Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Badai petir, 26.4 ° C

Di Jawa Barat, Gerhana Bulan dan Super Blue Blood Moon Muncul Diantara Celah Awan

Hendro Susilo Husodo

MITOS bulan purnama picu gempa bumi besar kerap kali muncul setiap akan terjadi gerhana bulan -peristiwa kosmos yang selalu terjadi saat bulan purnama. Pun demikian dengan gerhana bulan total pada 31 Januari 2018 ini, mitos tersebut berulang muncul kembali.

Penggagas komunitas astronomi Imah Noong, Hendro Setyanto mengatakan, sebetulnya tidak ada keterkaitan secara langsung antara bulan purnama atau gerhana bulan dengan gempa bumi. Pasalnya, belum ada kajian yang membahasnya secara detail.

"Kalaupun ada, ya saya enggak tahu. Cuma, kalau ada gempa yang terjadi saat gerhana bulan, biasanya gempanya itu berkekuatan besar. Soalnya, pengaruh gravitasinya maksimal," kata Hendro, di Imah Noong, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 29 Januari kemarin.

Bukan tanpa alasan Hendro berkata begitu. Dia lantas membuka data terkait gempa hebat yang menimbulkan tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Gempa itu terjadi pada 26 Desember 2004, yang bertepatan dengan peristiwa bulan purnama.

"Sekarang kita lihat gempa Yogyakarta. Itu terjadi pada 26 Mei 2006. Nah, kan ada newmoon pada 27 Mei 2006. Ya, (gempa besarnya -red) dekat-dekat bulan purnama lah," kata Hendro, sembari memperlihatkan data dari komputer jinjingnya.

Astronom senior dari Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto menjelaskan, gerhana bulan menimbulkan gaya pasang surut maksimal, yakni lebih besar 1,5 kali dibandingkan biasanya. Bumi merasakan gaya pasang surut itu karena adanya gravitasi bulan.

"Apa yang sering terjadi adalah antara fase bulan dengan fenomena gempa ini mempunyai keterkaitan, tapi enggak selalu. Energi pergerakan lempeng bumi kan jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan. Jadi, sebetulnya dia mempunyai semacam korelasi. Artinya, kita tetap harus waspada, karena bisa jadi ada gempa. Namun, ya kita tidak usah takut," terangnya.

Dia menekankan, kita tak perlu terlalu mencemaskan keterkaitan antara gerhana bulan dengan gempa bumi, karena keduanya sama-sama fenomena alam yang terjadi di luar kuasa manusia. Alih-alih mencemaskan gempa, dia mengimbau agar kita lebih fokus menikmati fenomena gerhana bulan total, yang kali ini disebut-sebut sebagai super-blue-blood moon.

 





Langka 



Peneliti Observatorium Bosscha, Mochamad Irfan menerangkan, gerhana bulan total kali ini terbilang langka dan istimewa, yang teramati di seluruh wilayah di Indonesia. Gerhana bulan total, yang hanya terjadi 5-6 kali dalam 100 kali purnama, tahun ini cuma terjadi pada 31 Januari.

Bulan memasuki bayangan umbra bumi pukul 18.48. Bayangan hitam mulai muncul di permukaan bulan sedikit demi sedikit, hingga pada puncaknya bulan akan terlihat kemerahan pada pukul 19.52 sampai 21.08. Warna merah itu muncul karena cahaya matahari dihamburkan oleh debu dan molekul di atmosfer bumi.

"Warna biru akan terhamburkan lebih kuat, sedangkan warna merah dapat lolos melewati atmosfer bumi dan sampai ke permukaan bulan. Bulan pun tampak berwarna kemerahan. Sebagian orang pada zaman dahulu kemudian menyebut gerhana bulan total sebagai blood moon atau bulan merah darah," katanya.

Akhir fase ketika bulan meninggalkan umbra bumi menuju bagian penumbra terjadi pada pukul 22.11. Saat itu bulan akan kembali terlihat sebagai purnama yang redup, karena pengaruh bayangan penumbra bumi. Baru pada pukul 23.08 bulan tidak lagi berada di dalam bayangan bumi, dan gerhana bulan pun benar-benar berakhir. Selanjutnya bulan akan kembali tampak sebagai purnama yang terang.

"Jika istilah blood moon berasal dari penampakan bulan yang kemerahan saat puncak gerhana, tidak demikian halnya dengan istilah blue moon. Bulan tidak pernah tampak berwarna biru. Istilah blue moon digunakan untuk menyebut bulan purnama kedua yang terjadi pada bulan yang sama," katanya.

Berawan hingga hujan ringan



Selain itu, lanjut dia, gerhana bulan kali ini juga terjadi ketika penampakan bulan purnama lebih besar dan lebih terang dibandingkan purnama biasanya. Itulah mengapa kemudian muncul istilah supermoon. Gerhana bulan total yang terjadi saat supermoon sekaligus blue moon merupakan peristiwa langka.

"Secara rata-rata, peristiwa ini (gerhana bulan total saat supermoon sekaligus blue moon) hanya terjadi 0,042 persen dari keseluruhan purnama atau hanya sekali dalam 2.380 kali purnama. Itu artinya hanya sekali dalam 192 tahun," katanya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprakirakan cuaca saat gerhana bulan bakal berawan hingga hujan ringan. Walaupun begitu, masih ada kemungkinan gerhana bulan dapat terlihat, karena saat cuaca berawan, awan tidak menutup bagian langit secara merata.

"Kalau melihat trennya, seluruh daerah di Jawa Barat dominan berawan. Namun, tetap ada peluang untuk melihat gerhana bulan di antara celah-celah awan," kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Klas 1 Bandung Tony Agus Wijaya.***

Bagikan: