Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 20.9 ° C

Bertahun-tahun Warga Malas ke Puskesmas Karena Transportasi Mahal

Anwar Effendi
WARGA Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat memanfaatkan program pengobatan gratis PT Meprofarm yang menerjunkan 16 dokter ahli.*
WARGA Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat memanfaatkan program pengobatan gratis PT Meprofarm yang menerjunkan 16 dokter ahli.*
GARUT, (PR).- Selama bertahun-tahun warga Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat masih sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Untuk mencapai lokasi terdekat, yakni Puskesmas Banjarwangi, warga harus mengeluarkan ongkos transportasi yang cukup mahal, ketimbang biaya pelayanan kesehatan itu sendiri.

Kepala Desa Bojong, Iman Mulyaman mengakui, warganya jadi enggan periksa kesehatan ke Puskesmas karena tidak punya ongkos. Untuk mencapai Puskesmas Banjarwangi, warganya harus mengeluarkan Rp 35.000,00 untuk membayar ongkos ojek sekali jalan. Jadi kalau pulang pergi, harus sedia uang Rp 70.000,00. Padahal biaya periksa kesehatan di Puskesmas Banjarwangi tidak semahal ongkos yang dikeluarkan warga untuk membayar ojek.

"Lokasi desa kami memang agak terpencil. Belum ada angkutan umum yang lansung menuju desa kami kecuali ojek. Bahkan beberapa kampung, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Jadi bukannya warga kami tidak mau memanfaatkan puskesmas, cuma terkendala oleh ongkos yang harus dikeluarkan," ujar Iman, Senin 12 Maret 2018.

Untuk pengobatan penyakit, warga selama ini hanya membeli obat yang dijual bebas di warung. Hal itu dianggap lebih praktis. Seperti diungkapkan seorang warga, Ilah (60), Puskesmas Banjarwangi terlalu jauh, warga jadi malas kalau harus ke sana. Kalau menderita penyakit ringan, alternatinya beli obat di warung. Selain itu, warga paling berharap ada ada pengobatan gratis untuk mengetahui penyakit lainnya.

"Makanya kalau ada yang menggelar pengobatan gratis, langsung saja warga berbondong-bondong untuk mendapatkan pelayanan. Program ini sangat bermanfaat bagi warga, saya juga beruntung memperolah obat untuk lutut yang sakit. Kalau bisa, kegiatan ini bisa terus digulirkan, misalnya tiga bulan sekali," tambahnya.

Melihat kondisi yang memprihatinkan seperti itu perusahaan farmasi PT Meprofarm menerjunkan 16 dokter ahli dan berpengalaman untuk membantu mengobati seribu warga secara gratis di pelosok Desa Bojong. VP Business Development PT Meprofarm, dr Karta Sadana mengatakan, program pengobatan gratis dengan menerjunkan 16 dokter senior itu sebagai bentuk kepeduliaan perusahaan terhadap masyarakat yang tinggal di pelosok daerah Garut.

"Ada 16 dokter yang diturunkan, bahkan mereka sampai tidak praktik untuk melakukan kegiatan pengobatan gratis di sini," kata Karta.

Ia menuturkan, program pengobatan gratis di pelosok daerah Garut tersebut merupakan pertama kali dilaksanakan dalam rangkaian penyaluran program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk masyarakat. Alasan dipilih daerah Garut, karena berdasarkan kajian warga di Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi terdapat banyak warga yang kurang beruntung sehingga dinilai layak untuk dibantu dengan menggelar pengobatan gratis.***
Bagikan: