Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Cerah berawan, 31 ° C

Kisah Dika, Badut yang Berkeliling Mengenalkan Buku

Windiyati Retno Sumardiyani
Andika Purnama (kanan) mengajak anak-anak membaca buku di Kampung Mancogeh, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Minggu, 1 Mei 2018. Andika menggagas perpustakaan badut keliling dengan mengenakan kostum badut untuk mendekatkan anak-anak dengan buku.*
Andika Purnama (kanan) mengajak anak-anak membaca buku di Kampung Mancogeh, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Minggu, 1 Mei 2018. Andika menggagas perpustakaan badut keliling dengan mengenakan kostum badut untuk mendekatkan anak-anak dengan buku.*

ANDIKA Purnama (32) duduk bersila di ruang tengah rumahnya  di Kampung Mancogeh, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Selasa, 1 Mei 2018. Sambil disaksikan istri dan anaknya, pria bertubuh gempal ini terampil memoles wajahnya layaknya badut. 

Hari itu, Dika tidak akan menggelar pertunjukan. Memanfaatkan libur hari buruh internasional, Dika memilih untuk berkeliling  untuk mengajak anak- anak di sekitar rumahnya membaca buku yang dimilikinya. 

Dika menceritakan, sejak tiga bulan lalu, ia sudah mulai menjalankan perpustakaan badut keliling yang digagasnya. Di sela waktunya menjalankan profesi sebagai badut profesional, Dika ingin waktu senggangnya dimanfaatkan untuk menyebarkan virus cinta membaca buku baik itu kepada anak-anak maupun ibu-ibu yang ia temui. 

"Hari ini saya mau ke lingkungan sekitar dan Pesantren di daerah Cieunteung," ucap Dika memulai kisahnya kemarin. 

Setelah mengenakan kostum badutnya, Dika kemudian membawa koper berisi puluhan buku dan bergegas pergi ke sebuah lapang tak jauh dari rumahnya. Di sana, anak-anak kecil langsung menyambutnya dengan riang. Dika kemudian langsung menggelar bukunya di pelataran, dan mempersilakan anak-anak dan ibu-ibu yang mengerumuninya. 

Badut masih dianggap sebelah mata



Hingga kini, Dika baru mampu menggerakkan perpustakaan keliling paling sedikit enam kali setiap bulannya. Dika menyempatkan waktu di sela kegiatannya menjadi pengisi acara di akhir pekan. 

"Biasanya kalau panggilan job itu kan Sabtu-Minggu, jadi kalau ada waktu luang biasanya saya keliling, saya utamakan datang ke panti-panti dan ke lingkungan anak-anak di kampung," kata Dika. 

Besar harapan Dika, suatu saat komunitas badut di Indonesia bisa mempopulerkan gagasannya. Dika meyakini, profesi badut bisa lebih mendekatkan anak untuk dekat dengan buku. 

"Badut kadang-kadang masih dianggap sebelah mata, saya ingin teman-teman badut lainnya bisa lebih mendekatkan diri ke masyarakat, ya lewat kegiatan seperti ini," kata Dika. 

Salah seorang pembaca buku perpustakaan badut keliling, Anisa (14) cukup gembira dengan  keberadaan perpustakaan tersebut. Selain menghibur, ia bisa membaca buku-buku secara gratis milik Dika. 

"Saya biasanya baca majalah begitu, jadi sekali baca. Mudah-mudahan koleksi bukunya semakin banyak dan semakin sering keliling," kata Anisa.***

Bagikan: