Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Cerah berawan, 27.8 ° C

Suara Getir Korban First Travel Minta Pemerintah Turun Tangan

Bambang Arifianto
Terdakwa kasus dugaan penipuan biro perjalanan umrah First Travel Andika Surachman (kiri), Anniesa Hasibuan (tengah), dan Kiki Hasibuan (kanan) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, Senin, 19 Februari 2018. Ketiga terdakwa Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki menjalani sidang pembacaan dakwaan kasus penipuan biro perjalanan umrah First Travel yang telah merugikan puluhan ribu calon jemaah umrah dengan total kerugian mencapai Rp924.995.500.000.*
Terdakwa kasus dugaan penipuan biro perjalanan umrah First Travel Andika Surachman (kiri), Anniesa Hasibuan (tengah), dan Kiki Hasibuan (kanan) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, Senin, 19 Februari 2018. Ketiga terdakwa Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki menjalani sidang pembacaan dakwaan kasus penipuan biro perjalanan umrah First Travel yang telah merugikan puluhan ribu calon jemaah umrah dengan total kerugian mencapai Rp924.995.500.000.*

SUARA Surya Justina (39), perempuan‎ asal Pondok Cina, Kota Depok tersebut parau saat mengomentari putusan hakim Pengadilan Negeri Depok terkait kasus penipuan dan pencucian uang jamaah First Travel. Rabu, 30 Mei 2018 siang, tiga bos First Travel yakni Andika Surachman, Anniesa Hasibuan dan Siti Nurhaida Hasibuan alias Kiki divonis oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok. 

Andika mendapat vonis 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar dan  Anniesa 18 tahun penjara denda Rp 10 miliar. Sedangkan Kiki 15 tahun bui denda Rp 5 miliar.

"Saya kurang puas karena tak sebanding dengan korban yang ribuan," ucap Justina di PN Depok, Rabu siang.

Selain gagal berangkat umrah, uang yang disetorkannnya pun tak kembali. Baginya, vonis tersebut tak bisa menghilangkan rasa sakit para korban.

"Apalagi dengan gaya hidup mereka yang kemarin dengan kasat mata semua melihat pakai duit jamaah," ucapnya dengan terisak.

‎Para bos First Travel tersebut seakan bergelimang harta dan kesenangan di tengah ribuan orang yang susah payah mengumpulkan uang demi impian berangkat ke Tanah Suci.

Para korban, tuturnya, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk berangkat umrah. Namun, impian tersebut kandas dan harapan tinggi para jamah terhempas saat First Travel dicabut izin operasional dan dicokok para pimpinannya.

Mestinya, lanjut Justina, bos First Travel harus menderita seperti kondisi para jamaah yang gagal berangkat. 

Janji First Travel akan memberangkatkan ‎serta mengembalikan uang juga tak dipercaya. Selain pimpinannya telah mendapat vonis, harta peninggalan First Travel tak cukup.

"Karena biar bagaimana pun uang dikembalikan atau diberangkatkan sementara kita tahu aset tak sebanding‎," ucapnya.

Hal serupa dilontarkan korban lainnnya, Budi Santoso (47). Warga asal Margonda Depok tersebut meminta pemerintah turun tangan menangani nasib ribuan jamaah First Travel yang gagal umrah.  

"Pemerintah tidak (boleh) cuci tangan, harus ada komisi (khusus) untuk menyelesaikannya," ujar Budi.

Dia merasakan betul getirnya menjadi korban penipuan First Travel. ‎Soalnya, dia tak sendirian mendaftar berangkat umrah. Seluruh keluarganya dengan jumlah tujuh orang ikut serta mendaftar pada paket promo.

Meskipun tak menjelaskan nominal uang setoran yang telah dikeluarkan, kalkulasi kerugian Budi terbilang tinggi mengingat First Travel mematok biaya paket promo senilai  Rp 14.300.000 per-orang.

Paket itu menawarkan fasilitas perjalanan selama 9 hari, penginapan hotel bintang tiga dengan sistem pemberangkatan first in first out (prioritas pemberangkatan bagi yang duluan mendaftar). Promo tersebut ditawarkan sejak Januari 2015 untuk pemberangkatan November 2016.

Korban pun bukan hanya berasal dari jamaah yang gagal berangkat. Sejumlah agen First Travel juga menjadi korban karena kegagalan tersebut. Mereka mendapat tekanan dari berbagai jamaah. Salah satunya, Ruspita Sari (43), agen asal Jakarta.

Ruspita kekeuh aset uang para jamaah harus dikembalikan. "Kami menerima inforasi aset First Travel (tersisa) Rp 200 miliar. Namun, dua minggu sebelum vonis kami diberitahukan (asetnya hanya) Rp 25-30 mili‎ar," tuturnya. 

Padahal, aset tersisa tersebut harus mengganti ‎rugi ribuan jamaah. "Apakah cukup aset (senilai) Rp 25 milier diberikan untuk 63.310 ‎(gagal umrah)‎," katanya.

Pengembalian uang, lanjutnya, menjadi hal terpenting yang harus segera dilakukan. "Kalau untuk diberangkatkan, kami tidak mengharapkan (tergantung) jamaah yang penting dana kembali dulu," ucapnya.

Dia menambahkan, hakim harusnya mengganjar ketiga terdakwa dengan 20 tahun penjara atas perbuatannya tanpa perlu mengurangi hukuman. ‎Kini, suara parau korban tinggal menunggu respon pemerintah: membiarkan atau ikut peduli menolong nasib mereka yang kandas ke Tanah Suci.***

Bagikan: