Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Suatu Waktu di Pelabuhan Cirebon, Sengketa Kontrol Masa Perang Kemerdekaan

Kodar Solihat

DERETAN bangunan tua yang masih berdiri kokoh di dalam ka­wasan maupun di luar Pela­buhan Cirebon men­jadi saksi bisu peristiwa sejarah yang terjadi di kawasan tersebut selama Perang Kemer­dekaan Republik Indonesia tahun 1945-1949. 

Walau sebagian tempat kini terkesan kurang ­ter­­urus dengan baik, ber­­bagai bangunan tersebut meru­pa­kan aset berharga bagi aspek se­ja­rah Republik Indonesia di Cirebon.

Dalam sejarah Republik Indonesia, keberadaan Pelabuhan Cirebon sebenarnya memiliki peran penting karena pada 1946-1947 yang merupakan pelabuhan utama pemerintahan Republik Indonesia. 

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Pelabuhan Semarang, dan Pelabuhan Suraba­ya, saat itu dalam penguasaan pihak Sekutu lalu Belanda sehingga pemerintahan Indonesia yang ber­ibu kota di Yogyakarta mengandal­kan Pelabuhan Cirebon sebagai ja­lur ekspor untuk likuiditas keuang­an pemerintahan.

Pada masa-masa itu pula Pela­buhan Cirebon menjadi markas Angkatan Laut Republik Indonesia. Markasnya menempati sebuah ba­ngunan bermenara yang sampai kini menjadi ikon Pelabuhan Cirebon. 

Bangunan bermenara tersebut kini dipasangi plang Satkamla TNI-AL dan bagian lainnya tertulis sejumlah perusahaan swasta, sedang­kan di lantai dasarnya tampak diisi warung dengan latar belakang ­ruangan gelap yang seakan terlupakan zaman. 

Akan tetapi, pada Februari sampai Juli 1947, ada dua kejadian penting dalam sejarah Perang Kemerdeka­an RI di Pelabuhan Cirebon yaitu penyergapan Kapal Liberty Amerika, SS Martin Behrman oleh pihak Belanda pada 8 Febriari 1947. 

Kapten Kapal Martin Berhman, mengatakan,  Rudy Gray menyebut dia dipaksa seorang letnan angkatan laut Belanda  yang meng­ambil alih penguasaan kapal tersebut. Sementara keperluan masuk­nya kapal SS Martin Berman ke Pe­labuhan Cirebon diungkap penga­caranya kapten Rudy Gray, yaitu James W Ryan, dengan disewa Komisi Maritim Amerika Serikat.

Sebelum 20 Juli 1947, pemerintahan Republik Indonesia yang beribukota di Yogyakarta, masih mengandalkan sejumlah perkebunan negara di Jawa Barat. Namun, menjelang Agresi Militer Belanda Operasi Produk, pemba­karan dilakukan para pekerja per­kebunan terhadap stok produk-produk perkebunan berikut sejumlah pabrik pengolahan pada berbagai unit perkebunan Anglo-Indonesian Plantantions of Java, Ltd Subang, agar tak jatuh ke tangan Belanda.

Esok harinya, pada 21 Juli 1947, pasukan Belanda memulai Operasi Produk, untuk merebut kembali berbagai sarana perekonomian dan perhubungan yang sudah dikuasai Republik Indonesia. Untuk di Pulau Jawa, Operasi Produk di terutama dilakukan di kawasan Utara sampai ke tengah baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Apa kata koran asing?



Arsip surat kabar Chicago Daily Tribunes, Amerika Serikat, terbitan Kamis 24 Juli 1947, menurun­kan berita berjudul, “Dutch Forces Take Cheribon, Key Java Port”, dengan mengabarkan, Pelabuhan Cirebon direbut pasukan Belanda pada 23 Juli 1947. 

Kawasan Cirebon dan sekitarnya, digambarkan sebagai pusat produksi beras, direbut tanpa perlawanan berarti oleh pihak Indonesia, pada petang hari sekitar pukul 16.30.

Disebutkan, untuk merebut Cirebon, pasukan Belanda mengerahkan 50 kendaraan lapis baja, termasuk tank, yang dikerahkan dari Bandung melalui perjalanan darat melalui lintas Tomo, Sumedang- Kadipaten- sejak Minggu, Juli 1947. 

Pihak Belanda juga diketahui me­nempatkan sejumlah kendaraan lapis baja di Kompleks Pabrik Gula Gempol, Jalan Raya Palimanan.

Dua surat kabar terbitan Australia, pada Jumat 25 Juli 1947,  The Examiner terbitan Tasmania dan Townsville Daily Bulletin yang arsipnya disimpan di Trove mengabarkan, saat pasukan Belanda sudah menguasai penguasaan Pelabuhan Cirebon pada 23 Juli 1947 tersebut, pemimpin Operasi Produk, Letjen Spoor menyebutkan, pasukan Belanda menyita 30.000 ton karet dalam gudang pelabuhan di pelabuhan yang siap dikapalkan pihak Republik Indonesia.

Walau Pelabuhan Cirebon sudah diduduki Belanda, kata berita tersebut, sejumlah perlawanan sporadis masih dilakukan pihak Republik Indonesia di kawasan dekat pelabuhan. 

Pembumihangusan dilakukan pihak Indonesia terhadap sejumlah tempat, yang tak dapat dicegah pihak Belanda, termasuk sekitar 200 rumah dan toko milik orang-orang Tionghoa.   

Dikabarkan pula oleh Townsvilee Daily Bulletin, pada Operasi Produk tersebut, termasuk untuk menye­rang Cirebon, menurut Sekretaris Negara Amerika Serikat, Mr  Marshall, pihak Belanda menggunakan 118 buah pesawat sewaan bekas, terdiri pesawat tempur dan pesawat pembom asal Amerika Serikat. 

Pesawat-pesawat sewaan itu, terdiri 54 pengebom ringan B-25 “Mitchell”, 26 unit pesawat pemburu Curtiss P-40 “Warhawk”, dan 38 unit pesawat pemburu P-51 “Mustang”.

Dalam berita tersebut juga disebutkan, dalam aksi Belanda di Cirebon tersebut, pertahanan darat pihak Indonesia menyatakan menangkap dua orang Jepang dan seorang Belanda yang diterjunkan dari pesawat terbang.

Diberitakan pula, Menteri Luar Negeri  Inggris, Mr Bevin dalam pernyataan yang dilontarkan di House of Commons (Majelis Rendah Parlemen Britania Raya) me­nyebutkan, keputusan pihak Belanda untuk menyerang wilayah Republik Indonesia pada Operasi Produk, dilakukan setelah berkonsultasi dan didukung Amerika dan pihak Sekutu yang dipimpin Inggris.  

Kurator dari Museum Bronbeek Belanda yang khusus menyimpan kenangan era pendudukan Belanda/Perang Kemerdekaan Republik Indonesia 1946-1949, Hans van den Akker saat berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi Bandung, pada 2014 lalu mengatakan,  setiap tahunnya peringatan penga­kuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda masih diperingati setiap 27 Desember. 

“Masih ada sekitar 20.000 mantan tentara Belanda Koninklijke Leger dan KNIL yang masih hidup, dan rutin mengikuti peringatan tersebut. Mereka sangat terkenang dengan Indonesia,” ujarnya.***

Bagikan: