Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Rektor Universitas Indonesia Akhirnya Minta Maaf

Bambang Arifianto
MAHASISWA mengangkat kertas kuning seraya meniup peluit saat Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menristekdikti M Nasir (kiri) dan Rektor UI Muhammad Anis (kanan) meninggalkan ruangan usai memberikan sambutan pada sidang terbuka Dies Natalis ke-68 UI di Balairung UI, Depok, Jumat 2 Februari 2018.
MAHASISWA mengangkat kertas kuning seraya meniup peluit saat Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menristekdikti M Nasir (kiri) dan Rektor UI Muhammad Anis (kanan) meninggalkan ruangan usai memberikan sambutan pada sidang terbuka Dies Natalis ke-68 UI di Balairung UI, Depok, Jumat 2 Februari 2018.

DEPOK, (PR).- Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo. Permintaan maaf ini atas insiden aksi kartu kuning oleh mahasiswa dalam Dies Natalis ke-68 UI, Jumat, 2 Februari 2018.

"Atas kejadian di atas (soal kartu kuning), Pimpinan UI menyampaikan permohonan maaf kepada sivitas akademika serta para undangan yang hadir termasuk Bapak Presiden RI," kata Rektor UI Muhammad Anis dalam keterangan tertulis Humas UI, Senin, 5 Februari 2018.

Pimpinan UI pun menyayangkan peristiwa itu. Soalnya, penyampaian aspirasi mahasiswa sudah diagendakan dalam pertemuan langsung dengan presiden selepas acara. Menurut Anis, sidang terbuka Dies Natalis Universitas Indonesia seharusnya dihormati dan dijaga kekhidmatannya.

Sikap kritis, lanjut Anis, sudah sewajarnya dibangun karena mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa. Meski demikian, penyampaian saran, kritik dan solusi konkret harus memperhatikan berbagai kondisi seperti waktu, tempat, dan situasi yang terjadi.

"Kami berharap dapat diutarakan dengan cara yang baik, dan tetap menghormati aturan yang berlaku dan menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama," ujarnya.

UI juga mengingatkan pada mahasiswanya untuk dapat menyampaikan pandangannya yang bersifat kritis dan konstruktif dengan memperhatikan peraturan dan tata tertib. Menurut Anis, sudah merupakan kewajiban universitas menghasilkan intelektual-intelektual muda yang mampu menjadi pemimpin yang baik dalam memberikan kontribusi pada negara.

"Karenanya, kami mohon semua pihak memiliki kearifan seperti yang ditunjukkan oleh Presiden kita sendiri, yaitu untuk melihat peristiwa ini sebagai sebuah pengalaman dan pembelajaran bagi mahasiswa tersebut pada khususnya, dan mahasiswa UI pada umumnya, serta seluruh komponen bangsa," ujarnya.

Anis juga mengingatkan, ‎perayaan Dies Natalis merupakan manifestasi rasa syukur Universitas Indonesia yang berkiprah selama 169 tahun dalam mengabdi pada bangsa dan 68 tahun menyandang nama kehormatan bangsa dan negara. "Bagi sivitas akademika dan alumni UI di manapun berada, kehormatan yang diberikan pada kita semua melalui nama Universitas Indonesia adalah sebuah nasihat berkelanjutan bagi kita untuk selalu berkontribusi bagi negeri yang kita cintai bersama ini," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM UI Alfian Tegar menyatakan, rencana pertemuan mahasiswa dengan Jokowi selepas Dies Natalis memang sempat muncul. Rencananya, mahasiswa bakal menyerahkan tuntutan-tuntutannya dari hasil kajian mereka. Namun, rencana tersebut tak mendapat kepastian dari pihak Rektorat UI.

"Sampai (Jumat) dini hari, tidak ada kejelasan (dari rektorat)," ujar Tegar saat dihubungi "PR". Menurutnya, pihak kemahasiswaan Rektorat UI menyatakan masih mengusahakan pertemuan tersebut. Akibatnya, BEM pun memilih menggelar aksi simbolik pemberian kartu kuning sebagai media penyampaian aspirasinya.

Tegar menampik, aksi mahasiswa mengganggu kekhidmatan peringatan ulang tahun UI. Dia mencontohkan, aksi unjuk rasa mahasiswa di Stasiun UI pun tak menimbulkan kericuhan berarti. Bahkan, cara penyampaian tuntutan dilakukan secara simpatik dan simbolik.***

Bagikan: