Pikiran Rakyat
USD Jual 14.413,00 Beli 14.315,00 | Cerah berawan, 24.4 ° C

Tradisi Perang Lodong dan Manfaat Konservasi Bambu

MOMENTUM Ramadan adalah saat yang tepat bagi para warga untuk saling berinteraksi lebih erat dan intim, baik warga sekampung maupun antarkampung. Pergaulan antarwarga itu salah satunya diwujudkan dalam perang lodong. 

Tradisi perang lodong hampir semua palemburan di Tatar Sunda mengalami dan terus melakukannya, baik di perbatasan utara hingga selatan Jawa Barat.

Warga Tanjungsari Sumedang, penduduk Garut, masyarakat Sukaraja Sukabumi, remaja di Kawali Ciamis, warga Salopa Tasikmalaya dan di pedalaman Tatar Sunda sangat femilier dengan tradisi perang lodong. Mereka bermain tembak-tembakan, lebih tepat paharus-harus sora alias berlomba membunyikan dentuman suara yang paling nyaring dilakukan di tengah sawah atau kebun. Perang lodong tentu lebih semarak ketika tiba bulan Puasa.

Inilah permainan yang membutuhkan keberanian lebih dan kreativitas yang menantang. Sebab, perang lodong bukan perang biasa. Perang ini dilakukan antarpenduduk kampung. Biasanya, jika lodong dari satu kampung bersuara mejé atau suaranya tidak kencang, maka alamat pemilik lodong itu menanggung malu. Sebab, mereka akan mendapatkan cibiran dari pihak ”lawan”-nya.

Meski begitu, perang lodong bukan perang sesungguhnya. Ini hanya peperangan alias main perang-perangan. Seusai perang lodong, antarpemuda atau anak kampung tidak saling bermusuhan. Mereka malah saling berangkulan. Saling bertanya bagaimana membuat lodong yang bersuara nyaring dan mengentakkan seisi kampung.

Dalam permainan perang-perangan bedil bodong, biasanya terbagi beberapa kelompok. Perang ini bisa dilajukan dalam rangka ngabuburit atau setelah menjalankan salat Tarawih.

Bersahabat dengan alam



Disadari atau tidak, dengan adanya perang lodong warga dituntut untuk tetap bersahabat dengan alam. Sebab, jika sumber utama pembuatan lodong hilang, ya tradisi itu pun akan makin menjauh.

Tentu bahan utama lodong adalah awi atau bambu. Terkait dengan bambu, bagaimanapun juga ini adalah satu jenis flora yang sangat akrab dengan kehidupan urang Sunda.

Sejak lahir hingga meninggal dunia, urang Sunda kerap bergantung dengan bambu. Ketika memutuskan tali ari-ari, ma beurang (dukun beranak) memotongnya menggunakan sembilu. Lalu ketika meninggal dunia pun kita membutuhkan bambu. Paling tidak untuk padung. Ya bilahan bambu yang menutupi jasad manusia sebelum dikubur oleh tanah. Dari situ, muncullah peribahasa rup ku padung rap ku lemah. 

Tentu saja manfaat bambu juga sangat banyak. Dari mulai rebung, bilah bambu, dan daun bambu sangat akrab dnegan kehidupan urang Sunda. Dari mulai peralatan rumah tangga, atap rumah, palupuh, tangga, dan atau pagar rumah merupakan contoh manfaat dari bambu.

Konkretnya, mulai dari daun bambu bisa digunakan untuk membungkus penganan bernama bacang. Tentu saja rebung (iwung) pun jadi bahan sayuran di nusantara, terutama di Sunda dan Minang. Bahkan, pemanfaatan bambu masih dilakukan di banyak wilayah untuk sarana transportasi, yaitu untuk bahan membuat jembatan. 

Saking akrabnya dengan bambu, penamaan daerah di Tatar Sunda pun menggunakan seputar dunia bambu. Kita tentu ingat daerah bernama Awiligar, Ciawi, Cigombong, Sélaawi, Cibitung, Ciapus, Citali, Ciawitali, Cihaur, Cihaurbeuti, Haurpugur, Haurpancuh, Rawahaur, dan atau Ciawigebang.

Jelas, ketergantungan masyarakat Sunda terhadap bambu tak terbantahkan lagi. Saya pikir, adanya permainan perang lodong pun menjadi salah satu cara agar anak muda zaman sekarang tetap dekat dengan bambu. Dengan demikian, generasi Sunda dari masa ke masa diharap bisa menjaga dan mengembangkan kehidupan bambu. (Djasepudin, esais, aktif di Panglawungan Sunda Bogor)***

Bagikan: