Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Pilkada Serentak 2018 Kota Sukabumi: Peluang Baru Usai "Mufakat"

Ahmad Rayadie

PERHELATAN Pemilihan Wali Kota Sukabumi 2018 diwarnai dengan satu kejutan. Kejutannya yakni Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz tidak akan mencalonkan diri pada pesta demokrasi Kota 

Suk­abumi, Juni 2018 mendatang.

Wali Kota periode 2013-2018 itu melepas persaingan di Pilwalkot Sukabumi untuk berkonsentrasi diri mempersiapkan sebagai calon wakil rakyat pada Pemilihan Legislatif 2019 mendatang. 

Di setiap momen pertemuan dengan warganya,  Mohamad Muraz berulang kali memberikan pernyataan tidak akan kembali mencalonkan diri maju menjadi kandidat kepala daerah.

Bahkan pernyataan kembali dipertegas  lagi di sela-sela peluncuran Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018, beberapa waktu lalu. 

Pernyataan tidak maju pada bursa pilwalkot yang diungkapkan di Gedung Djuang 45 yang dihadiri para pejabat muspida, tokoh politik, dan tokoh masyarakat itu sempat diganjar aplaus dari ratusan undangan.

”Saya tidak akan ikut kembali pada pilwalkot mendatang. Lebih diibaratkan berhenti  makan sebelum kenyang. Cukup satu kali saja memimpin Kota Sukabumi dan akan berkonsentrasi jadi anggota parlemen di Senayan mendatang di wilayah pemilihan Kota dan Kabupaten Sukabumi,” kata Mohamad Muraz.

Sebenarnya potensi Muraz untuk memenangi Pilwalkot Sukabumi masih terbuka lebar. Selain sejumlah dukungan masih terus mengalir, posisi Mohamad Muraz sebagai  Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Sukabumi  memiliki kekuasaan  politik penuh untuk tetap maju kembali. 

Akan tetapi, prediksi banyak orang tentang Mohamad Muraz akan kembali berpasangan dengan wakilnya, Achmad Fahmi yang disebut ”mufakat” jilid II meleset.

Bahkan entah mengapa peluang tersebut diberikan kepada kandidat lain,  yakni Andri Hamami. Andri Hamami yang notabene mantan Ketua Dewan Pimpinan  Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Sukabumi itu didorong maju bersanding dengan Achmad Fahmi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Setelah mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat, Andri Hamami kini resmi  diusung menduduki posisi bakal calon Wakil Wali Kota Sukabumi pada perhelatan Pilwalkot Sukabumi 2018 mendatang.

”Kami menghormati keputusan Mohamad Muraz yang tidak mencalonkan kembali pada bursa Pilwalkot Sukabumi. Padahal potensi untuk memenangi perhelatan mendatang masih cukup tinggi. 

Ini memperlihatkan sikap kenegarawanan yang sangat luar biasa dengan mempersilakan kandidat lain untuk maju,” kata pengamat Kebijakan Publik Sukabumi, Asep Deni.

Keputusan Andri Hamami untuk berpasangan dengan petahana Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi sudah final. Kepastian  itu diperoleh setelah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera Kota Sukabumi, Asep Tajul Mutaqien memastikan akan tetap mengusung pasangan Achmad Fahmi dan Andri Setiawan Hamami pada perhelatan Pilkada Kota Sukabumi 2018 mendatang. 

Koalisi Demokrat-PKS yang mengantongi tujuh kursi DPRD itu cukup untuk melenggang ke tahapan selanjutnya.

Sebenarnya, kata Asep Deni, peta kekuatan calon di Pilwalkot Sukabumi relatif masih sangat dinamis dan terus mencair. Walaupun ada pasangan yang telah digadang-gadang untuk berpasangan, hingga sepekan pendaftaran pasangan calon awal pekan Januari 2018 mendatang diperkirakan akan menguat. 

”Mereka masih menunggu peluang menang dengan pasangan mana. Diprediksi, hingga memasuki pekan pendaftaran akan terjadi penguatan  pasangan,” katanya.

Partai menengah mencari gerbong koalisi



Sebagai salah satu parpol peraih suara terbanyak di Sukabumi, PDI Perjuangan sudah mengelus jagonya, yakni Hanafie Zain. 

Mantan Sekretaris Daerah Kota Sukabumi itu, terus-menerus melakukan langkah politik setelah telah mengantongi kartu tanda anggota PDI Perjuangan. 

Hanafi terus berbenah diri dan bergerilya ke sejumlah kalangann.  Bahkan, Hanafi dan timnya telah melakukan konsolidasi internal partai, pimpinan anak cabang (PAC) dan ranting PDIP di Kota Sukabumi.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Sukabumi Tatan Kustandi menegaskan, konsolidasi internal merupakan bagian dari surat tugas yang diamanatkan DPP PDIP kepada Hanafie. 

Kehadiran seluruh komponen partai merupakan bentuk kesiapan merupakan memenangkan Pilwalkot Sukabumi mendatang.  

Selain mengoptimalkan dukungan militan, PDI Perjuangan telah mendeklarasikan mengusung Hanafie dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Peluang dengan dukungan tujuh suara yang dikemas koalisi minimalis masih membuka peluang partai lainnya untuk bergabung. 

Di tubuh Partai Hanura, Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Hanura  Kota Sukabumi Bayu Waluya telah menerima surat tugas dari Tim Pilkada Pusat (TPP) Partai Hanura untuk berkoalisi dengan PDIP. Bayu pun berpeluang untuk menjadi pendamping Hanafie. 

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengatakan akan tetap konsisten bergabung dengan PDI Perjuangan. Bahkan tidak hanya mengerucut mendukung Hanafie Zain menjadi bakal calon Wali Kota Sukabumi. 

Seperti halnya Hanura, PKB pun mengincar kursi calon wakil wali kota, mendampingi Hanafie. Sekretaris Dewan Syuro PKB Usep Ubadillah mengatakan bahwa partainya memiliki figur yang dinilai pantas   mendampingi Hanafie Zain. 

Figur yang disodorkan PKB adalah Anton Rachman Suryana (Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi).

”Hanya saja, langkah yang dilakukan para partai pengusung dan pendukung harus segera diwujudkan dalam pembentukan pasangan bakal calon melalui deklarasi,” kata pengamat Kebijakan Publik, Asep Deni.

Bursa calon



Koalisi Masyarakat Membangun Kota Sukabumi (Masagi) antara PPP dan PAN kian matang. Bahkan, kini mereka  melakukan proses komunikasi dengan Ketua DPD Partai Nasdem Kota Sukabumi, Mulyono. 

Mantan Wakil Wali Kota Sukabumi periode 2008-2013 itu dipastikan  akan meramaikan bursa pesta demokrasi kali ini.

Mulyono yang merupakan mantan  orang kedua di era Wali Kota Sukabumi, Mohamad Muslikh Abdusyukur itu dipastikan diusung Partai Amanat Nasional (PAN). 

Kepastian diusungnya Mulyono itu  setelah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Kota Sukabumi menggelar sidang pleno terkait dengan pembahasan perhelatan Pemilihan Wali Kota Sukabumi 2018 mendatang.

Rapat pleno yang dihadiri seluruh pengurus DPD, DPC PAN se-Kota Sukabumi dan pengurus DPW PAN Jabar tidak hanya Mulyono. 

Ada tiga nama lainnya yang dinilai pantas  untuk diusung PAN. Mereka itu Jona Arizona (Ketua DPD Partai Golkar Kota Sukabumi), Ima Slamet (Ketua DPC PPP Kota Sukabumi), dan Hanafie Zain (mantan Sekda Kota Sukabumi).

Pengamat kebijakan publik Asep Deni mengatakan, sosok Jona Arizona yang juga Ketua Partai Golkar kemungkinan besar akan maju sebagai calon di pilwalkot kali ini. Apalagi berbagai sosialisasi telah jauh-jauh hari dilakukan oleh partai pohon beringin tersebut. Dengan kekuatan enam kursi, Jona Arizona hanya tinggal menunggu peluang satu kursi dari partai lainnya untuk memuluskannya.

Hanya, kata Asep Deni, Partai Golkar teracam ditinggal oleh parpol lain jika tidak segera membangun komunikasi politik yang lebih instan. 

”Karena kehati-hatian yang dilakukan  partai tersebut menjadi dilema tersendiri sehingga terancam tidak memiliki gerbong kereta api alias ditinggalkan. Padahal dengan kursi yang begitu besar harusnya sejak awal terjalin komunikasi politik dengan sejumlah partai lainnya,” kata Asep Deni.

Sementara itu, posisi Ketua Gerindra Sukabumi Dedi R Wijaya  tidak menutup kemungkinan akan menjadi kuda hitam. Apalagi jalinan komunikasi politik telah lama terbangun dengan Partai Hanura. Dengan demikian, relatif aman untuk maju berpasangan. 

Apalagi dengan kursi tujuh relatif cukup  memadai. ”Belum lagi sejumlah sukarelawannya terus-menerus melakukan langkah gerilya mendekati seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

Orang kedua diprediksi penentu kemenangan



Absennya Mohamad Muraz dalam kancah pertarungan Pilwalkot Sukabumi 2018 justru memberi harapan baru bagi kandidat lain. Beberapa nama atau figur mulai merapat ke sejumlah parpol. 

Posisi bakal calon wakil wali kota atau orang kedua pada perhelatan Pilwalkot Sukabumi 2018 mendatang lebih memiliki perhatian penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Posisi orang kedua tersebut dinilai lebih memiliki daya tawar dibandingkan dengan posisi orang pertama.

Apalagi saat ini figur yang muncul sebagai bakal calon Wali Kota Sukabumi, rata-rata sudah dikenal publik. 

Tengok saja, ada Achmad Fahmi (Wakil Wali Kota Sukabumi), dan Hanafie Zain (mantan Sekda Kota Sukabumi). Sosok mereka cukup dikenal baik dalam hal prestasi maupun elektabilitas suara di masyarakat. 

Pengamat Kebijakan Publik Sukabumi, Asep Deni mengatakan, sosok orang kedua di Kota Sukabumi dapat memengaruhi kemenangan. 

”Bisa saja orang kedua justru akan menjadi sosok kemenangan dan kekalahan pada demokrasi kali ini. Jadi perlu kehati-hati dan analisis secara menyeluruh dalam mencari pasangan. Karena bila salah memilih, bukan menang, tetapi akan sebaliknya,” kata Asep Deni.

Kendati cukup seksi, kata Asep Deni, posisi orang kedua justru luput dari perhatian publik. Sebab, sebagian besar kandidat  justru hanya ingin menduduki posisi orang pertama.  

Asep Deni mengungkapkan, pasangan bakal calon pada Pilwalkot Sukabumi 2018 mendatang idealnya hanya tiga pasangan. Pasangan Achmad Fahmi dan Andri Setiawan dinilai telah solid. 

Selain kesolidan telah terbangun sejak lama, posisinya juga strategis karena kedua partai pengusung telah membangun pasangan tersebut. 

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Sukabumi, Hamzah memprediksi pasangan calon pada Pilwalkot Sukabumi 2018 maksimal empat pasangan. Prediksi tersebut merupakan hasil dari pemetaan yang selama ini telah dilakukan KPU. 

”Kami memprediksi tiga hingga empat pasangan calon pilwalkot mendatang. Apalagi dari unsur perseorangan dinyatakan gagal tidak bisa mencalonkan. Mereka  tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan,” katanya.***

Bagikan: