Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 22.7 ° C

Banyak Digunakan Warga Saat Kemarau, Pencemaran Sungai Ciliwung Meningkat

Bambang Arifianto
WARGA melintasi badan Sungai Ciliwung yang mengering di kawasan Jembatan Grand Depok City, Kota Depok, Minggu 24 September 2017. Menyusutnya Ciliwung diiikuti meningkatkan pencemaran akibat aktivitas warga.*
WARGA melintasi badan Sungai Ciliwung yang mengering di kawasan Jembatan Grand Depok City, Kota Depok, Minggu 24 September 2017. Menyusutnya Ciliwung diiikuti meningkatkan pencemaran akibat aktivitas warga.*

DEPOK, (PR).- Musim kemarau yang melanda Kota Depok membuat permukaan air Sungai Ciliwung semakin menyusut. Kondisi tersebut diperparah aktivitas pembuangan limbah yang terus terjadi.

Pantauan Pikiran Rakyat pada Minggu 24 September 2017, penyusutan terlihat di sepanjang sungai yang melintasi Depok itu. Titik penyusutan terparah berada di sekitar Jembatan Grand Depok City (GDC). Tonjolan bebatuan cadas yang semula berada di dasar Ciliwung menyembul karena air yang mengering di sana. Separuh badan sungai bahkan tak teraliri air. Hanya terlihat sampah yang bertebaran.

Namun, keadaan tersebut tak menyurutkan sejumlah bocah berenang dan bermain-main di sungai. Penyusutan Ciliwung juga diikuti mengeringnya sumber air atau sumur warga yang bermukim ditepi sungai. 

Akibatnya, warga turun ke sungai untuk mengambil air guna keperluan sehari-hari. Pegiat lingkungan dari Komunitas Ciliwung Depok(KCD), Taufiq DS mengatakan, warga menggunakan Ciliwung guna mencuci hingga buang air besar.

"Ciliwung jadi riuh," kata Taufiq saat ditemui Pikiran Rakyat di Jembatan GDC, Depok, Minggu siang.

Taufiq menduga, berbagai aktivitas warga itu berdampak pada peningkatakan pencemaran Ciliwung. Warga tak memiliki pilihan selain menggunakan Ciliwung setelah sumber air di rumahnya mengering.

Saat menyusut, tutur Taufiq, air Sungai Ciliwung justru terlihat jernih. Berbagai polutan atau limbah mengendap karena tak terbawa aliran sungai yang debitnya berkurang. 

Tak ada pilihan



Bertambahnya aktvitas masyarakat menggunakan air  Ciliwung diakui pula Chairumansyah, warga Gang Masjid Ratujaya, Keluraha Ratujaya, Kecamatan Cipayung.

"Lebih banyak masyarakat yang nyuci di kali," ujar Chairumansyah.

Dampak kemarau dirasakan betul warga yang tinggal sepanjang tepi Sungai Ciliwung. Selain turun ke sungai, warga juga memperdalam lubang sumur dengan cara mengebornya. Di wilayah tempat tinggal Chairumansyah, warga terdampak kekeringan berada di RW 5 Ratujaya. Di sana, warga terdampak banyak bermukim RT 9 dan RT 7 RW 5. Chairumansyah merasakan sendiri kekeringan di kediamannya.

Setiap mengisi bak mandi dengan kapasitas 50 liter, sumur Chairumansyah langsung mengering. Dia mesti menunggu waktu 15 menit agar sumur kembali terisi air. Chairumansyah tak habis pikir kenapa sumurnya ikut mengering.

"‎Padahal rumah saya kurang lebih (berjarak) tiga meter dari bibir sungai (Ciliwung)," katanya.

Imbas kekeringan warga membuat penggunaan air Ciliwung jadi solusi meski berdampak pencemaran. "Ya daripada (warga) buang air besar di rumah (dengan sumur mengering),  mending di sungai," ucap Chairumansyah.

Anak-anak yang akan berangkat sekolah siang, tuturnya, juga kerap mandi terlebih dahulu di Ciliwung. Kendati tak steril dari limbah, Chairumansyah mengaku belum ada warga yang terkena gangguan kesehatan setelah memakai air Ciliwung.

Menurut dia, pemerintah semestinya mengukur pula tingkat pencemaran Ciliwung saat kemarau. "Harus ada penelitian," ujar dia.

Terkait penurunan ketinggian air Ciliwung, Chairumansyah menilai penyusutannya sudah di bawah normal. Ketika normal, ketinggian permukaan air mencapai 150 centimeter. Kini, ketinggian Ciliwung sekitar 70 cm.***

Bagikan: