Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Hasil Pilkada Sejumlah Daerah Berpotensi Sengketa

Hilmi Abdul Halim
PIHAK Komisi Pemilihan Umum Kota Bogor melaksanakan rapat pleno rekapitulasi suara Pemilihan Walikota Bogor dan Gubernur Jawa Barat, Kamis 5 Juli 2018. Badan Pengawas Pemilihan Umum Jawa Barat yang hadir dalam kesempatan itu menyebutkan hasil  perhitungan suara di sejumlah daerah berpotensi sengketa.
PIHAK Komisi Pemilihan Umum Kota Bogor melaksanakan rapat pleno rekapitulasi suara Pemilihan Walikota Bogor dan Gubernur Jawa Barat, Kamis 5 Juli 2018. Badan Pengawas Pemilihan Umum Jawa Barat yang hadir dalam kesempatan itu menyebutkan hasil perhitungan suara di sejumlah daerah berpotensi sengketa.

BOGOR, (PR).- Hasil perhitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di sejumlah wilayah Jawa Barat rawan sengketa. Badan Pengawas Pemilihan Umum Jawa Barat mengarahkan pihak yang keberatan dengan keputusan rapat pleno Komisi Pemilihan Umum, untuk melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

Komisioner Bawaslu Jawa Barat Lolly Suhenty menyebut persengketaan itu berpotensi terjadi di sejumlah daerah seperti Kota Cirebon dan Kabupaten Bogor. "Hasil rekapitulasi (perhitungan suara di setiap daerah -red) masih kita lihat, nanti hari Minggu 8 Juli 2018 rekap di provinsi," katanya, Kamis 5 Juli 2018.

Menurut Lolly, persengketaan Pilkada tersebut berpotensi terjadi di daerah dengan hasil perhitungan suara yang cukup ketat di antara peserta Pilkada. Potensi serupa terjadi pada Pemilihan Bupati Bogor 2018 (Pilbup Bogor) antara pasangan calon kepala daerah nomor urut dua dan tiga. Keduanya bahkan saling mengklaim memenangkan Pilgub kali ini berdasarkan hasil perhitungan suara yang dilakukan oleh tim internal masing-masing. Berdasarkan laporan yang ia terima, hasil perhitungan mereka hanya terpaut kurang dari dua persen.

"Masalahnya sekarang, kedua kandidat ini membuat laporan pengaduan ke Panwaslu. Kita sebagai pengawas akan mengakomodir semua laporan dugaan pelanggaran, tentu kami tindak lanjuti," kata Lolly. Di antara kubu tersebut bahkan mulai melakukan aksi unjuk rasa dan pelemparan telur ke kantor Panitia Pengawas Pemilihan Umum setempat.

Melihat kondisi tersebut, Lolly menduga akan terjadi persengketaan hasil perhitungan suara yang ditetapkan KPU Kabupaten Bogor. Ia berharap penyelesaian sesuai prosedur di MK bisa mengantisipasi konflik antar kubu pasangan calon yang berselisih.

KPU di daerah memberikan waktu selama tiga hari kepada pihak yang keberatan dengan hasil rekapitulasi suara untuk menyampaikan gugatan ke MK. Menurut Ketua KPU Kota Bogor Undang Suryatna, penetapan pemenang Pilkada dilakukan setelah pleno di tingkat provinsi akhir pekan ini apabila tidak ada pihak yang menggugat ke MK.

Asyik dan Badra unggul



Berdasarkan rapat pleno di Kota Bogor, pasangan Bima Arya-Dedie Rachim mendapatkan suara terbanyak pada Pemilihan Walikota Bogor 2018 yakni 215.708 suara (43.64%). Pasangan tersebut mampu mengungguli tiga pasangan lainnya di seluruh kecamatan berjumlah enam kecamatan.

Di posisi kedua, pasangan Ahmad Ruyat-Zaenul Mutaqin memperoleh 153.407 suara (31.03%). Disusul Dadang Danubrata-Sugeng Teguh Santoso dengan perolehan 63.334 (12.81%) dan Edgar Suratman-Safwelly Gunanjar mendapatkan 61.871 (12.52%).

Untuk Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) di Kota Bogor, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) unggul tipis dari Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu). Asyik memperoleh suara sebanyak 173.955 (34.99%) disusul Rindu sebanyak 164.954 suara (33.18%).

Pasangan calon Pilgub Jabar Rindu mendapatkan perolehan suara terbanyak di Kecamatan Bogor Timur, Bogor Tengah dan Bogor Selatan. Sedangkan Asyik unggul di Kecamatan Bogor Utara, Bogor Barat dan Tanah Sareal.

Adapun perolehan suara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi mendapatkan 110.337 suara (22.19%) dan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan mendapat 47.947 suara (9.64%). Di Kabupaten Bogor, proses rekapitulasi suara Pilgub Jawa Barat masih berlangsung hingga Kamis 5 Juli 2018 malam.***

Bagikan: