Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sedikit awan, 25.5 ° C

Sejarah Panjang Bogor Terkubur di Belanda

Hilmi Abdul Halim
PELAKSANA Tugas Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, melihat salah satu buku sejarah Bogor saat mengunjungi Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, beberapa waktu lalu. Tim peneliti yang dikirim pemerintah daerah setempat berhasil menemukan sejarah penting pada masa Kerajaan Pajajaran.*
PELAKSANA Tugas Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, melihat salah satu buku sejarah Bogor saat mengunjungi Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, beberapa waktu lalu. Tim peneliti yang dikirim pemerintah daerah setempat berhasil menemukan sejarah penting pada masa Kerajaan Pajajaran.*

BOGOR, (PR).- Sejarah Kota Bogor pada masa Kerajaan Pajajaran terkuak dari arsip kuno yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda. Namun, Pemerintah Kota Bogor terkendala anggaran untuk meneliti arsip-arsip tersebut lebih lanjut.

Pemerintah daerah setempat baru melakukan penelitian sementara melalui tim beranggotakan dua orang di Belanda. "Tim kecil ini baru pulang ke Indonesia dan akan menyampaikan hasil penelitiannya selama beberapa hari di Belanda," kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bogor, Agung Prihanto, Kamis 3 Mei 2018.

Tim tersebut berangkat bersama Pelaksana Tugas Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, dan rombongan beberapa waktu lalu ke Universitas Leiden Belanda. Namun, mereka diminta menetap lebih lama untuk melakukan penelitian terhadap arsip-arsip yang ada di sana.

Agung mengakui, penelitian sejarah Bogor di sana memerlukan waktu lebih lama. Pasalnya, ia mendapatkan banyak sekalian sumber referensi yang harus diterjemahkan, disusun dan diteliti oleh ahli sejarah. Tim tersebut hanya bisa menyalin dan membawa beberapa buku di antaranya ke Indonesia.

"Tim di antaranya mendapatkan sejarah Bogor pada masa Kerajaan Pajajaran," kata Agung menegaskan. Hasil penelitian sementara itu selanjutnya akan dibahas bersama para sejarawan dan dinas terkait di Bogor untuk menentukan upaya pemerintah selanjutnya.

Termasuk, menentukan akan kembali atau tidak ke Belanda dalam waktu dekat. Agung mengeluhkan proses penelitian arsip di negera tersebut memerlukan anggaran yang cukup besar khususnya untuk biaya hidup peneliti. Menurutnya, proses penelitian itu membutuhkan waktu cukup lama.

Kerja sama dengan Universitas Leiden



Keberangkatan para pejabat pemerintahan daerah ke Belanda kali ini merupakan tindak lanjut kerja sama Pemerintah Kota Bogor dan Universitas Leiden Belanda dalam melakukan penelitian sejarah Bogor. Agung menyebutkan salah satu hasil kedatangannya kali ini ialah memiliki akses masuk ke perpustakaan dan ruang arsip Universitas Leiden.

Setelah mendapatkan akses tersebut, Agung menganggap pemerintah daerahnya bisa kapanpun melakukan penelitian terhadap arsip-arsip kuno di sana. Namun pemerintah mendapatkan kendala lain yakni harus membeli arsip-arsip tersebut dari Universitas Leiden. Ia tidak menyebutkan harganya, namun dianggap cukup mahal.

Pemerintah Kota Bogor diakui telah membeli beberapa buku di antaranya, seperti yang terkait dengan sejarah pada masa Kerajaan Pajajaran. "Itu di luar perhitungan kami sebelumnya. Tapi karena sudah ada di sana jadi kita beli bagaimanapun caranya," kata Agung.

Ribuan buku



Pelaksana Tugas Walikota Bogor Usmar Hariman menceritakan kunjungannya di Belanda berlangsung selama lima hari. Ia mengakui arsip mengenai daerahnya mencapai ribuan buku. Buku-buku itu berisi catatan sejarah penting selama penjajahan Belanda di Indonesia khususnya Kota Bogor.

"Kenapa justru belakangan disebut Sunda Kelapa atau Batavia disebut lebih berkembang dari pada Bogor. Padahal di rancangan di dokumen itu justru yang pesat Kota Bogor. Sunda Kelapa kan hanya pelabuhan saja, tapi kenapa terbaik," kata Usmar menjelaskan salah satu temuan sejarah dari arsip-arsip tersebut. Di arsip-arsip itu juga disebut Batavia termasuk wilayah Bogor.

Melihat potensi literasi yang ada, Usmar pun menyimpulkan upaya yang harus dilakukan pemerintah daerahnya ialah membentuk tim peneliti khusus. Hal serupa juga disarankan pihak Universitas Leiden. Ia dan rombongannya mengaku baru diberi tahu cara mencari buku-buku tersebut secara digital.

Selain mengumpulkan arsip-arsip yang berkaitan dengan Bogor, Usmar mengakui sebagian besar buku juga masih berbahasa kuno baik bahasa lokal maupun bahasa Belanda. Itu sebabnya, ia mengharapkan peneliti yang dikirim terdiri dari ahli sejarah dan bahasa.

Usmar menginginkan penelitian sejarah dari arsip-arsip tersebut bisa menghasilkan buku sejarah baru Kota Bogor. Ia meminta buku tersebut bisa disusun dan dicetak tahun ini. Program penelitian tersebut diharapkan berlanjut pada 2019 dan seterusnya.

Usulan pembuatan buku tersebut rencananya dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2018. Lebih lanjut, Usmar juga akan meminta bantuan Kementrian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.***

Bagikan: