Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 23.3 ° C

Penderita Difteri di Cianjur Bertambah

Shofira Hanan
PERAWAT mengunakan berjalan usai melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus Difteri di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Jumat 8 Desember 2017. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menetapkan kasus virus Difteri merupakan kasus kejadian luar biasa, sehingga Kemenkes akan menjadwalkan imunisasi vaksin TD (tetanus-difteri) untuk mengatasi kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri di tiga provinsi diantaranya Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.*
PERAWAT mengunakan berjalan usai melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus Difteri di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Jumat 8 Desember 2017. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menetapkan kasus virus Difteri merupakan kasus kejadian luar biasa, sehingga Kemenkes akan menjadwalkan imunisasi vaksin TD (tetanus-difteri) untuk mengatasi kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri di tiga provinsi diantaranya Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.*

CIANJUR,(PR).- Dua remaja asal Kecamatan Cikalongkulon dan Pacet dipastikan positif mengidap difteri. Kasus kedua remaja tersebut, menjadi temuan difteri yang keempat pada 2017 ini. Terakhir kali, difteri ditemukan pada November 2017 lalu yang dialami seorang anak usia SD.

Saat ini, kedua remaja itu menjalani penanganan secara serius di RSUD Sayang. Menurut Direktur Utama RSUD Sayang, Ratu Tri Yulia, remaja-remaja tersebut ditangani di ruang isolasi dan ditempakan dokter khusus untuk menangani mereka.

”Sejauh ini sudah ada beberapa pasien difteri yang ditangani di RSUD Sayang. Mereka bisa dinyatakan sembuh, setelah lima sampai sepekan ditangani. Tapi tu pun tergantung daya tahan tubuh pasien juga,” kata dia, Selasa 12 Desember 2017.

Temuan penyakit difteri itu, disebut-sebut menambah catatan kasus difteri di Cianjur. Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Neneng Efa Fatimah, sebelumnya tiga kasus difteri terungkap. Sembilan orang diketahui positif difteri, dan dua diantaranya meninggal dunia.

”Dengan temuan ini, total ada 11 orang yang terjangkit difteri di lima lokasi berbeda. Daerah yang paling banyak dijangkiti ada di Cikadu, di sana satu keluarga terjangkit difteri. Kami masukkan (kasus) itu ke dalam data khusus,” ujarnya.

Amati gejala difteri



Efa mengatakan, selain kasus di atas, diduga pula seorang anak berusia tujuh tahun Kelurahan Solokpandan Kecamatan Cianjur terjangkit difteri. Seorang dokter diketahui menyampaikan informasi tersebut, setelah mendapati pasiennya mengalami gejala difteri.

Akan tetapi, hingga saat ini anak tersebut belum datang ke rumah sakit untuk penanganan atau pemeriksaan lebih lanjut. Efa juga terus mengingatkan, agar masyarakat sadar betul gejala difteri secara umum.

”Gejala seseorang terkena difteri itu, ada selaput putih di tenggorokan serta flu yang terubah-ubah warna ingusnya. Lama-kelamaan, selaput dan ingus itu bahkan akan berganti dengan darah,” kata dia.

Penularan difteri sangat cepat dan dapat terjadi bahkan saat sedang mengobrol dengan pengidapnya. Maka dari itu, keluarga yang anggotanya terjangkit difteri juga harus mendapat suntikan vaksin agar tidak tertular.

Maraknya lagi kasus difteri, membuat Efa terus menekankan agar warga menjalani pola hidu bersih dan sehat. Perhatian terhadap lingkungan dan kesehatan tubuh perlu dijaga untuk menghindari penyebaran difteri.

Sadar imunisasi



Sementara itu, Ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Cianjur, Ratu Elisye, terus mendorong seluruh kader PKK untuk mengajak warga mengimunisasi putra putri mereka. Apalagi, saat ini difteri menjadi perhatian banyak pihak, karena jumlahnya yang terus meningkat.

”Salah satu faktor peningkatan adalah masih banyak yang belum sadar untuk melakukan imunisasi lengkap,” kata Ratu.

Oleh karena itu, ia pun berusaha menggencarkan imunisasi lengkap di seluruh wilayah Cianjur. Hal itu dinilai perlu, mengingat banyak dari mereka yang terjangkit difteri tidak menjalani imunisasi. Padahal, jika imunisasi yang harus dijalani sebanyak tiga kali itu tuntas, maka kemungkinan terjangkit pun hanya sekitar tiga persen saja.***

Bagikan: