Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

#KlipingPR Tragedi Sejarah, Sepuluh Topeng Pusaka Dicuri

Arie C. Meliala
Pikiran Rakyat edisi 1 September 2008.*
Pikiran Rakyat edisi 1 September 2008.*

1 September 2008. Sepuluh topeng pusaka keluarga Sujana Arja, maestro tari topeng Desa Selangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon hilang dicuri. Bukti sejarah terpenting dari masa kejayaan tari topeng khas Selangit itu telah mengawal tradisi topeng setempat selama empat generasi. Hari ini, sembilan tahun silam kejadian itu diberitakan Pikiran Rakyat di halaman utama.

Inu Kertapati, putra almarhum maestro Sujana Arja kepada salah satu wartawan Pikiran Rakyat kala itu, wartawan Pikiran Rakyat Agung Nugroho menceritakan kejadian itu. Topeng itu dicuri dari tempat penyimpanannya di rumah keluarga yang dihuni bibinya, Keni Arja (60). Dari sebelas topeng wasiat itu, hanya satu topeng yang selamat dari pencurian. "Itu pun karena kebetulan disimpan terpisah," tutur Inu.

Dia mengatakan, pencuri masuk dengan cara merusak pintu depan rumah. Tak ada barang lain yang hilang, kecuali sepuluh topeng pusaka yang disimpan dalam sebuah kotak kayu.

"Pencuri hanya mengambil topeng wasiat. Tidak ada barang lain yang hilang, perhiasan emas malah tidak ikut diambil. Kami menyimpulkan sasaran pencurian topeng-topeng bersejarah itu," tutur Inu.

Tak lama setelah pencuri mengambil topeng, pemilik rumah sempat terbangun. Bahkan tetangga sempat mengejar. Namun pencuri langsung kabur ke arah Plered. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya "ules" (kain penutup topeng) yang dibuang berceceran oleh si pencuri.

"Pencuri itu lari ke arah timur menuju Plered. Kami hanya menemukan ules yang sengaja dibuang si pencuri," tutur dia. Inu juga menceritakan, sebelum hilang, sudah ada dua tamu datang untuk menawar topeng-topeng itu. Pertama menawar Rp5 juta/ topeng, berikutnya Rp10 juta/topeng.

"Tapi keluarga tetap bertahan untuk tidak menjual, sebab topeng itu memiliki nilai sejarah tinggi," tutur dia.

Kehilangan besar



Budayawan Cirebon, Ahmad Syubanudin Alwy sempat kaget menerima pemberitahuan hilangnya topeng pusaka keluarga Arja. Menurut dia, ini sebuah tragedi sejarah tragis yang nilainya tak kalah penting dengan hilangnya naskah-naskah kuno Keraton Cirebon.

"Ini sebuah kehilangan besar. Bila naskah kuno itu simbol sejarah kemapanan di lingkungan keraton, topeng ini merupakan simbol dari seni-seni tradisi rakyat. Harus dicari upaya serius untuk kembali menemukan topeng itu," ujar dia menandaskan.

Dari laporan pihak keluarga, Alwy menjelaskan, topeng yang hilang jumlahnya lima "wanda" (pertunjukan). Di antaranya meliputi Panji, Pamindo, Rumyang, Kelana sampai Rahwana, yang masing-masing menggambarkan karakter khas tari topeng Selangit.

Dipakai empat generasi



"Topeng itu sudah dipakai empat generasi. Terakhir, sebelum meninggal, dipakai oleh maestro topeng Sujana Arja," tutur dia.

Alwy mendesak polisi segera menangkap pencuri dan menemukan topeng-topeng tersebut. Laporan dan keterangan pihak keluarga bisa menjadi acuan untuk memulai penyelidikan siapa di belakang pencurian benda budaya yang sangat berharga tersebut.

"Bila pencurian topeng itu dibiarkan, akan ada lagi benda-benda bersejarah Cirebon yang dicuri. Saya menduga di belakangnya ada sindikat pengincar benda-benda sejarah. Harganya memang bisa sangat mahal," katanya.***

Bagikan: