Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian cerah, 26.8 ° C

Asal Nama Pondok Cina dan Kisah Terusirnya Tionghoa dari Pancoran Mas

Bambang Arifianto
RUMAH tua Pondok Cina terhimpit mal dan apartemen di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Rabu 18 Oktober 2017. Rumah tua itu merupakan jejak keberadaan orang Tionghoa di Depok.*
RUMAH tua Pondok Cina terhimpit mal dan apartemen di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Rabu 18 Oktober 2017. Rumah tua itu merupakan jejak keberadaan orang Tionghoa di Depok.*

PONDOK Cina, Kota Depok. Kelurahan yang terletak di Kecamatan Beji itu punya kisah terkait penamaannya. Dulu, Pondok Cina merupakan kawasan Pecinan atau tempat bermukim orang - orang Tionghoa.

Kini, jejak peninggalan para pendatang tersebut terbilang minim. Sebuah bangunan tua yang dikenal dengan rumah Pondok Cina menjadi salah satu jejak tersisa kehadiran orang Tionghoa. Namun, nasib bangunan bersejarah itu juga cukup mengkhawatirkan. Terkepung Mal Margo City dan Margo Hotel, rumah Pondok Cina seperti kehilangan fungsi dan terkesan menyeramkan. Akses masyarakat menuju rumah Pondok Cina juga tak mudah. Lalu apa urusan pendatang Tionghoa hadir di Depok di masa lalu? "PR" mencoba menelusurinya.

Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M Irsyam mengungkapkan, kehadiran orang Tionghoa di Depok terjadi sejak abad ke-18. "(Pemukiman Tionghoa) itu ada di  kampung sekitar (rumah Pondok Cina)," ucap Tri saat dihubungi "PR", Selasa 17 Oktober 2017.

Pendatang tersebut merupakan pedagang - pedagang di pasar Depok. Pondok Cina merupakan tempat transit atau pemondokan mereka sebelum berdagang di pasar. 

Orang Tionghoa saat itu dilarang tinggal di wilayah Depok lama yang berada di sekitar kawasan Pancoran Mas. Larangan tersebut berdasarkan surat wasiat yang ditulis Cornelis Chastelein, eks tenaga pembukuan VOC yang menjadi pemilik tanah Depok. Mereka dianggap sumber kerusuhan dan suka meminjamkan uang dengan bunga tinggi.

"Mereka hanya diizinkan berdagang pada waktu siang hari. Apabila matahari telah terbenam, mereka berbondong - bondong meninggalkan kawasan Depok," tutur Tri. Para pedagang tersebut tak mungkin pulang ke Glodok yang jadi pemukiman Tionghoa di Batavia. 

Rumah tua Pondok Cina



Akhirnya, tutur Tri, mereka tinggal di Kampung Bojong yang berlokasi di sekitar rumah Pondok Cina. Rumah tua itu juga memiliki kisah penanda kehadiran orang Tionghoa. Tri menuturkan, rumah Pondok Cina dibangun seorang arsitek Belanda. Pada pertengahan abad ke-19, saudagar Tionghoa bernama Lauw Tek Tjiong membeli dan mewariskan kepada anaknya, Lauw Tjeng Shiang. Sang anak merupakan Kapiten Cina.

Kawasan di sekitar rumah tua adalah perkebunan karet dan area pesawahan yang awalnya didiami  lima keluarga keturunan Tionghoa. Selain berdagang, para pendatang tersebut ada yang menjadi petani dan bekerja di perkebunan karet tuan tanah Belanda.

Dari penelusuran "PR", Rabu 18 Oktober 2017, bekas pemukiman kaum Tionghoa itu tak tersisa. Lahan di sekitar mal dan hotel yang mengapit rumah tua Pondok Cina sudah menjadi pemukiman padat warga. Jejak yang masih bisa ditemui adalah kompleks kuburan tua Tionghoa yang berada di tepi Jalan Karet, belakang hotel. Peninggalan yang paling jelas ‎ adalah rumah tua Pondok Cina. Akan tetapi, Tri menilai, rumah tua itu sudah tak sepenuhnya asli. "Itu yang kita sayangkan, saya enggak lihat bentuk aslinya," tuturnya.

Peninggalan yang masih asli, lanjut Tri, tersisa di bagian depan rumah. Namun, arsitektur bangunan khas Tionghoa seperti keberadaan kamar anak di depan dan orang tua di belakang sudah tak nampak.

Akses warga yang ingin mendatangi rumah tua Pondok Cina juga bukan gampang. Soalnya, bangunan bersejarah itu berada di area dalam sebuah hotel. Tetek bengek izin pihak pemilik hotel bakal mengadang warga yang ingin menyambangi bangunan itu.‎ Kehadiran pendatang Tionghoa di Depok juga tercatat penulis Belanda, Jan Karel Kwisthout dalam bukunya, Jejak - Jejak Masa Lalu Depok Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714) Kepada Para Budaknya Yang Dibebaskan. Menurut Jan, pendapat Chastelein terhadap orang-orang Tionghoa tak begitu baik karena mereka dianggap licik dalam mendapatkan uang. 

Instruksi Chastelein cukup diikuti masyarakat Depok tempo dulu. Pada awal abad 20, orang Tionghoa yang memiliki toko kecil di Depok dilarang pemerintah desa setempat memasuki tanah itu sebelum matahari terbit. "Dan sebelum matahari terbenam, ia sudah harus meninggalkan tanah itu lagi," tulis Jan. Karena tak boleh tinggal di tokonya, orang Tionghoa pun mendirikan rumah di Pondok Cina. Hingga kini, tak jelas benar musabab menghilangnya para pendatang Tionghoa dan kawasan Pecinannya di Pondok Cina. Tanpa ada upaya pelestarian, peninggalan tersisa seperti rumah tua barangkali tinggal menunggu waktu lenyap dan menjadi sekadar dongeng di masa depan.***

Bagikan: