Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 21.8 ° C

Korban Jiwa akibat Kecelakaan Lalu Lintas Subang Tertinggi di Jabar

Yusuf Adji
TANJAKAN Emen sering disebut tanjakan maut karena banyak terjadi kecelakaan lalu lintas dengan korban jiwa.*

SUBANG, (PR).- Korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di wilayah Subang terbanyak di Jawa Barat. Selain itu jumlah pelanggaran lalu lintas di Subang, tiga tahun terakhir kontribusinya paling tinggi di Jabar.

Hal itu dikatakan Waka Polres Subang Eko Murdianto di acara sosialisasi disiplin berlalu lintas di lingkungan sekolah se-Kabupaten Subang di Aula Kementerian Agama Subang, Selasa 3 April 2018. Acara tersebut dihadiri sekitar 350 perwakilan kepala sekolah dan pengawas serta UPTD dari 30 Kecamatan di Kabupaten Subang. Hadir Kepala Dinas Pendidikan Suwarna dan Kasat Lantas Budhi.

Eko mengungkapkan tiga tahun terakhir pelanggar lalu lintas terus naik. Tahun 2015 lalu, jumlah pelanggar lalu lintas tercatat sebanyak 24.737, tahun 2016 naik menjadi 27 ribu, dan 2017 naik lagi menjadi 39 ribu. "Jadi termasuk luar biasa pelanggaran lalu lintas di Subang ini, padahal operasi gencar terus menerus dilakukan, tapi pelanggaran masih terus terjadi, ini artinya tingkat kesadar masih minim. Padahal kecelakaan bisa dicegah jika tertib. Apalagi kecelakaan diawali terjadinya pelanggaran, walau ringan tapi akibatnya bisa fatal," katanya.

Dikatakan Eko, kecelakaan yang merenggut korban jiwa di Subang termasuk tertinggi di Jabar. Korban kecelakaan dari kalangan pelajar tahun 2015 lalu 16 orang dan 10 di antaranya paling banyak siswa SMA. Sedangkan korban mengalami luka berat 100 orang dan luka ringan 131.

Tahun 2016 korban meninggal dunia bertambah menjadi sebanyak  41 orang , didominasi pelajar SMA. Di tahun 2017 mengalami penurunan, korban meninggal dunia 37 orang. "Angka meninggal dunia bisa turun salah satunya operasi dan penindakan gencar kami lakukan terus menerus. Namun masih ada korban indikator hasil operasi belum optimal. Kami berharap peran aktif guru dan kepala sekolah demi keselamatan siswa," katanya.

Siswa bandel menggunakan kendaraan ke sekolah



Eko menjelaskan mencegah kecelakaan menjadi upaya bersama, utamanya menciptakan kesadarkan tertib lalu lintas. Para guru diharapkan tak bosan melarang siswa yang belum cukup umur supaya tak menggunakan kendaraan. Sebab tak bisa dimungkiri walaupun sudah dilarang tetap saja banyak siswa menggunakan kendaraan. "Kami juga berencana bertemu dengan orang tua melalui komite sekolah. Harapannya upaya ini bisa menekan angka kecelakaan, paling penting bisa melarang anak belum cukup umur menggunakan kendaraan," ujarnya.

Budhi mengungkapkan selain faktor kurangnya kesadaran disiplin berlalu lintas, tingginya kecelakaan di subang dipengaruhi faktor geografis jalan. Sebab di utara ada jalan nasional, dan tengah mempunyai tol Cipali dengan bentangan panjang. "Di selatan juga bentangan jalannya panjang dengan medan geogradis menurun dan menanjak cukup curam. Ini pengaruh juga ke tingginya angka kecelakaan di Subang," katanya.***

 

Bagikan: