Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Pernikahan Dini Jadi Ganjalan Pembangunan Cianjur

Shofira Hanan

CIANJUR, (PR).- Program pendewasaan usia perkawinan (PUP) semakin diintensifkan kepada remaja untuk mencegah pernikahan dini. Hal itu berkaitan dengan antisipasi terjadinya ledakan penduduk, menyusul banyaknya pernikahan dini di pelosok maupun perkotaan Cianjur.

Berdasarkan data Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Cianjur, jumlah penduduk Cianjur adalah 2.269.219 pada 2016 lalu. Dari jumlah itu, terdapat 2,89% anak di bawah 20 tahun yang melakukan pernikahan dini. Padahal, baiknya perempuan menikah pada usia 21 tahun dan laki-laki pada usia 25 tahun.

Jumlah yang terbilang besar itu dikhawatirkan akan terus meningkat hingga saat ini. Apalagi, sejak beberapa tahun ke belakang, kondisi pergaulan remaja perkotaan dan pelosok sama-sama mengarah pada terjadinya pernikahan dini.

"Pernikahan itu perlu dikendalikan, karena berdampak banyak. Bisa kepada individu (pelaku pernikahan) atau bahkan dampak yang lebih besar, misalnya ledakan penduduk," kata Kepala Seksi Pengendalian Penduduk Data dan Informasi Keluarga Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana BKBPP, Endang Suryana.

Ia melanjutkan, fenomena pernikahan dini yang biasanya terjadi di kawasan pelosok pun makin banyak terjadi di perkotaan. Daerah daerah Kecamatan Mande, Cikalong Kulon, Ciranjang, dan Bojongpicung di perkotaan menjadi sejumlah kawasan yang rawan terjadinya pernikahan dini.

Program terkait antisipasi bertambahnya pernikahan dini semakin banyak disampaikan kepada anak usia sekolah. Setidaknya, kalangan remaja mendapatkan pemahaman lebih mengenai risiko pernikahan yang terlalu dini dilakukan.

"Kalaupun sudah telanjur menikah, kami akan berikan sosialisasi penundaan anak pertama (PAP) kepada pasangan muda yang belum ideal untuk melahirkan dan punya anak," ucapnya.

Sementara, bagi pasangan muda yang terlanjur menikah dan sudah pernah memiliki anak pun dianjurkan untuk mengikuti program KB. Dengan demikian, tidak ada kata terlambat dalam upaya pengendalian pertumbuhan penduduk akibat pernikahan yang terlalu cepat.

Ketahanan keluarga



Selain itu, pengendalian pertumbuhan penduduk pun dianggap harus didukung dengan ketahanan keluarga. BKBPP pun memfokuskan diri untuk mengedukasi keluarga menengah ke bawah yang cenderung memiliki anak banyak.

Dikhawatirkan, minimnya pemahaman membina keluarga dapat menyebabkan pertumbuhan keluarga tidak terkontrol. Pasalnya, bertumbuhnya keluarga tidak dibarengi dengan kondisi yang tak berimbang untuk menjamin kelangsungan keluarga ke depannya.

"Program terus berjalan, meski saat ini terkendala jumlah petugas, penerimaan masyarakat, dan data spesifik untuk mendukung program," ucapnya.

Dorongan kerja



Selain pernikahan dini, meningkatnya migrasi juga memengaruhi jumlah penduduk Cianjur. Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Cianjur, Pujo Nugroho mengungkapkan, pertumbuhan penduduk di Cianjur sedikit banyak dipengaruhi oleh meningkatnya migrasi akibat meningkatnya kesempatan kerja.

"Makin banyaknya perusahaan yang berdiri, akhirnya mengundang masyarakat sekitar Cianjur untuk datang dan bekerja di sini. Mayoritas dari Bandung Barat dan Sukabumi," kata Pujo.

Sayangnya, dalam proses wawancara, dinas terkait tidak memberikan data spesifik terkait keluar masuknya penduduk di Cianjur. Melalui pernyataan mengenai pertumbuhan penduduk, pihak dinas hanya menyampaikan dua faktor penting yang mempengaruhi, yakni migrasi dan kelahiran akibat pernikahan dini.***

Bagikan: