Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 19.5 ° C

Kaprabonan, Keraton yang Terlupakan di Cirebon

SELAIN dikenal dengan julukan kota udang, Cirebon juga dikenal sebagai kota wali. Sebab Cirebon menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat sekitar abad ke-16. Ada beberapa kerajaan Islam yang berdiri di Cirebon, atau lebih dikenal dengan istilah keraton. Salah satunya adalah Keraton Kaprabonan.

Keraton dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti tempat kediaman ratu atau raja; istana raja, kerajaan. Keraton Kaprabonan adalah satu di antara empat keraton yang ada di Cirebon. Tidak seperti ketiga keraton lainnya, Keraton Kaprabonan  sempat menuai polemik karena dianggap bukan termasuk keraton.

Kaprabonan terbentuk karena adanya perselisihan di dalam Keraton Kanoman yang kala itu dipimpin oleh Sultan Badrudin. Pembangunannya diperkirakan dimulai pada tahun 1696. Dikarenakan adanya perselisihan tersebut, Sultan Badrudin memilih untuk memisahkan diri dari Keraton Kanoman dan membangun Kaprabonan.  

Makna dari Kaprabonan ialah kebonnya Cirebon. Dikenal juga sebagai peguron atau tempat berguru, Keraton Kaprabonan berfungsi sebagai tempat pengukuhan. Ketika ada raja yang akan diberikan penobatan atau gelar, maka ia harus dikukuhkan di Keraton Kaprabonan. Hingga kini Kaprabonan masih ditempati oleh keluarga sultan ke-10, yaitu Sultan Pangeran Hempi Raja Kaprabon. “Kaprabonan itu jadi tempat pengukuhannya raja ketika mau dinobatkan,” ujar pengelola keraton. Namun kediaman raja atau istana tidak dibuka untuk umum.

Peran dalung damar 



“Masjid ini didirikan oleh Ki Gede Alang-alang pada tahun 1428. Semua ornamennya masih asli dan tidak mengalami perubahan, dari mulai tembok dan kayu penyangganya,” kata dia. Di dalam kawasan Keraton Kaprabonan terdapat sebuah masjid yang hingga kini masih dipakai. Zaman dahulu saat listrik belum ada, masyarakat menggunakan dalung damar yang dicampur dengan getah karet sebagai alat penerangan.

Maka dari itu dalung damar menjadi lambang dari Keraton Kaprabonan. Di dalam masjid terdapat semacam kursi yang biasa dipakai untuk arak-arakan saat peringatan maulud nabi atau pun panjang jimat.

Area di dalam Keraton Kaprabonan tidak terlalu luas bila dibandingan dengan keraton lainnya di Cirebon, yaitu hanya sekitar 1 hektare. Berlokasi di Jalan Lemahwungkuk, gerbang utama keraton ini tidak terlalu besar, bahkan tidak terlalu mencirikan sebagai keraton karena bercampur dengan lokasi Pasar Kanoman. Tidak ada tarif untuk tiket masuk ke dalam Keraton Kaprabonan ini. Dan untuk yang membawa kendaraan bisa diparkir di luar keraton di area pasar. (Elvin Rizki Prahadiyanti)***

Bagikan: