Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Sebagian cerah, 23 ° C

Kisah Gunung Cikuray Garut di Masa Perang, yang Mistik dan yang Heroik

Kodar Solihat

KAWASAN Gunung Cikuray, Garut, sampai kini masih melekat ikon bersaudara ­dengan sejumlah unit perkebunan teh yang berada di kaki gunung itu. 

Di ­samping keindahan alamnya, kawasan Gunung Cikuray pun menyimpan kisah ­semasa zaman perang kemerdekaan ­Indonesia tahun 1947-1949 lalu.

Dalam catatan sejarah yang dikumpulkan dari Perpustakan Pusat ­Dinas Sejarah (Disjarah) TNI-AD di Jalan Kalimantan Bandung, Nationaal Archief Belanda, dan Konklijke Bibliotheek Belanda, kawasan kaki Gunung Cikuray pun menjadi salah satu area konflik pihak Indonesia dengan Belanda pada tahun 1947-1949.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) melanjutkan perlawanan melalui pe­rang gerilya dari hutan dan perkampungan Gunung Cikuray. Perkebunan Dayeuhmanggung dan Perkebunan Juliana ke­mudian dikuasai pasukan Belanda dan kembali dikelola Firma Tiedeman & van Kerchem. 

Ada hal unik dalam catatan ketika di Gunung Cikuray tersebut, ada sebagian anggota pasukan TNI Batalion (Yon) 32/­Garuda Hitam terlibat praktik klenik alias mistis. 

PASUKAN Belanda berkemah di dekat pabrik teh Perkebunan Dayeuhmanggung yang sudah rusak, Juni 1948.*

Walau sejumlah tentara yang mela­kukan klenik itu berdalih dipergunakan untuk mengalahkan pasukan Belanda, namun komandan Yon 32/Garuda Hitam yaitu Kapten Rivai tetap melarang keras karena merupakan sesuatu jalan keliru.

Kisah ini terjadi beberapa hari menjelang Perjanjian Renville, 17 Januari 1948, atau jika dihitung tahun 2018 ini sudah 70 tahun lalu. 

Kisah mistik di Gunung Cikuray ini ditulis­kan oleh Kolonel Purna­wira­wan TNI, Mohamad Rivai pada me­moarnya berupa buku Tanpa Pamrih, ­Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Intermasa Jakarta tahun 1984, yang disimpan di Perpustakaan Pusat ­Disjarah TNI-AD.  

Menurut Mohamad Rivai, saat dirinya masih berpangkat kapten pada pertengahan Januari 1948, Gunung Cikuray menjadi daerah gerilya pasukan TNI Yon 32/Garuda Hitam yang ia pimpin dalam melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda pasca-Agresi Militer I ”Operasi Produk” 21 Juli-5 Agustus 1947. 

Gunung Cikuray dikenal sebagai lokasi angker dan oleh sebagian orang dianggap keramat, serta banyak peristiwa aneh yang tak masuk akal secara ilmiah. Namun nyatanya, terjadi dialami 30 orang tentara anggota batalion bersangkutan yang nekad mencoba-coba praktik klenik. 

Kapten Rivai sudah mengingatkan kepada pasukannya bahwa dalam Alquran juz 3 Surat Ali Imran, ditegaskan, dalam agama Islam, umatnya dilarang melakukan mistik, seperti pemujaan kepada kuburan-kuburan tua atau benda-benda sakti untuk meminta sesuatu kepada makhluk halus jin. 

Akan tetapi, ada sebagian tentara pasukan Batalion 32/­Garuda Hitam yang mem­bandel dan nekad melakukan jalan sesat, melakukan pemujaan kepada makam Eyang Soero­pandji dan sebuah batu besar di Gunung Cikuray. 

Apa yang dicari oleh sejumlah tentara Batalion 32 itu, disebutkan, adalah ”rotan wulung” dan sebentuk cincin yang bernama ”cincin wulung”, yang diyakini tersembunyi di makam Eyang Suropandji dan makam istrinya di Gunung Cikuray. 

Konon, barang­siapa yang memiliki kedua benda itu, akan menjadi kuat, termasyhur, kebal peluru dan aneka segala bentuk racun, dll. 

Beberapa hari menjelang Perjanjian Ren­ville, sebanyak 30 tentara pasukan Yon 32/­Garuda Hitam melakukan pemujaan pada malam Jumat. 

Setelah komat-kamit membacakan mantera, mereka kemudian kesurupan massal. Kapten Rivai yang kemudian mendapat laporan atas kelakuan sebagian anak buahnya itu, bergegas ke lo­kasi dan menyaksikan kejadian mengeri­kan. 

Disebutkan, dalam kesurupan ­massal itu, dilakukan upacara pemanggilan arwah de­ngan diyakini menghadirkan roh Teuku Umar, Imam Bonjol, Diponego­ro, dll, ­untuk ditanyai petunjuk mengalahkan pasukan Belanda. 

Pada kejadian lain, sedang hebat-he­batnya 30 orang pe­laku mistik itu kesu­rupan massal, Kapten Rivai langsung menendang betis pimpinan kelompok kesurupan sehingga semuanya menjadi sadar kembali. 

Melihat kondisi itu, menurut Rivai, diri­nya kemudian marah besar apalagi kegiatan mistik dinilai membahayakan bagi perjuang­an pihak Indonesia. Ia kemudian mengancam akan menembak mati anak buahnya ­jika ada yang melanjutkan praktik mistis. 

Kejadian aneh di gubuk



Disebutkan, di antara 30 orang tentara tersebut masih ada pula yang membandel tak mau menuruti larangan klenik, yaitu Let­da Achmad Ronotirto. 

Alasannya, ia mem­peroleh bisikan dari Eyang Soero­pandji saat sedang di makamnya dan merasa dikelilingi banyak bidadari, tetapi akan dijadikan wadal demi kemenangan atas Belanda. 

Trouw pada 20 April 1949 memberita­kan, pabrik teh Perkebunan Dayeuhmanggung kembali dibuka pada 9 April 1949, oleh perusahaan induknya, Firma Tiedeman & van Kerchem. Upacara pembukaan kembali pabrik teh Perkebunan Dayeuhmanggung tersebut dipimpin istri patih Garut.

Kembali kepada kisah Kapten Rivai bersama Yon 32/Garuda Hitam, pada 28 September 1983 dirinya melakukan napaktilas ke lokasi yang dahulu pasukannya ber­ada. 

Saat napak tilas, tiga anggota tim napak tilas, diantaranya ES Sulaeman, Edi ­Saputra, dan R Yarso, melalui rute melalui Perkebunan Dayeuhmanggung yang saat itu sudah dikelola PT Perkebunan XIII (persero).***

Bagikan: