Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Ukuran Tahu dan Tempe Menyusut

Shofira Hanan
Pedagang tahu dan tempe menjaga lapaknya di kawasan Cianjur tengah, beberapa waktu lalu. Para produsen memperkecil ukuran tahu dan tempe, untuk menekan kerugian karena naiknya bahan baku kedelai saat ini.*
Pedagang tahu dan tempe menjaga lapaknya di kawasan Cianjur tengah, beberapa waktu lalu. Para produsen memperkecil ukuran tahu dan tempe, untuk menekan kerugian karena naiknya bahan baku kedelai saat ini.*

CIANJUR, (PR).- Pedagang tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur mulai memperkecil ukuran dagangan mereka untuk menekan kerugian. Pasalnya, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar dinilai berdampak signifikan pada harga kedelai.

Saat ini, kedelai sebagai bahan utama pembuatan tempe dan tahu masih harus diimpor dengan nilai tukar dolar. Hal tersebut, akhirnya berdampak pada harga kedelai yang terus meningkat. 

Diketahui, pedagang perlu membeli kedelai seharga Rp 800.000 dari semula Rp 700.000 per kuintal.

Ketua Koperasi Tahu Tempe (Kopti) Cianjur, Hugo mengatakan, sejak nilai tukar rupiah melemah harga kedelai yang berdasarkan rupiah terus meningkat. Pada akhirnya, tingkat produksi para produsen hasil olahan kedelai terpengaruh.

”Apalagi, tingkat keuntungan mereka belakangan ini. Ketika bahan baku naik, otomatis ongkos produksi juga naik. Tapi, karena sudah sering terjadi kenaikan, biasanya produsen tahu dan tempe sudah bisa menyiasatinya," kata Hugo, Kamis, 17 Mei 2018.

Menurut dia, terdapat sekitar 250 pengrajin tahu dan tempe di Cianjur yang mulai menyiasati produksi dan penjualan dengan merubah ukuran tahu serta tempe. Upaya itu ditempuh, untuk menyesuaikan dengan persediaan bahan baku. Soalnya, seringkali pedagang juga tidak bisa menaikkan harga mengikuti kedelai.

Saat ini harga tahu di pasaran berkisar pada Rp 4.500 per 10 buah dan tempe pada kisaran Rp 3.000 – 5.000 per buah. Setiap rupiah melemah, ukuran kedua olahan kedelai itu pun seringkali diperkecil oleh pedagang.

Beberapa tahun ke belakang, hal serupa pernah terjadi dan bagi pedagang tidak ada pilihan lain mengingat peminat tahu dan tempe relatif banyak.

Besar harapan agar nilai tukar rupiah yang dapat segera stabil, karena para pedagang bergantung pada dolar untuk mengimpor kedelai. Soalnya, dikhawatirkan seperti tahun-tahun sebelumnya melemahnya rupiah mengancam keberadaan para pedagang dan produsen tahu serta tempe.

Tahu lebih tipis



Sementara itu,  salah seorang pedagang sekaligus produsen tahu tempe Jajang Sujana (47) mengungkapkan, perubahan ukuran tahu atau tempe seringkali dikeluhkan oleh konsumen. Akan tetapi, kondisi naiknya harga kedelai yang tidak dapat dihindarikan sedikit banyak membuat konsumen mengerti.

”Untuk tahu yang biasanya 10 kilogram bisa menghasilkan 500 buah tahu. Sekarang, diperkecil jadi dapat 550 tahu. Atau, kalau pakai hitungan papan cetakan sebelumnya cuma 8 papan sekarang jadi 9 papan,” kata dia menjelaskan.

Selain itu, untuk ukuran tahu, Jajang membuatnya jauh lebih tipis dari yang biasanya. Hal itu ditempuh sebagian besar produsen, untuk mencegah menurunnya pembelian. Pasalnya, kenaikan harga dikhawatirkan membuat pelanggan berpindah ke penjual lain.

”Di pasaran, ada konsumen yang mengerti dengan kondisi kami ada juga yang tidak. Tapi, banyak juga yang sudah paham. Kami harap, keadaan seperti ini bisa membaik dan harga bisa kembali normal supaya penjual serta pembeli sama-sama diuntungkan,” ucap dia.***

Bagikan: