Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.1 ° C

Lalat Tentara Hitam Kurangi Sampah Organik

Nurhandoko
Bayu Rahmana, Kabid Kebersihan Persampahan dan Pertamanan, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Ciamis menunjukkan larva lalat tentara hitam atau maggot, Jumat 9 Maret 2018. Sejak lima bulan lalu Bidang Kebersihan Persampahan dan pertamanan Ciamis membina Tenaga harian Lepas (THL) yang terhimpun dalam Paguyuban Sapu Nyere membudidayakan lalat tentara hitam.
Bayu Rahmana, Kabid Kebersihan Persampahan dan Pertamanan, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Ciamis menunjukkan larva lalat tentara hitam atau maggot, Jumat 9 Maret 2018. Sejak lima bulan lalu Bidang Kebersihan Persampahan dan pertamanan Ciamis membina Tenaga harian Lepas (THL) yang terhimpun dalam Paguyuban Sapu Nyere membudidayakan lalat tentara hitam.

CIAMIS, (PR).- Beberapa wadah plastik tampak disusun rapi di dalam ruangan pembuat kompos yang ada di salah satu ruang kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Di dekatnya puluhan kemasan plastik berisi pupuk kompos, siap edar yang dihasilkan dari sampah organik.

Tidak jauh dari wadah plastik tersebut juga terdapat kotak transparan ditutup kain strimin transparan.  Di dalam kotak  tampak ratusan ekor lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Berbeda dengan lalat yang biasa beterbangan di lingkungan rumah, lalat tentara hitam memiliki ukuran lebih besar dan ramping.

Memang, sejak lima bulan ini, Tenaga Harian Lepas (THL) Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Ciamis yang tergabung dalam Paguyuban Sapu Nyere  tengah membididayakan serangga lalat tentara hitam. Sebenarnya hasil akhir memelihara lalat tersebut adalah lalat yang masih dalam wujud telur atau larva yang biasa disebut maggot.

Belakangan ini budidaya maggot mulai tersebar dibeberapa daerah, akan tetapi jumlahnya masih sangat sedikit. Dilain pihak usaha pengembangan maggot juga masih terbuka luas. Selain cara ternak tidak sepelik memelihara unggas, bahan utama maggot berupa sampah organik juga berlimpah.

Selama ini  maggot baru sebatas dijadikan sebagai pakan ternak unggas maupun ikan. Maggot yang memiliki ukuran panjang sekitar tiga sentimeter, warga coklat kehitaman dan bodinya bergaris-garis, memiliki kandungan protein tinggi sehingga cocok untuk pakan ternak.

 "Kami mulai membudidayakan maggot sejak lima bulan lalu. Agar lebih berkembang kegiatan serupa juga dilalukan di beberapa tempat,” tutur Bayu Rahmana Kepala Bidang  Kebersiahan Persampahan dan Pertamanan, DPRKPLH Ciamis, Jumat 9 Maret 2018.

Maggot jelas Bayu yang didampingi Wahyudi, Sekretaris Paguyuban THL Saou Nyere, memiliki kandungan protein tinggi. Dengan kandungan protein tinggi, ternak yang dikasih pakan maggot pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan yang tidak diberi larva tersebut.

“Setelah diberi pakan maggot, masa panen lele bisa tiga minggu lebih cepat dibandingkan biasanya. Maggot tidak hanya mengurangi pengeluaran, kualitas ikan atau unggas juga lebih bagus, lebih sehat, karena pakannnya organik. Ternak juga lebih tahan dari serangan penyakit,” jelasnya, seraya menambahkan nilmu budidaya tersebut diperoleh ketika mengikuti kegiatan studi banding di ITB..

Bayu  mengungkapkan kegiatan ternak maggot, juga dimaksudkan untuk meningkatkan penghasilan THL. Kegiatan tersebut dilakukan setelah mereka mengerjakan pekerjaan utama sebagai petugas kebersihan. Selain maggot, juga memanfaatkan plastik besar untuk dijadikan ekobrik, memasukkan sampah plastik ke dalam botol plastik..

“Maggot termasuk sangat rakus, pakannya juga sampah organik yang jumlanya melimpah. Bahan pakan kami dapatkan dari rumah makan, pengusaha katering, termasuk sebagian sampah dari pasar. Istilahnya maggot menjadi tentara penghancur sampah,” katanya.



Sederhana



Lebih lanjut Bayu menuturkan pertama budidaya dengan mendapat margot dari wilayah Depok, sebanyak setengah toples kecil, sekitar tiga genggam. Setelah dipelihara, hanya dalam kurun waktu 22 hari larva sudah menjadi lalat tentara hitam dewasa.

Selain paguyuban THL, beberapa peternak unggas dan ikan juga mulai membudidayakan BSF. Di antaranya di wilayah Kecamatan Banjaranyar dan Panumbangan. Beberapa peternak juga mulai merintis. “Kami juga mendorong budidaya maggot skala rumah tangga. Setiap rumah pasti menghasilkan sampah organik. Itu yang dijadikan pakan larva,” tutur Bayu.

Proses budidaya maggot yang sangat sederhana, dikemukakan Wahyudin, Sekretaris Paguyuban THL Sapu Nyere. Selain tidak membutuhkan tempat luas, bahan pakannya juga banyak tersedia. Selain itu siklus panen juga tidak lama.

“Pakan maggot hanya sampah organik. Satu cluster terdiri sekitar 800 magot, sehari mampu menghabiskan 1 kilogram sampah organik. Setidaknya dengan jumlah yang lebih banyak, rumah tangga tidak lagi menghasilkan sampah organik,” tuturnya.

Siklus hidup lalat tentara hitam, jelasnya tidak lama. Setelah larva bermetamorfosis menjadi lalat terntara hitam dewasa, dalam waktu singkat menghasilkan telur. Setelah bertelur lalat tidak lagi makan hingga mati. “Demikian siklus terus berputar. Sebagain hasil panen larva dijadikan lalat hingga kembali berkembangbiak,” katanya seraya menambahkan lalat yang mati juga masih dimanfaatkan untuk pakan.

Selain dijual dalam bentuk maggot segar atau yang masih hidup, saat ini juga dikembangkan maggot yang diolah menjadi tepung, termasuk untuk campuran  pelet. Setidaknya, budidaya maggot tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan, akan tetapi yang lebih penting adalah mampu mengurangi volume sampah organik yang belakangan ini terus bertambah.***

Bagikan: