ada jurang," ucapnya.

Di saat terkepung, Tole masih bisa melumpuhkan delapan serdadu Belanda yang mengerubunginya. Saat seorang serdadu mendekat, Tole melumpuhkan dan merampas senjatanya. Delapan serdadu itu pun meregang nyawa dihantam peluru panas yang dimuntahkan Tole. Tetapi, senjata musuh masih mengincar Tole di balik perbukitan lain. Ada dua versi cerita tentang hal itu. Roni menuturkan, Tole tewas dihantam tembakan meriam tank yang telah mengincarnya. Tubuhnya hancur berkeping-keping. Informasi tersebut beredar di kalangan keluarga dan sempat membuat ibunda Tole trauma. Sedangkan Hendi menduga, Tole gugur oleh sniper atau penembak runduk saat dia mengamuk dan melakukan perlawanan terakhirnya. 

Pejuang lokal Depok ini meninggal bersama dengan seekor anjing peliharaannya yang terlebih dahulu ditembak Belanda. Anjing berjenis helder itu dipelihara Tole dan ikut mendampinginya berjuang. Jasad anak muda yang tewas pada usia sekitar 28 tahun tersebut dikebumikan di Cikasintu dan kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Dereded Bogor. Dia diperkirakan gugur pada Agustus 1947. Jasad boleh hancur berkeping-keping, namun nama Tole abadi pada ruas jalan penghubung Depok dan Jalan Raya Bogor.***

Bagikan: