Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 22.5 ° C

Sejumlah Karya Sastra Sunda Ini Mengambil Tema dan Latar Belakang Puasa

NOVEL dan carita pondok (carpon) yang bertema dan berlatar puasa cukup banyak digarap oleh para pengarang Sunda. Almarhum Ahmad Bakri yang paling hidup menggambarkan suasana dan dinamika puasa.

Meski begitu, para pengarang Sunda angkatan sekarang pun memiliki kemandirian tersendiri dalam menggambarkan suasana ketika suasana puasa dan kala menjelang ritus Lebaran.

Akan tetapi, satemenna haté mah kalah guligah. Kebek ku sanghareupaneun. Rupaning kagiatan désa geus narampeu. Maheutkeun deui khotib jeung muadzin keur salat Id. Nyusun acarana ongkoh. Maheutkeun acara peutingan laélatul kodar. Kaasup nataharkeun gema takbir di Wanayasa, kota kacamatan.

Geus kajudi da. Ti awal puasa gé sakumna warga sa-Kacamatan Wanayasa, leuwih ti lima belas désa, geus pak-pik-pek tatahar nyanghareupan maleman ”Gema Takbir”. Nyaho sotéh ti babaturan di désa peuntas, cenah mah karang tarunana keur getol ngeprik latihan. Enya, teu bina ti warga désa kuring. Aya nu ngadedeluk latihan haleuang solawat. Aya nu ditugaskeun ngadangdanan bedug keur takbir keliling. Aya nu ditugaskeun nyieunan bedil sundut keur jajap nu rék takbir keliling. Mani siga kariaan baé atuh mapag gema takbir téh.

Petikan carita pondok  di atas adalah buah karya Dian Hendrayana dalam carpon berjudul ”Galindeng Kemba” yang termuat dalam buku Kanagan 5 (2011). Dian adalah sastrawan Sunda yang lebih dikenal sebagai ahli tembang Sunda yang meneruskan salah satu mentor utamanya, Kang Apung SW.

Bila Dian kerap menggambarkan tema dan suasana pegunungan di sekitar Subang dan Bandung, Ahmad Bakri mah doyan menggambarkan kehidupan di perkampungan. Mungkin sekitar Ciamis, tempat kelahirannya.

Adapun karya-karya Ahmad Bakri yang bertema dan berlatar puasa, Lebaran, dan Ramadan di antaranya dapat dibaca dalam narasi berjudul ”Srangéngé Surup Mantén” (1968), ”Ki Merebot” (1987), ”Payung Butut” (1989), dan ”Sudagar Batik” (2004).

Tak hanya cerita, Ahmad Bakri pun memotret kehidupan urang Sunda baheula. Kehidupan yang penuh perhatian, kasing sayang, dan saling pengertian. Misal, dalam cerita ”Payung Butut”, Ahmad Bakri menggambarkan tradisi warga kampung yang berduyun-duyun mengirimkan makanan kepada orang-orang yang selesai melaksanakan salat Tarawih dan sedang tadarusan.

Humor satir



Ahmad Bakri pun membuat humor satir. Misalnya, dalam ceritanya tokoh masyarakat, Naib, kerap memberi sinyal datangnya waktu Magrib cuma dengan mengangkat tangan. Namun, pada suatu hari terjadi ”kecelakaan”, anak-anak muda yang sedang menunggu waktu buka puasa di teras masjid langsung memukul beduk karena melihat Bapak Naib mengangkat tangan. Padahal, waktu buka puasa masih setengah jam lagi. Sementara waktu itu, Bapak Naib mengangkat tangan hanya untuk mengusir ayam yang masuk ke halaman rumahnya.

Seperti hasil penelitian Deni Ahmad Fajar (2008), masih terkait dengan masjid, narasi ”Kiai Modin” dan ”Ki Merebot”, Ahmad Bakri menyoroti kebiasaan buruk mempermainkan kaifiat ibadah. Pada ”Ki Merebot” yang telanjur ”dicap” sebagai cerita humor itu, kita bisa menemukan ajaran (agama Islam) di dalamnya. Karena dibungkus dengan humor yang cair, pituah yang ada pada karya Ahmad Bakri tidak kaku (ini adalah kelebihan Ahmad Bakri lainnya). 

Meminjam istilah Acep Zamzam Noor, di tangan Ahmad Bakri, pituah, ajaran, atau tema-tema keagamaan sering tampil dengan santai dan kadang terkesan main-main,misalnya, urang pilemburan pada zaman baheula, menandai datangnya waktu buka puasa hanya dengan melihat kelelawar keluar dari sarangnya. Bagaimana pula gemparnya urang Lembur Cilamping ketika mengetahui hari Lebaran tepat pada hari Jumat. Lebaran pada hari Jumat bagi urang Cilamping dipercaya akan mengundang harimau hanya karena pada hari yang sama ada dua khotbah, yaitu khotbah Idulfitri dan khotbah Jumat (dalam ”Ki Merebot”).

Selain carpon-carpon Ahmad Bakri, sejatinya masih banyak narasi lain yang menyajikan dinamika seputar puasa, Lebaran, dan Ramadan. Kesemua itu merangkum tradisi zaman baheula yang bila dibaca masih berasa aktual untuk dijadikan bahan renungan.

Kita bisa membaca buku Dongéng Enténg ti Pasantrén karangan Rachmatullah Ading Afandi (RAF). Ada juga memoar Keur Kuring di Bandung dan Di Lembur Kuring karya Sjarief Amien. Suasana Sunda dan Bandung baheula ditulis juga oleh Us Tiarsa dalam Basa Bandung Halimunan.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1930, pengarang berinisial GS menulis kumpulan carpon yang berjudul Dogdog Pangréwong. Itulah buku carpon monumental. Karena Dogdog Pangréwong adalah buku carpon pertama dalam bahasa Sunda. Dalam Dogdog Pangréwong pun latar dan tema puasa digambarkan dengan hidup dan enak dibaca. Salah satu judul carpon dalam Dogdog Pangréwong adalah ”Guguyon Bulan Puasa”. Carpon itu mengisahkan Juragan Wadana dan juru tulisnya yang saling memergoki makan minum di siang hari bolong, alias tidak puasa.

Inilah sindir satir untuk siapa pun dan bisa berlaku sepanjang zaman. Hanya orang-orang yang beriman yang menerima kritikan dengan penuh kesadaran. Adalah para pengarang Sunda yang dari baheula hingga ayeuna memotret perkembangan urang Sunda dari zaman-zaman. Termasuk ketika memakmurkan bulan Ramadan. (Djasepudin, esais, aktif di Panglawungan Sunda Bogor)***

Bagikan: