Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

Belasan Tahun Dibiarkan, Pencemaran Sungai Cilamaya Kian Parah

Dodo Rihanto
AIR Sungai Cilamaya di bagian hilir yang menjadi pembatas Kabupaten Karawang dan Subang terlihat hitam pekat. Diduga kuat perubahan warna air sungai tersebut akibat  tercemar limbah industri.*
AIR Sungai Cilamaya di bagian hilir yang menjadi pembatas Kabupaten Karawang dan Subang terlihat hitam pekat. Diduga kuat perubahan warna air sungai tersebut akibat tercemar limbah industri.*

KARAWANG, (PR).- Pencemaran Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya tidak pernah ditangani secara serius. Akibatnya, pencemaran limbah B3 itu terus berlangsung hingga belasan tahun.

Selama itu pula masyarakat yang tinggal di sekitar Bendungan Barugbug dan sepanjang bantaran Sungai Cilamaya menderita. Mereka harus menghirup aroma tidak sedap yang muncul dari air yang tercemar limbah.

Bahkan tidak sedikit warga masyarakat yang menderita gatal-gatal setelah terkena air sungai. Lahan pertanian pun menjadi gersang saat terkena air limbah yang mengalir melalui Sungai Cilamaya.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Karawang, Elivia Khrissiana, saat dihubungi, Minggu 24 September 2017. "Pencemaran tersebut diduga berasal dari industri yang berlokasi di Kabupaten Purwakarta dan Subang. Sebab, hulu Sungai Cilamaya berada di dua daerah itu," ujar Elivia.

Menurutnya, kasus pencemaran Sungai Cilamaya sudah saatnya diselesaikan sampai tuntas. Sebab, masyarakat Kabupaten Karawang yang mersakan langsung dampak negatif dari pencemaran tersebut.

"Pemkab Karawang, Purwakarta, dan Subang harus duduk bersama untuk mencari solusi yang efektif menyelesaikan kasus ini.Harus ada tindakan tegas dari pemerintah daerah setempat terhadap perusahaan yang membuang limbah beracun ke sungai Cilamaya, " kata Elivia Khrissiana.

Butuh kerja bersama



Menurutnya, Komisi C DPRD Karawang sudah melakukan kunjungan ke Purwakarta untuk mempertanyakan tindakan yang diambil oleh pemerintah setempat. Hanya saja Pemkab Purwakarta mengaku tidak menemukan bukti kuat jika ada perusahaan di Purwakarta yang membuang limbah beracun ke sungai Cilamaya.

"Penjelasan itu subjektif. Makanya kami minta agar pengusutan soal limbah itu melibatkan tiga pemerintahan yaitu Karawang, Subang dan Purwakarta." katanya.

Elivia mengaku telah mendesak Pemkab Karawang aktif dalam menyelesaikan masalah limbah beracun tersebut. Pemkab harus melaporkan masalah itu ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup.

Dikatakan, sebenarnya pihak Kementrian LHK sudah pernah mengambil sampel air sungai yang tercemar untuk diteliti. Hanya saja, hingga sekarang, belum diketahui hasil penelitiannya seperti apa.

"Harusnya dikejar seperti apa hasilnya. Yang pasti masyarakat telah mersakan dampak buruk dari pencemaran tersebut," katanya.***

Bagikan: