Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.6 ° C

Banjir Ciliwung Surut, Warga Depok Khawatir Kembali ke Rumah

Bambang Arifianto
WARGA membersihkan lumpur sisa banjir Sungai Ciliwung, RT/RW 2, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Selasa 6 Februari 2018. Meski banjir surut, sejumlah warga khawatir menempati rumahnya.*
WARGA membersihkan lumpur sisa banjir Sungai Ciliwung, RT/RW 2, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Selasa 6 Februari 2018. Meski banjir surut, sejumlah warga khawatir menempati rumahnya.*

DEPOK, (PR).- Banjir akibat luapan Sungai Ciliwung yang merendam pemukiman warga di Kota Depok mulai surut. Namun, sejumlah warga yang sempat mengungsi masih khawatir menempati rumahnya karena takut banjir susulan.

Pantauan "PR", Selasa 6 Februari 2018, permukaan air Ciliwung yang menggenangi puluhan rumah warga mulai surut di RT/RW 2, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji. Beberapa warga terlihat sibuk membersihkan lumpur dan sampah yang masuk rumah dan menutup jalan. Sesekali hujan ringan masih mengguyur lokasi tersebut.  Kendati sudah tak terendam, warga tetap waspada permukaan air Ciliwung kembali naik. Sejumlah warga terdampak banjir memilih menyimpan perabotan di rumah tetangga atau kerabatnya.

Demikian pula yang dilakukan Wawan (54), warga RT 2 Pondok Cina. Awalnya, Wawan beserta keluarga mengungsi dan memindahkan barang - barang berharga ke rumah tetangga saat luapan air Ciliwung menggenangi kediamannya, Senin 5 Februari 2018. Saat permukaan air turun pada Senin malam,  Wawan memilih pulang ke rumahnya dengan keluarga. "Tadinya mau numpang ke rumah tetangga tetapi ada anak kecil, enggak enak," ucap Wawan kepada "PR", Selasa siang.

Keluarga Wawan pun diliputi kekhawatiran banjir kembali terjadi. "Semalaman enggak bisa tidur," ucapnya. Wawan lebih memilih berjaga mengantisipasi air Ciliwung kembali naik.  Kekhawatiran masih dirasakan Wawan hingga kini. Apalagi, sungai yang berhulu di Bogor dan bermuara di Jakarta itu mengalir tepat di tepi rumahnya. "Yang penting enggak dikasih hujan," ujar Wawa berharap. Menurutnya, bantuan berupa nasi bungkus dan mie instan sudah mengalir dari pemerintah.

Kegelisahan dirasakan pula oleh warga RT Pondok Cina lainnya, Suryani (49). Dia mengungkapkan, anak-anaknya sampai sekarang masih dititipkan rumah saudaranya di Pancoran Mas. Dia memilih kembali rumah selepas banjir guna membersihkan kediamannya. Dia menuturkan, luapan Ciliwung pada Senin siang itu paling besar dibanding peristiwa - peristiwa sebelumnya. Ketinggian air bahkan mencapai leher orang dewasa. Dua tahun lalu, tutur Suryani, limpasan Ciliwung hanya sampai pekarangan rumahnya. 

Kulkas jumpalitan



Suryani hanya bisa mengevakuasi dokumen - dokumen berharganya. Sedangkan perabotan berharga lainnya terendam banjir. "Kulkas jumpalitan," ujarnya. Dikatakan Suryani, bantuan yang telah diterimanya hanya nasi bungkus dan air mineral pada Senin malam. Hingga Selasa pagi, dia mengaku belum mendapat bantuan lagi. Bahkan, pengerukan lumpur di jalan depan rumahnya dilakukan swadaya oleh jamaat pengajian. Suryani berharap pemerintah turun tangan membantu warga mengeruk timbunan lumpur dan sampah di jalanan. 

Kondisi serupa terlihat di kawasan terdampak banjir Ciliwung lain di RT 5 RW 14, Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji. Lumpur sisa banjir masih menutupi pek‎arangan rumah warga. Satiman (49), warga RT 5 mengaku merasa cemas karena hujan masih kerap turun. Anak-anak dan isteri Satiman  mengungsi di rumah kerabatnya. Sementara Satiman tetap berada di rumah guna menjaga barang-barang berharga yang tak dipindahkan. "Masih waswas takutnya masih ada (banjir) susulan," ucapnya. Dia menambahkan, bantuan dari pemerintah seperti mie instan, nasi bungkus telah diterimanya.

Satiman menampik keberadaan semua rumah di tepi Ciliwung melanggar aturan. Dia menyatakan, memiliki sertikat hak milik lahan dan bangunan. "Kita bukan warga ilegal, ibaratnya KTP kalau mau dicek wali kota juga ada," tuturnya. Rumah tepi sungai itu pun juga memiliki nomor, masuk data pemilih pemilu dan bagian RT/RW setempat. "Kalau dari awal pemerintah (melarang), warga enggak mau beli lahan (di sana)," ujarnya. Meski demikian, Satiman tak membantah jika ada sebagian rumah di tepi Ciliwung tanpa sertifikat kepemilikan.***

Bagikan: