Pikiran Rakyat
USD Jual 14.413,00 Beli 14.315,00 | Cerah berawan, 24.4 ° C

Ngadulag, Ngabuburit untuk Kebersamaan

INDAH nian jika menjelang senja Anda mengunjungi pesisir Pantai Pangandaran. Hamparan laut lepas tanpa batas. Mega dan lembayung berharmonisasi dengan bayangan hutan alam yang tergambar di permukaan air. Kata pengarang Sunda, Rachmat M Sas Karana, laut jeung pagunungan di Pananjung sasalaman. Karena keindahan itu pula, terutama ketika sore tiba, pantai-pantai di Pangandaran dibanjiri warga yang sedang ngabuburit.   

Akan tetapi, jika Pantai Pangandaran terlampau jauh, Pantai Santolo sangat di pelosok, atau Palabuanratu terlalu jauh, silakan Anda kunjungi pusat-pusat keramaian kota seperti Alun-alun Bandung dan danau-danau yang tertata indah di Purwakarta. Saya yakin, di sana Anda akan mendapatkan suasana puasa jauh lebih berasa dan pasti berbeda.

Ya, keramaian Alun-alun Bandung di bulan Puasa, seperti yang diungkapkan Sjarif Amin dalam buku Keur Kuring di Bandung atau memoar Us Tiarsa dalam buku Basa Bandung Halimunan, ketika ngabuburit tetap ramai, bahkan hingga zaman Kang Emil.

Malah, pada tahun lalu (2015), sehari sebelum puasa, dalam rangka munggahan, penduduk Bandung dan sekitarnya membanjiri lapangan berkarpet sintetis untuk botram, cucurak, atau makan bersama. Mereka menjadikan Alun-alun Bandung layaknya Kebun Raya Bogor atau Kebon Binatang Bandung.  

Akan tetapi, ngabuburit bukan dominasi orang kota saja. Di perdesaan pun keceriaan dan kehangatan ngabuburit tak kalah menarik. Mereka memberdayakan dan menyesuaikan dengan sumber daya alam yang ada.

Istilah Sunda yang menasional ini menggambarkan kebiasaan orang berpuasa yang ketika menjelang magrib tiba kerap melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan ngabuburit di tiap kampung di Tatar Sunda memiliki keunikan dan keragaman. Meski demikian, substansinya tetap sama yaitu kebersamaan dan keceriaan.

Keceriaan dalam ngabuburit tergambar dari tradisi ngadulag. Ngadulag biasa dilakukan selepas asar untuk menanti waktu magrib. Ngadulag pun dilakukan selepas tengah malam, dalam rangka membangunkan orang untuk sahur.

Di pelosok Banten, ngadulag itu tidak asal menabuh bedug. Ngadulag pun memiliki irama dan dinamika tersendiri. Karena keindahannya, ngadulag pun diperlombakan dalam balutan rampak bedug.

Menurut hasil penelitian Wiraguna, perangkat yang digunakan pada rampak bedug yaitu satu set bedug kecil selaku pengatur irama, tempo, dan dinamika; sedangkan bedug besar sebagai bas, sementara melodi hanya berasal dari lantunan selawatan yang dilakukan sambil menabuh. Pola tubuh yang biasa mereka sebut dengan lagu di antaranya: pingping cak-cak, nangtang, celementre, rurudatan, antingsela, sela gunung,  dan kelapa samanggar.

Hiburan rakyat



Tahun 1950-an merupakan awal mula diadakannya pentas rampak bedug. Pada waktu itu, di Kecamatan Pandeglang, sudah biasa diadakan pertandingan antarkampung. Sampai dengan tahun 1960 rampak bedug masih merupakan hiburan rakyat, persis ngadulag. Kapan rampak bedug diciptakan, mungkin jauh sebelum tahun 1950-an. 

Siapa pencipta awal rampak bedug? Ini pun sepertinya tidak dicatat. Bahkan mungkin saja sang kreator tidak menyebut-nyebut dirinya. Hanya saja, kegiatan ini disebut-sebut tepatnya di Kecamatan Pandeglang. Seni ini kemudian menyebar ke daerah-daerah sekitarnya, malah hingga ke Kabupaten Serang.

Seni rampak bedug mulai ramai dipertandingkan pada tahun 1955-1960. Kemudian antara tahun 1960-1970, Haji Ilen menciptakan suatu tarian kreatif dalam seni rampak bedug. Rampak bedug yang berkembang saat ini dapat dikatakan sebagai hasil kreasi Haji Ilen dan sampai sekarang Haji Ilen masih ada. Rampak bedug kemudian dikembangkan oleh empat orang yaitu Haji Ilen, Burhata (almarhum), Juju, dan Rahmat. Hingga akhir tahun 2002 ini sudah banyak kelompok-kelompok pemain rampak bedug.

Kata ”bedug”  sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Bedug hampir terdapat di setiap masjid, sebagai alat atau media menyebarkan informasi datangnya waktu salat 5 waktu. Demikian juga dengan seni bedug semacam ngabedug atau ngadulag yang sudah akrab di telinga kita. Akan tetapi rampak bedug mungkin akan agak terdengar asing, sebab  ini adalah ciri khas daerah Banten. Kata rampak mengandung arti serempak juga banyak jadi rampak bedug adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa banyak bedug yang di tambuh secara serempak sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.

Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan Ramadan, persis seperti seni ngabedug dan ngadulag. Akan tetapi, karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual. Selain itu, rampak bedug juga berfungsi religi yakni menyemarakkan bulan Ramadan dengan alat-alat yang memang dirancang para ulama untuk fungsi hiburan dan pendidikan.

Dengan ngadulag, disadari atau tidak, rasa kebersamaan akan terbangun. Sebab, ngadulag itu babarengan, tak mesti sama, sebab dalam ngadulag pun dibutuhkan perpaduan tabuhan yang saling menguatkan. Dalam tataran ini, ego pribadi mesti diminimalisasi.

Wilujeng ngadulag!  (Djasepudin, esais, aktif di Panglawungan Sunda Bogor)***

Bagikan: