Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20 ° C

Ini Respons Universitas Indonesia atas Aksi Ketua BEM Angkat Kartu Kuning untuk Jokowi

Bambang Arifianto
MAHASISWA mengangkat kertas kuning seraya meniup peluit saat Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menristekdikti M Nasir (kiri) dan Rektor UI Muhammad Anis (kanan) meninggalkan ruangan usai memberikan sambutan pada sidang terbuka Dies Natalis ke-68 UI di Balairung UI, Depok, Jumat 2 Februari 2018.
MAHASISWA mengangkat kertas kuning seraya meniup peluit saat Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menristekdikti M Nasir (kiri) dan Rektor UI Muhammad Anis (kanan) meninggalkan ruangan usai memberikan sambutan pada sidang terbuka Dies Natalis ke-68 UI di Balairung UI, Depok, Jumat 2 Februari 2018.

DEPOK, (PR).- Aksi mahasiswa Universitas Indonesia yang memberi kartu kuning untuk Jokowi menuai respons pihak kampus. Universitas Indonesia meminta mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan mengikuti aturan yang berlaku.

"Dapat kami sampaikan, aksi tersebut adalah murni aspirasi pribadi mahasiswa yang bersangkutan," kata Kepala Humas dan KIP UI Rifelly Dewi Astuti dalam keterangan tertulisnya, Jumat 2 Februari 2018. Kendati penyampaian aspirasi diperbolehkan, aturan tetap mesti ditaati.

"Kami berharap agar setiap siva (sivitas) UI diperkenankan menyampaikan aspirasinya, pendapatnya, namun tetap menghormati aturan yang berlaku dan menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama," ucap Rifelly.

Namun, Rifelly tak menjelaskan lebih lanjut apakah ada pemeriksaan atau sanksi terhadap mahasiswa yang ikut dalam aksi unjuk rasa dan pemberian kartu kuning untuk Jokowi. Seperti diketahui, aksi tersebut berlangsung selepas Jokowi berpidato dalam Dies Natalis ke-68 di Balairung UI.

Seorang mahasiswa berpakaian batik berdiri meniup peluit dan mengacungkan kertas berwarna kuning kepada Jokowi. Mahasiswa tersebut adalah Ketua BEM UI Zaadit Taqwa. Aksi solo Zaadit merupakan tindakan simbolis pemberian kartu kuning kepada presiden yang telah melakukan pelanggaran sebagaimana pertandingan olahraga.

Tiga pelanggaran



Jokowi dianggap sudah melakukan tiga pelanggaran. Pelanggaran tersebut  pertama, membiarkan anak-anak Asmat (Papua) mengalami gizi buruk. Kedua, beredar wacana (penunjukkan) pejabat polri/TNI sebagai plt gubernur untuk Pilkada Serentak 2018. Ketiga, penolakan draf peraturan baru organisasi mahasiswa dari pemerintah yang mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa. Selain mengabaikan hak masyarakat, pemerintah juga telah meninggalkan amanat reformasi ‎mengenai supremasi sipil.

Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan Universitas Indonesia adalah institusi penghasil generasi bangsa unggulan. ‎"UI adalah gudangnya orang pintar. UI penyumbang menteri terbanyak di kabinet kerja saat ini," ucap Jokowi. 

Jokowi juga memaparkan pentingnya kolaborasi anak bangsa dalam memecahkan persoalan-persoalan Indonesia. "Inovasi adalah kunci, jangan lagi terjebak rutinitas, kampus harus menjadi tempat lahirnya generasi-generasi yang progresif dan adaptif dalam menghadapi kemajuan zaman," ujarnya.***

Bagikan: