Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 26.2 ° C

Perubahan Nama Ciamis Jadi Galuh Mulai Diproses

Nurhandoko
KOMISI 4 DPRD Kabupaten Ciamis menerima rombongan tokoh Persatuan Galuh Sadulur, bersama budayawan sunda, akademisi dan mahasiwa Universitas Galah Ciamis saat audiensi tentang penggantian nama Kabupaten Ciamis menjadi Galuh, Rabu, 3 Mei 2017. Apabila tidak ada kendala pemilihan pilkada mendatang menjadi pemilihan Bupati dan wakil Bupati Galuh.*
KOMISI 4 DPRD Kabupaten Ciamis menerima rombongan tokoh Persatuan Galuh Sadulur, bersama budayawan sunda, akademisi dan mahasiwa Universitas Galah Ciamis saat audiensi tentang penggantian nama Kabupaten Ciamis menjadi Galuh, Rabu, 3 Mei 2017. Apabila tidak ada kendala pemilihan pilkada mendatang menjadi pemilihan Bupati dan wakil Bupati Galuh.*

CIAMIS,(PR).- Keinginan masyarakat mengganti nama Kabupaten Ciamis menjadi Galuh bak gayung bersambut. DPRD Ciamis segera memproses perubahan nama tersebut.

Penggunaan nama Galuh merupakan hasil dengar pendapat antara tokoh Galuh, budayawan, akademisi, dan mahasiswa Universitas Galuh di Ruang Tumenggung Wiradikusuma  DPRD Ciamis, Rabu, 3 Mei 2017. Dengar pendapat itu dipimpin Ketua Komisi 4  Hendra Marcusi, didampingi Ketua DPRD Ciamis Nanang Permana.

Beberapa tokoh yang hadir yakni  pakar sejarah sunda Soebarna, sastrawan Godi  Suwarna, Hanif Radinal dari Kabuyutan Jambansari yang juga juru bicara Galuh Sadulur. Hadir pula budayawan Kawali Daday, Rektor Unigal Yat Rospia Brata, dan lainnya. 

Dalam petermuan tersebut, semua sepakat untuk mengganti nama Ciamis yang dinilai tidak jelas aspek argumentasi ilmiahnya. Penggantian nama tersebut  bakal membawa dampak psikologis, serta menerapkan ajaran soal kegaluhan yang  tata kelola kehidupan lebih baik.

"Kami dapat memahami sekaligus menghayati keinginan tersebut. Untuk itu proses penggantian tidak perlu ada pansus (Panitia khusus), sebaliknya langsung memerintahkan Komisi 4 menindaklanjuti dengan melakukan kajian ilmiah, berikut alasan kuat penggantian nama," tutur Nanang.

Alasan tidak melalui pansus, selain lebih efektif dan efisien, pembahasannya juga lebih cepat. Dengan pembahasan yang lebih cepat, lanjutnya, diharapkan pada saat pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018,  merupakan pemilihan kepala daerah Kabupaten Galuh.

"Ini akan terus diproses sampai nanti keluar rekomendasi DPRD Ciamis yang kemudian akan dimusyawarahkan dengan Pemerintah Daerah dan nanti akan diserahkan kepada pemerintah pusat," ungkapnya.

Nanang mengatakan, UU nomor 23 tahun 2014 memberi ruang perubahan nama wilayah cukup dilakukan dengan peraturan pemerintah (PP). Dengan demikian,  proses penyelesaiannya lebih cepat, dibanding melalui UU.

"Kami merekomendasikan ke pusat untuk pengubahan nama Ciamis menjadi Galuh. Secara yuridis membolehkan dan secara filosofis tidak memisahkan dengan kultur yang ada. Dukungan dari seluruh elemen masyarakat semakin meyakinkan untuk segera melakukan penggantian tersebut," ujarnya.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPRD Ciamis Hendra S Marcusi mengatakan, pertemuan tersebut merupakan langkah yang lebih serius untuk mengganti nama Ciamis menjadi Kabupaten Galuh.

"Tahapan akan ditempuh mulai dari sosialisasi, melakukan kajian-kajian dan hal lainnya. Kami sepenuhnya mendukung gagasan untuk mengembalikan nama menjadi Galuh. Tentunya tidak hanya sekadar ganti nama, akan tetapi juga diikuti dengan perubahan tata perilaku dan lebih memahami semangat kegaluhan,"  jelasnya.

Tak Bermuatan Politis



Godi mengungkapkan, sejak 1994 sudah menyuarakan untuk mengganti nama Ciamis menjadi Galuh. Akan tetapi dalam perjalannya mengalami pasang surut. Saat ini dia optimistis perjuangan penggantian nama akan berhasil.

"Sekarang sudah lebih kuat, semua pihak bersatu dan sepakat melakukan penggantian. Bahkan dukungan dari legisalatif cukup kuat.Saya optimistis akan menjadi Galuh," katanya.

Apabila keinginan tersebut tercapai, dia menyatakan akan meluapkan kegembiraannya dengan membaca pusi di Astana Gede Kawali. "Saya juga sepakat tidak hanya sekadar ganti nama, akan tetapi semangat kegaluhan juga harus ada di dalam sanubari," ujarnya.

Juru bicara Galuh Sadulur, Hanif Radinal  menegaskan, usualan penggantian nama Ciamis menjadi galuh, tidak bermuatan politis. Hal tersebut merupakan keinginan warga tatar Galuh untuk lebih menjiwai makna kegaluhan yang sarat dengan pesan yang tersirat maupun tersurat.

"Ini murni karena ingin mengmabilak kejayaan kegaluhan. Tidak ada motif politik. Untuk pilkada mendatang, kami mendukung calon yang mengusung semangat kegaluhan," katanya.***

Bagikan: