Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 25.3 ° C

Pembangunan di Depok Ancam Keberadaan Mata Air

Bambang Arifianto
Mata air mengalir di kolong Jembatan Grand Depok City, Kota Depok, Kamis 5 Juli 2018. Kelestarian mata air di tepi Ciliwung tak kunjung mendapat perhatian masyarakat.*
Mata air mengalir di kolong Jembatan Grand Depok City, Kota Depok, Kamis 5 Juli 2018. Kelestarian mata air di tepi Ciliwung tak kunjung mendapat perhatian masyarakat.*

DEPOK, (PR).- Keberadaan sejumlah mata air di sepanjang Sungai Ciliwung, Kota Depok hingga kini tak kunjung mendapat perhatian pemerintah. Padahal, maraknya alih fungsi lahan di sempadan sungai dan praktik pembuangan sampah mengancam mata air tersebut.

Pantauan "PR", Kamis 5 Juli 2018, deretan mata air terlihat di kawasan Jembatan Grand Depok City (GDC). Mata air itu menyembul di sela rerumpunan pohon bambu yang berada di tepi Ciliwung. Pegiat Komunitas Ciliwung Depok (KCD) Taufiq DS menuturkan, mata air banyak ditemui pegiat saat melakukan pengarungan sungai menggunakan perahu. Lokasinya berada di wilayah Kelurahan Pondok Jaya, Ratujaya, Depok, Kemirimuka. ‎ "Air  itu adalah air bersih, semua masuk (mengalir ke) Ciliwung," ujar Taufiq saat ditemui di kediamannya di Jalan Kalimulya, Cilodong, Kamis 5 Juli 2018.

Warga kampung, lanjutnya, mengenal mata air-mata air itu dengan nama entug. Hingga sekarang, keberadaan mata air masih dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan ketika kemarau, mata air tersebut menjadi sumber pasokan air bersih masyarakat. Namun alih-alih dikelola dan dijaga Pemerintah Kota Depok, sumber air tepi Ciliwung kini semakin terancam kelestariannya. Ancaman berasal dari maraknya pembangunan pemukiman dan pembuangan sampah. Taufiq menuturkan, pegiat sempat menemukan pencemaran mata air di kawasan Pondok Jaya. 

Pencemaran



Satu dari tiga mata air yang ada di sana telah tercemar air lindi (limbah sampah). Setelah ditelusuri, pegiat mendapati adanya tempat pembuangan sampah di atas mata air.‎ "Jadi lindi, air sampah turun mencemari, airnya bening cuma bau," tutur Taufiq. Alih fungsi lahan di sempadan Ciliwung juga mengkhawatirkan. Area sempadan semakin habis karena pendirian rumah hunian warga. Tak ayal, kehadiran pemukiman membuat mata air mesti diuruk tanah guna penyediaan lahan.

Taufiq mencontohkan, pengurukan Rawa Dengkul, mata air yang berada di tepi Ciliwung. Rawa tersebut saat ini nyaris mengering karena timbunan tanah. Pengurukan Rawa Dengkul tak hanya berdampak sumber mata air warga sekitar. Bagi Taufiq, pengurukan itu menjadi preseden buruk karena diikuti sejumlah pengembang lain yang tak segan menimbun mata air di lahan miliknya. Pemkot Depok, tuturnya, harusnya segera turun tangan menyelamatkan dan menjaga kelestarian entug-entug di wilayahnya. Pemkot mestinya memasang patok-patok sebagai penanda larangan warga merusak mata air. 

Namun jangankan penyelamatan, pemerintah diyakini tak memiliki data berapa jumlah mata airnya. Apalagi mata air itu banyak ditemukan di tepi sungai.‎ "Sangat penting pendataan mata air itu, karena berhubungan dengan kepemilikan (lahan), kebanyakan sempada mlik perorangan, akibatnya dia sewenang-wenang," ucapnya.  Taufiq menambahkan, mata air di tepi Ciliwung bisa menjadi sumber pasokan air PDAM bila dimanfaatkan. Pendapatan Pemkot pun bakal bertambah dengan adanya sumber baru pasokan air bersih PDAM. 

"Cuma PDAM sekarang baru memanfaatkan air Ciliwung saja belum bergerak ke arah mata air," kata Taufiq. Dia memperkirakan ada sekitar mata air yang masih tersisa di tepian Ciliwung. Keprihatian kondisi mata air sempat dikemukakan pegiat KCD lainnya, Ranggi. "Pinggir kali pembangunan perumahan marak" ucap Ranggi. Saat "PR", mencoba mengonfirmasi persoalan-persoalan tersebut kepada Kepala Dinas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Etty Suryahati, Kamis sore, yang bersangkutan tak merespon sambungan telefon.**

Bagikan: