Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 23.7 ° C

Beredar Hoaks Megathrust, Ini Dampaknya terhadap Okupansi Pantai Pangandaran

Agus Kusnadi
Pantai Pangandaran tampak Sepi, Minggu 4 Maret 2018. Tingkat okupansi salah satu objek wisata andalan Jawa Barat ini menurun akibat berita hoax di media sosial terkait gempa Megathrust/AGUS KUSNADI/"KP"
Pantai Pangandaran tampak Sepi, Minggu 4 Maret 2018. Tingkat okupansi salah satu objek wisata andalan Jawa Barat ini menurun akibat berita hoax di media sosial terkait gempa Megathrust/AGUS KUSNADI/"KP"

PANGANDARAN, (PR).- Menyebarnya berita hoaks di media sosial dari orang tak bertanggungjawab tentang isu akan terjadinya gempa megathrust sontak membuat tingkat kunjungan wisata ke Pantai Pangandaran menurun drastis. Oleh karena itu aparat berwenang diharapkan bisa segera mengusut dan menangkap pelaku penyebar berita-berita hoaks di medsos tersebut.

Ketua Tim Khusus Penarikan Retribusi pintu masuk obyek wisata pantai Pangandaran Dadan Sugista membenarkan bahwa tingkat kunjungan beberapa waktu terakhir mengalami penurunan. "Jumlah kunjungan wisata menurun 5 hingga 10 persen dari minggu-minggu sebelumnya," ungkap Dadan, Minggu 4 Maret 2018.

Kondisi ini,  menurut Dadan, tak lepas dari munculnya berita hoaks di media sosial facebook yang menyebutkan bahwa akan terjadi gempa berkekuatan besar megathrust di beberapa daerah termasuk Pangandaran.

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana, Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Pangandaran, melalui laporan dari Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, menginformasikan bahwa perlu dipahami bersama, karena wilayah Indonesia terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif, maka Indonesia menjadi wilayah yang rawan gempa bumi. Oleh karena itu pemerintah (melalui Pusat Studi Gempa Nasional-PUSGEN) dengan didukung oleh para pakar gempa dari beberapa perguruan tinggi, lembaga/kementerian termasuk BMKG, telah menerbitkan buku Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017 sebagai salah satu upaya dan langkah mitigasi gempa bumi di Indonesia.

Peta tersebut merupakan pedoman untuk merancang konstruksi bangunan di daerah rawan gempabumi, dengan mempertimbangkan percepatan tanah akibat perambatan gelombang gempa. Peta tersebut diterbitkan bersama buku dengan judul yang sama.

Di dalam buku tersebut diinformasikan bahwa berdasarkan hasil kajian para pakar gempabumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust, dan proses penunjaman lempeng tersebut masih terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun.

Salah Makna Bisa Menyesatkan



Selanjutnya, menurut analisis para pakar gempabumi, gerakan penunjaman lempeng tersebut memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan/magnitudo maksimum yang diperkirakan dapat mencapai M 8,7. Maka Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) berinisiatif menyelenggarakan diskusi dengan Pemprov DKI untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi gempa bumi tersebut.

"Jadi sebenarnya diskusi tersebut dirancang untuk kalangan terbatas, antara para pakar dan pemegang kebijakan, karena membahas hal yang cukup sensitif namun urgen untuk segera dilakukan langkah lanjut. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab para pakar dalam memberikan layanan keselamatan publik di daerah rawan gempabumi," ujar Managen Pusdalops PB DPKPB Kabupaten Pangandaran Nana Sukarna.

Namun ternyata, tambah nana, ada beberapa tulisan yang beredar viral di medsos. Padahal isi tulisan itu kurang tepat dalam menyimpulkan diskusi dalam sarasehan tersebut, sehingga dimaknai berbeda oleh sebagian masyarakat.

"Kami hanya meluruskan berita hoaks yang sudah beredar supaya tidak salah persepsi tentang berita tersebut, dan informasi yang kami dapatkan dari BMKG pusat sudah jelas diterangkan diatas," ujar Nana.***

Bagikan: